Kementerian LH Dorong Teknologi WTE di Kalsel, Solusi Sampah dan Energi Terbarukan
Kementerian Lingkungan Hidup mendorong penerapan Teknologi WTE Kalsel sebagai solusi penanganan sampah sekaligus sumber energi. Namun, tantangan volume sampah dan finansial menjadi perhatian utama.
Kementerian Lingkungan Hidup (LH) baru-baru ini menjelaskan potensi penanganan sampah menggunakan metode Waste to Energy (WTE) kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Pemprov Kalsel). Teknologi ini dinilai sebagai terobosan signifikan untuk mengatasi tumpukan sampah sekaligus menghasilkan energi listrik terbarukan. Pertemuan penting ini berlangsung di Jakarta pada Senin, 17 November.
Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) Kementerian LH, Hanifah Dwi Nirwana, menerima kunjungan kerja dari Biro Adpim dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalsel. Diskusi berfokus pada prospek implementasi WTE di wilayah Kalimantan Selatan. Metode ini diharapkan dapat memberikan solusi ganda bagi permasalahan lingkungan dan energi.
Hanifah Dwi Nirwana menyatakan bahwa Kalsel memiliki peluang besar untuk mengembangkan fasilitas WTE. Namun, ia juga menekankan bahwa penerapan teknologi ini memerlukan volume sampah yang sangat besar agar operasionalnya efisien dan berkelanjutan. Tantangan utama terletak pada ketersediaan volume sampah harian yang mencukupi.
Potensi dan Tantangan Implementasi WTE di Kalsel
Hanifah Dwi Nirwana menjelaskan bahwa Kalsel berpotensi mengembangkan fasilitas WTE yang tidak hanya mampu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga dapat menyumbang energi listrik terbarukan bagi daerah. Insinerasi modern menjadi teknologi utama dalam Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di berbagai negara maju yang mampu mengurangi volume sampah hingga 70–90 persen.
Namun, Hanifah mengingatkan bahwa penerapan teknologi WTE membutuhkan volume sampah yang besar untuk beroperasi efisien. "Idealnya 1.000-1.500 ton sampah per hari agar WTE ini dapat berkelanjutan," tutur Hanifah. Kalsel saat ini masih jauh dari target volume tersebut untuk menjalankan teknologi ini.
"Potensinya ada, tapi Kalsel masih jauh lagi menjalankan teknologi ini," tambah Hanifah. Ia menambahkan bahwa insinerasi modern telah memenuhi parameter keamanan lingkungan sesuai standar berkelanjutan dalam peraturan presiden. Teknologi ini juga telah diterapkan di berbagai negara maju sebagai solusi efektif.
Menurutnya, Kalsel memerlukan waktu serta persiapan matang untuk mengadopsi teknologi tersebut. Tantangan terbesar berada pada ketercukupan volume sampah harian. Selain itu, keterbatasan keuangan daerah juga menjadi pertimbangan penting dalam pengembangan fasilitas WTE.
Fokus Pemprov Kalsel pada Pengelolaan Sampah Hulu
Menanggapi hal itu, Kepala DLH Provinsi Kalsel, Rahmat Prapto Udoyo, mengakui bahwa daerahnya masih berada pada tahap awal pengembangan WTE. Selain belum terpenuhi kebutuhan volume sampah, ia menyebutkan keterbatasan keuangan daerah sebagai tantangan utama yang perlu diperhitungkan. Hal ini memerlukan pendekatan strategis yang berbeda dalam penanganan sampah.
Saat ini, Pemprov Kalsel memprioritaskan penanganan sampah dari hulu. Mereka mendorong pemilahan sampah mulai dari tingkat rumah tangga untuk mengurangi jumlah residu atau sampah akhir yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pendekatan ini diharapkan dapat menekan beban TPA secara signifikan.
"Fokus kami di hulu agar beban sampah yang masuk ke TPA bisa ditekan," ungkap Rahmat. Ia menyampaikan bahwa inisiatif ini juga didorong melalui penguatan Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS-3R) dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di berbagai wilayah. Upaya ini merupakan bagian dari strategi pengelolaan sampah berkelanjutan.
Pendekatan ini selaras dengan strategi pengelolaan sampah berkelanjutan, termasuk pengembangan infrastruktur pengolahan sampah berbasis reduce, reuse, recycle. "Kunjungan ini menjadi momentum bagi Pemprov Kalsel untuk memperkuat koordinasi dan mencari alternatif teknologi yang paling memungkinkan diterapkan dalam upaya jangka panjang mengatasi persoalan sampah," ujar Rahmat.
Sumber: AntaraNews