Jejak Persahabatan Prabowo-Raja Yordania, Dulu Sama-Sama Digembleng Jadi Pasukan Khusus di Militer AS
Prabowo dan Raja Abdullah II memang sudah bersahabat sejak lama.
Presiden Prabowo Subianto melawat ke Amman, Yordania pada Minggu, 13 April 2025. Kedatangan Prabowo disambut hangat Raja Yordania Abdullah II bin Al-Hussein.
Bahkan, pesawat yang membawa Prabowo mendapatkan pengawalan ketat dari dua pesawat tempur milik Angkatan Udara (AU) Yordania hingga mendarat dengan selamat.
Tidak hanya menyambut secara resmi, Raja Abdullah II juga secara pribadi mengantar Prabowo menuju hotel tempat bermalam di Kota Amman Yordania. Prabowo juga diundang dalam jamuan makan malam pribadi di kediaman Raja Abdullah II.
"Hal ini menandakan kedekatan personal kedua pemimpin negara juga memperlihatkan hubungan hangat antara kedua pemimpin yang memang sudah terjalin sejak beberapa tahun yang lalu," ujar Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Yusuf Permana, Senin (14/4).
Sama-Sama Lulusan Pendidikan Militer AS
Prabowo dan Raja Abdullah II memang sudah bersahabat sejak lama. Persahabatan keduanya mulai terjalin saat sama-sama mengikuti pendidikan militer di Fort Benning, Amerika Serikat pada tahun 1980-an.
Fort Benning merupakan lembaga pendidikan militer AS yang dikenal menggembleng pasukan khusus. Saat itu, Prabowo adalah perwira muda dari Indonesia, sementara Raja Abdullah II adalah pangeran militer dari Yordania.
Dalam wawancara tahun 2019, dikutip dari Liputan6, Prabowo menyebut hubungan mereka tumbuh secara natural melalui kedekatan dalam latihan dan nilai-nilai militer yang sama-sama mereka anut, seperti kedisiplinan, keberanian, dan loyalitas terhadap negara.
“Raja Abdullah II adalah seorang prajurit sejati, seorang teman yang saya hormati sejak muda,” kata Prabowo.
Setelah itu, keduanya bertemu lagi pada 1995. Saat itu, Raja Abdullah II berada di Jakarta untuk menemui Menteri Riset dan Teknologi, BJ Habibie.
Namun, pertemuan itu batal dilakukan. Raja Abdullah II kemudian dijadwalkan bertemu Panglima ABRI, Feisal Tanjung. Lagi-lagi pertemuan itu batal terjadi karena Feisal Tanjung berada di Turki.
Kala itu, Raja Abdullah II menjabat Komandan Pasukan Khusus Yordania. Karena batal bertemu BJ Habibie dan Feisal Tanjung, staf Kedutaan Besar Yordania mengajak Raja Abdullah II untuk menyaksikan pelantikan Prabowo sebagai Komandan Kopassus.
Prabowo Tinggal di Yordania
Prabowo dan Raja Abdullah II kembali bertemu pascakerusuhan Mei 1998. Saat itu, Prabowo meninggalkan Indonesia untuk tinggal di Yordania.
Prabowo sempat ingin kembali ke Indonesia di akhir tahun yang sama, namun atas larangan para koleganya, keinginan itu dibatalkan. Cerita ini diungkapkan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon.
Fadli berkisah, Prabowo hijrah ke Yordania pada bulan September 1998 untuk menghindari fitnah yang begitu kencang di dalam negeri.
"Inilah hijrah Prabowo, semua atas pengetahuan Presiden Habibie," ucap Fadli.
Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj menambahkan, persahabatan Prabowo dan Raja Abdullah II terbangun saat sama-sama menempuh pendidikan di universitas AS.
"Mereka bersama-sama semenjak di universitas di AS terus sampai menjalin hubungan sahabat," terang Said Aqil.
Misi Prabowo ke Yordania
Kunjungan Prabowo ke Yordania bertepatan dengan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) bertajuk ‘Call for Action: Urgent Humanitarian Response for Gaza’, yang diselenggarakan atas inisiatif Raja Abdullah II.
Dalam forum tersebut, Prabowo tampil sebagai satu-satunya kepala negara dari Asia yang hadir langsung, menegaskan posisi Indonesia dalam isu Palestina.
Dalam sesi bilateral, Prabowo dan Raja Abdullah II membahas berbagai langkah konkret untuk membantu rakyat Gaza, termasuk kemungkinan pengiriman bantuan kemanusiaan lewat jalur udara serta dukungan terhadap rumah sakit lapangan.
“Raja Abdullah dan saya memiliki keprihatinan yang sama terhadap situasi di Gaza. Kami sepakat bahwa upaya kemanusiaan harus diprioritaskan tanpa ditunda,” ujar Prabowo dalam konferensi pers usai pertemuan.
Hubungan pribadi antara Prabowo dan Raja Abdullah II tidak hanya menjadi cerita persahabatan, tetapi juga aset diplomatik yang berharga. Di tengah dinamika Timur Tengah dan tantangan global, kedekatan ini membuka jalur komunikasi yang lebih efektif dan penuh kepercayaan.
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Gadjah Mada, Alfitra Salam menilai, relasi semacam ini akan memudahkan Indonesia memainkan peran aktif dalam perdamaian kawasan.
“Soft diplomacy yang dibangun atas dasar hubungan personal memiliki dampak strategis jangka panjang,” ujarnya.