Guru Perbatasan Tuti Susanti Lestarikan Kerajinan Bidai Dayak di Tengah Keterbatasan
Tuti Susanti, guru perbatasan di Bengkayang, Kalimantan Barat, gigih melestarikan Kerajinan Bidai Dayak, warisan budaya yang kian langka. Di sela mengajar, ia menganyam rotan demi menjaga tradisi dan menopang ekonomi. Kisah inspiratifnya.
Di Dusun Preges, Desa Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, seorang guru bernama Tuti Susanti (34) menunjukkan dedikasi ganda yang luar biasa. Setiap hari, ia mengabdikan diri sebagai pendidik di SD Negeri 15 Malayang, menempuh perjalanan satu jam dengan sepeda motor untuk mencerdaskan anak bangsa. Namun, di luar jam sekolah, jemarinya cekatan menganyam helai demi helai rotan, menciptakan bidai, kerajinan khas Dayak yang kaya makna budaya.
Kisah Tuti Susanti bukan hanya tentang seorang guru, melainkan juga tentang penjaga tradisi di tengah gempuran modernisasi dan tantangan ekonomi. Ia adalah salah satu dari sedikit perajin yang tersisa di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia, berjuang mempertahankan seni anyaman rotan yang telah diwariskan turun-temurun oleh keluarganya. Bidai, yang dulunya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Dayak, kini semakin jarang ditemukan.
Melalui kegigihannya, Tuti tidak hanya menghasilkan karya seni yang indah, tetapi juga berupaya menjaga agar identitas budaya masyarakat perbatasan tetap hidup. Aktivitas menganyam bidai ini juga menjadi penopang ekonomi keluarga, menunjukkan bagaimana tradisi dapat beradaptasi dan memberikan manfaat nyata di era digital.
Warisan Budaya dan Perjuangan Melestarikan Kerajinan Bidai Dayak
Tuti Susanti telah mengenal seni menganyam bidai sejak kelas enam sekolah dasar, sebuah keterampilan yang ia pelajari dari kedua orang tuanya yang juga perajin bidai. Masa kecilnya dihabiskan untuk memperhatikan dan membantu orang tua menganyam, sehingga ia menguasai berbagai motif, cara memilih rotan berkualitas, dan teknik menyusun anyaman yang rumit. Keterampilan ini tidak mudah dikuasai, sebab setiap motif memiliki tingkat kesulitan tersendiri yang memerlukan ketekunan dan kesabaran tinggi.
Dahulu, hampir setiap rumah di kampungnya membuat bidai, namun kini jumlah perajin semakin berkurang drastis. Banyak warga beralih ke sektor perkebunan kelapa sawit yang dianggap lebih praktis dan menjanjikan pendapatan pasti. Kondisi ini menyebabkan hanya tersisa sekitar tiga hingga empat rumah tangga yang masih aktif membuat bidai di kampung Tuti.
Aktivitas menganyam bidai Tuti sempat terhenti saat ia menempuh pendidikan tinggi di Salatiga, Jawa Tengah, dari tahun 2012 hingga 2016. Namun, setelah kembali ke kampung halaman dan menikah pada tahun 2018, kerinduan untuk menghidupkan kembali usaha keluarga muncul. Bersama sang suami yang juga seorang guru dan memiliki keterampilan menganyam, Tuti kembali memproduksi bidai, meneruskan warisan orang tuanya yang kini sudah tidak lagi menganyam.
Bagi pasangan guru ini, membuat bidai bukan sekadar pekerjaan sampingan, melainkan juga upaya menjaga tradisi dan identitas budaya. Hasil penjualan bidai memberikan nilai tambah bagi keluarga, membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari di sela menunggu gaji bulanan sebagai guru. Pendapatan dari bidai digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari biaya bahan bakar, membeli sayuran, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
Inovasi Pemasaran dan Tantangan Produksi Kerajinan Bidai
Seiring perkembangan teknologi, Tuti Susanti tidak lagi mengandalkan pasar perbatasan seperti dulu yang lebih banyak menarik pembeli dari Malaysia. Kini, ia memanfaatkan media sosial seperti Facebook, WhatsApp, dan Messenger untuk memasarkan hasil anyamannya, menjangkau pembeli dari berbagai daerah di Indonesia. Pesanan bidai datang dari Bengkayang, Singkawang, Pontianak, Ngabang, hingga Sekadau, menunjukkan efektivitas strategi pemasaran digitalnya.
Tingginya permintaan seringkali membuat Tuti dan suaminya kewalahan, sebab proses pembuatan bidai cukup panjang dan rumit. Rotan harus dipilih, dibersihkan, sebagian diolah menjadi warna hitam alami melalui perebusan daun kayu selama dua hingga tiga hari, lalu dikeringkan, disortir, dan dianyam dengan ketelitian tinggi. Dalam satu bulan, mereka rata-rata hanya mampu menghasilkan enam hingga delapan lembar bidai berukuran 4 x 4 meter.
Harga satu lembar bidai bermotif saat ini sekitar Rp1,4 juta, namun harga bervariasi tergantung ukuran dan kerumitan motif. Tantangan lain adalah kenaikan biaya bahan baku; rotan didatangkan dari Kalimantan Tengah dengan harga sekitar Rp50 ribu per kilogram, dan satu lembar bidai membutuhkan delapan hingga sepuluh kilogram rotan. Selain itu, tali tumbaran yang digunakan sebagai pengikat anyaman juga semakin mahal dan sulit diperoleh.
Peran BRILink dan Harapan untuk Masa Depan Kerajinan Bidai Dayak
Untuk mengatasi kendala transaksi pembelian bahan baku, Tuti Susanti memanfaatkan layanan BRILink yang tersedia di wilayahnya. Layanan ini memungkinkan ia mengirim uang kepada pemasok rotan dan tali dengan mudah, tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke pusat layanan perbankan. Kemudahan akses layanan keuangan ini sangat membantu kelancaran produksi dan keberlangsungan usaha kecil yang dijalankannya bersama suami.
Meskipun permintaan bidai terus meningkat, jumlah perajin di kampung Tuti justru semakin berkurang, dengan hanya tersisa beberapa rumah tangga yang bertahan. Padahal, bidai dikenal kuat, awet, mudah dibersihkan, dan mampu bertahan puluhan tahun, menjadikannya produk dengan nilai guna tinggi. Tuti berharap keterampilan membuat bidai ini tidak berhenti pada generasinya, dan suatu saat nanti anak-anaknya juga akan mengenal serta mencintai kerajinan khas daerah mereka.
Bagi Tuti, setiap anyaman rotan bukan sekadar produk untuk dijual, melainkan juga representasi cerita keluarga, ketekunan, identitas budaya, dan perjuangan masyarakat perbatasan. Ini adalah upaya menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perubahan zaman dan tantangan modern. Ia ingin memastikan bahwa nilai-nilai dan tradisi yang terkandung dalam bidai terus lestari.
Nilai Guna dan Upaya Pelestarian Kerajinan Bidai Dayak
Suandi, Kepala Sekolah SDN 11 Saparan Jagoi Babang dan pelanggan setia kerajinan bidai Tuti Susanti, menegaskan bahwa anyaman tradisional ini masih memiliki nilai guna yang tinggi di tengah maraknya produk modern. Bidai tidak hanya berfungsi sebagai alas atau tikar untuk menerima tamu, tetapi juga menjadi bagian dari berbagai aktivitas masyarakat sehari-hari, termasuk untuk menjemur padi dan lada, komoditas andalan Kalimantan Barat.
Menurut Suandi, keberadaan bidai sebagai warisan budaya leluhur harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. Kemampuan menganyam bidai memerlukan keterampilan, ketelitian, serta pengalaman yang diwariskan secara turun-temurun, sehingga tidak dapat dipelajari secara instan. Ia menekankan pentingnya melestarikan tradisi ini dan mewariskannya kepada generasi muda.
Untuk mendukung keberlanjutan usaha perajin, Suandi berharap pemerintah memberikan perhatian lebih melalui bantuan permodalan, program UMKM, dan akses pinjaman bunga ringan. Selain itu, diperlukan kerja sama berbagai pihak untuk memperluas pemasaran hingga tingkat nasional dan internasional, serta promosi yang lebih luas untuk meningkatkan permintaan produk bidai.
Tantangan lain yang disoroti adalah terbatasnya ketersediaan bahan baku. Suandi mendorong upaya pelestarian lingkungan melalui penanaman kembali tanaman rotan, menggalakkan program "satu orang satu pohon" untuk memastikan pasokan bahan baku yang berkelanjutan. Ia juga mengapresiasi kualitas dan keunikan motif bidai lokal yang tidak ditemukan pada produk pabrikan, yang menjadi alasan utamanya terus memilih produk anyaman ini sejak 2017.
Sumber: AntaraNews