Genus dan Spesies Baru Mikroalga dari Laut Indonesia
Tim berhasil mengidentifikasi dua genus baru dan lima spesies baru mikroalga dari famili Catenulaceae di Pulau Bawean dan Teluk Tomini.
Tim Peneliti Universitas Brawijaya (UB) mengidentifikasi Genus (Marga) dan Spesies Baru mikroalga dari laut Indonesia. Tim berhasil mengidentifikasi dua genus baru dan lima spesies baru mikroalga dari famili Catenulaceae di Pulau Bawean dan Teluk Tomini, Sulawesi Tengah. Dua genus baru yang ditemukan adalah Paracatenula dan Wallaceago.
Paracatenula porostriata ditemukan di Gili Iyang, Pulau Bawean dengan ciri khas cangkangnya punya struktur melingkar dengan lubang-lubang kecil dan bentuk katupnya pipih, seperti atas dan bawah yang berbeda.
Sementara Wallaceago porostriatus ditemukan di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah. Wallaceago porostriatus memiliki keunikan yakni bentuk katupnya yang setengah menyerupai belah ketupat, dengan garis-garis halus hanya terlihat di bagian bawahnya.
Nama Wallaceago sendiri diberikan sebagai penghormatan untuk Alfred Russel Wallace, tokoh penting dalam sejarah biogeografi di Indonesia.
Para peneliti juga menemukan lima spesies baru dari kelompok Catenula, yaitu Catenula boyanensis, Catenula komodensis, Catenula decusa, Catenula densestriata, dan Catenulopsis baweana. Kelima spesies ini masing-masing punya ciri khas, mulai dari pola garis-garis di permukaan cangkangnya, bentuk katup yang beragam, sampai hiasan-hiasan kecil dari zat keras mirip pasir (yang disebut silika) yang membuat setiap spesies terlihat unik.
Penjelasan Peneliti
Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Oktiyas Muzaky Luthfi mengatakan, penemuan tersebut memiliki nilai penting tidak hanya dari segi taksonomi, tetapi juga sebagai dasar bagi pemantauan lingkungan laut, ekologi perairan tropis, dan kajian paleoekologi, yang sekaligus menunjukkan kekayaan biodiversitas laut Indonesia.
“Ini membuktikan bahwa laut Indonesia menyimpan banyak kehidupan mikroskopik yang belum kita pahami sepenuhnya,” kata Oktiyas Muzaky Luthfi dalam keterangannya, Selasa (6/5).
Oktiyas menyampaikan penemuan ini sudah dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi.
Oktiyas menambahkan, studi ekologi dan taksonomi mikroalga dapat menghasilkan lebih banyak publikasi ilmiah yang bereputasi, serta membuka peluang kontribusi besar dalam dunia akademik dan lingkungan yang dapat memperkuat kontribusi UB dalam bidang kelautan dan ilmu hayati global.
“UB punya potensi besar untuk menjadi pusat penelitian mikroorganisme laut. Kami sebagai dosen juga berkomitmen untuk terus menerbitkan temuan spesies baru. Sebuah langkah yang tidak hanya membanggakan secara ilmiah, tetapi juga membawa nama UB ke kancah internasional,” ujar dia.
Oktiyas mengajak para mahasiswa untuk tidak takut memulai riset di bidang-bidang yang belum banyak disentuh, seperti mikroalga.
“Sering kali mahasiswa bingung mencari judul skripsi, merasa mentok, padahal sumber ide ada di sekitar kita. Dengan kekayaan biodiversitas seperti ini, seharusnya tidak ada alasan untuk kehabisan ide,” ujarnya.
Kata Oktiyas, penelitian tersebut merupakan hasil kerja sama UB dengan Universitas Szczecin, Polandia, serta melibatkan berbagai institusi mitra.
Penelitian tersebut menggunakan teknik analisis morfologi berbasis mikroskop cahaya dan mikroskop elektron pemindai (SEM), para peneliti menelusuri keragaman diatom dari sedimen dan pecahan karang mati di lingkungan laut tropis dangkal.