Fungsional Selama Mudik, Tol Prambanan–Purwomartani Siap Permudah Perjalanan Pemudik
Beberapa jalur gardu masih tertutup deretan road barrier merah. Setelah melintasi gerbang, bentangan beton pucat memanjang lurus ke depan.
Gerbang Tol Purwomartani di Daerah Istimewa Yogyakarta kini menyambut pengendara dengan deretan gardu berwarna biru yang tertata rapi di bawah atap baja hitam. Nama gerbang tol tersebut terpampang jelas, lengkap dengan aksara Jawa, menandai identitas wilayah sekaligus menjadi pintu masuk strategis bagi arus lalu lintas menuju dan dari Yogyakarta.
Beberapa jalur gardu masih tertutup deretan road barrier merah. Setelah melintasi gerbang, bentangan beton pucat memanjang lurus ke depan.
Namun permukaan jalan belum sepenuhnya seragam. Pada sejumlah segmen, warna lapisan beton tampak berbeda. Marka jalur juga belum seluruhnya terpasang.
Di beberapa titik, kendaraan yang melintas harus melewati sambungan jembatan atau expansion joint. Sebagian sambungan terasa sedikit menonjol dari permukaan jalan. Pada bagian lain, badan jalan belum sepenuhnya rata seperti ruas tol yang telah lama beroperasi.
Aktivitas proyek
Aktivitas proyek juga belum sepenuhnya berhenti. Di sisi jalan, beberapa pekerja berompi oranye terlihat merapikan pagar pengaman di tepi jalur. Sejumlah alat berat masih terparkir di pinggir ruas tol.
Di sebelah kiri jalan, hamparan persawahan membentang di antara pepohonan dan jalan tanah yang membelah petak-petak lahan. Sebagian sawah berwarna hijau oleh tanaman padi muda, sebagian lain cokelat.
Tak jauh dari badan tol, beberapa rumah penduduk berdiri di balik pagar beton. Atap-atap genteng merah muncul di antara pepohonan. Dari kejauhan, siluet Gunung Merapi tampak menjulang samar di balik lapisan awan tipis.
Tenaga Ahli Utama Bidang Umum Humas dan Administrasi BUJT Jasa Marga Jogja–Solo, Ahmad Izzi, berdiri di dekat gerbang tol itu, Jumat, 13 Maret 2026. Dia menunjuk aksara Jawa yang terpasang di atas gerbang.
"Kalau ada yang bertanya kenapa di gerbang ini ada aksara Jawa, ya karena ini sudah masuk wilayah Jogja,” ujar dia di lokasi, Jumat (13/3).
Struktur Jalan Tol
Menurut Izzi, secara struktur jalan tol tersebut sebenarnya sudah layak dilalui kendaraan. Namun sejumlah fasilitas pendukung masih bersifat sementara.
"Secara fisik, secara struktur sudah boleh dilalui. Tapi sarana pelengkap seperti pagar pengaman dan rambu masih banyak yang temporer," ujar dia.
Dia menjelaskan konstruksi ruas ini menggunakan sistem rigid pavement atau perkerasan kaku berbahan beton. Berbeda dengan jalan berlapis aspal yang lebih lentur.
"Rigid pavement itu perkerasan kaku dari beton. Kalau yang aspal disebut flexible pavement karena sifatnya lebih lentur," kata Izzi.
Beberapa bagian yang masih terasa menonjol, seperti sambungan jalan, nantinya akan dirapikan. Sambungan itu akan ditutup sehingga permukaan jalan menjadi lebih rata. Selama masa pengoperasian sementara, kecepatan kendaraan dibatasi.
"Nanti sambungan-sambungan itu tidak ada lagi, sudah ditutup semua. Makanya kecepatan dibatasi," ujarnya.
Mudik Lebaran
Menjelang masa mudik Lebaran, aktivitas proyek di sepanjang ruas tol itu juga akan dihentikan sementara. Seluruh alat kerja akan ditarik keluar dari area jalur yang dibuka.
“Semua perlengkapan kerja ditarik keluar lokasi fungsional, termasuk material seperti pasir yang masih ada,” ujarnya.
PT Jasa Marga Jogja–Solo berencana mengoperasikan ruas tol Prambanan–Purwomartani sepanjang 11,225 kilometer secara fungsional selama masa libur Lebaran 2026.
Pengoperasian fungsional berarti jalan tol sudah dapat dilalui kendaraan, tetapi belum seluruh fasilitas pendukungnya tersedia secara permanen.
Pengoperasian fungsional dijadwalkan berlangsung mulai 16 hingga 29 Maret 2026. Selama periode tersebut, jalan tol hanya dibuka dari pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.
Pengoperasiannya juga bersifat situasional. Jika kondisi lalu lintas terlalu padat atau cuaca tidak memungkinkan, jalur tersebut dapat ditutup sementara.
Selama masa fungsional, pengguna jalan tidak dikenakan tarif alias gratis. Jalur ini hanya diperuntukkan bagi kendaraan Golongan I atau kendaraan kecil nonbus.
Selain itu, jalur tersebut hanya melayani kendaraan yang meninggalkan Yogyakarta menuju arah Solo.
Pembatasan ini berkaitan dengan kondisi simpang sebidang antara exit tol Purwomartani dan jalan nasional yang belum sepenuhnya siap digunakan. Sebagian lahan di kawasan itu masih dalam proses pembebasan.
“Kalau dipaksakan untuk kendaraan yang masuk Jogja, dikhawatirkan akan terjadi kepadatan di simpang sebidang itu,” ujar Izzi.
Menurut dia, ruas tol tersebut diperkirakan mampu melayani hingga sekitar 17 ribu kendaraan per hari selama masa libur Lebaran.
Operator jalan tol juga menyiapkan tambahan petugas, kendaraan patroli, serta derek untuk mengantisipasi lonjakan arus kendaraan.
Dengan memanfaatkan tol tersebut, waktu perjalanan dari Prambanan menuju Purwomartani dapat dipangkas hingga separuhnya. Jika melalui jalan nasional biasanya sekitar 30 menit, lewat tol hanya sekitar 15 menit.
Di ruas jalan nasional itu terdapat tiga titik hambatan utama simpang sebidang Prambanan, kawasan Bogem di sekitar Candi Prambanan, serta daerah LPMP Purwomartani yang dipenuhi jalan lingkungan.
Kemacetan
Melalui jalur tol, kendaraan dapat melewati ketiga titik tersebut tanpa harus terjebak kemacetan.
Untuk mengantisipasi lonjakan arus kendaraan, operator tol menyiapkan tambahan petugas, kendaraan patroli, serta derek. Pengaturan lalu lintas juga dilakukan dengan sistem peralihan jalur di beberapa titik karena belum seluruh jalur siap digunakan.
Selama periode tersebut, hanya satu jalur yang dioperasikan dengan beberapa titik pengalihan.
Izzi mengimbau pengguna jalan tetap berhati-hati ketika melintasi ruas tol tersebut. Karena sebagian fasilitas pendukung masih bersifat sementara, kecepatan kendaraan dibatasi maksimal 40 kilometer per jam.
Pengoperasian ruas tol Prambanan-Purwomartani secara fungsional ini diharapkan membantu mengurai kepadatan arus kendaraan menuju maupun meninggalkan Yogyakarta selama masa libur Lebaran.