Empat Hari Menanti di Tengah Longsor Cisarua, Nani Larut dalam Duka
Makannya tak enak, tidurnya tak pulas. Sudah dua hari terakhir ia bolak-balik dari posko pengungsian.
Empat hari pasca-insiden longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), operasi pencarian dan pertolongan (SAR) masih terus berlangsung. Di tengah upaya tanpa henti para petugas sejak Sabtu (24/1), kecemasan mendalam menyelimuti benak Nani Widia yang tak henti menanti kabar orang terkasih.
Makannya tak enak, tidurnya tak pulas. Sudah dua hari terakhir ia bolak-balik dari posko pengungsian di kantor Desa Pasirlangu ke lokasi pencarian, dengan harapan ibu, adik-adik, ipar dan sejumlah keponakannya berhasil ditemukan tim pencarian di balik timbunan lumpur.
Di depan hamparan material longsor sepanjang 2.009 meter itu, Nani duduk termangu. Tak banyak yang bisa dia lakukan, selain berdoa di tengah getir untuk penemuan keluarganya.
Perasaan yang Remuk
Kepada merdeka.com, wanita usia 55 itu mengisahkan betapa remuk perasaan saat insiden longsor turut mengubur rumah keluarganya di kawasan lereng Gunung Burangrang itu. Kabar duka datang tanpa ia sangka.
Pasalnya, beberapa jam sebelum kejadian, ia dan keluarganya masih bersama-sama berangkat ke Kampung Barunyatu untuk acara tahlilan pamannya. Acara itu berlangsung pada Jumat sore pukul 17.00 WIB. Usai gelaran doa tersebut, ibu, adik-adik, serta ipar dan keponakannya kembali ke rumah yang mereka huni bersama di kampung Pasir Kuning.
Adapun Nani dan suaminya, tinggal menginap di kediaman almarhum. Namun, saat pulang rumah mereka telah tertimbun tanah.
Anak dan Menantu
Tak hanya itu, rupanya kediaman terpisah yang dihuni anak dan mantu Nani turut diterjang longsor. Tangisnya seketika pecah dalam kepanikan. Ia pun sempat mencoba mencari-cari anggota keluarganya. Namun, hasilnya nihil.
"Pas saya turun ke sini nyari ibu saya, kirain bisa eh enggak tahunya susah. Terus naik lagi ke atas ke anak, sama sudah karam,” kata dia.
Nani mengaku, sebagian keluarganya memang sudah berhasil ditemukan. Anak, menantu, dan cucunya lebih dulu dievakuasi pada hari pertama pencarian dan langsung dimakamkan di Kampung Barunyatu.
Namun duka itu tak lantas usai. Selepas mengurus pemakaman, hatinya kembali tertambat di lokasi longsor. Ia memilih bertahan, menunggu kabar orang tua dan anggota keluarga lain yang hingga kini masih tertimbun.
“Dari kemarin, soalnya hari kedua kan mengurus pemakaman anak dan cucu saya. Kan saya fokusnya kalau sudah ketemu anak cucu dan menantu, saya fokus nunggu keluarga orang tua,” lirih dia.
Rumahnya Lenyap
Rumah yang selama ini menjadi tempat pulang pun lenyap tanpa sisa. Di lokasi yang ditunjuknya, tak terlihat lagi bangunan, hanya hamparan tanah dan lumpur cokelat.
"Itu lihat, tinggal tanah," katanya singkat.
Tak ada pula barang berharga yang bisa diselamatkan. Semua tertimbun bersama kenangan hidup bertahun-tahun
"Enggak ada, enggak punya barang berharga," ujarnya.
Di tengah penantian, ingatan Nani kerap melayang. Bayangan anak dan cucu yang telah dimakamkan seolah terus hadir di pelupuk mata, menjadikan malam-malamnya kian panjang.
"Saya itu kebayang-bayang yang sudah dimakamkan, seolah terus kelihatan," tuturnya.
Momen terakhir kebersamaan dengan keluarga masih terpatri jelas di kepalanya. Tahlilan paman pada Jumat sore itu dipenuhi canda dan tawa. Tak ada percakapan khusus, tak ada pesan perpisahan. Hanya obrolan ringan seputar acara doa untuk almarhum pamannya.
"Ya pas tahlilan paman, bercanda-canda, ketawa-ketawa. Enggak ada obrolan apa-apa, cuma soal tahlilan aja," kata Nani.
Buruh Kebun
Dalam keseharian, Nani bekerja sebagai buruh kebun, menggarap lahan milik orang lain dengan upah Rp40 ribu per hari. Pekerjaan itu telah ia lakoni sejak menikah. Suaminya pun bekerja sebagai buruh kebun. Saat longsor terjadi, keduanya sedang bersama sehingga selamat dari bencana.
Kini, ia dan suaminya sementara tinggal di puskesmas desa. Namun pikirannya tetap membawanya di lokasi longsor, menunggu satu hal yang paling ia harapkan.
"Ya ingin ketemu saja, karena saya udah enggak kuat gitulah, makan enggak enak, tidur enggak nyenyak. Saya nunggu di sini sambil doa, kan namanya ikhtiar," katanya.