Duka Mendalam Seniman, Politisi Hingga Masyarakat Lepas Kepergian Ki Anom Suroto
Dari kalangan seniman, ucapan belasungkawa datang dari pelawak senior Muhammad Syakirun alias Kirun.
Kepergian dalang kondang KRTH Anom Suroto meninggalkan duka mendalam bagi berbagai kalangan. Tidak hanya keluarga dan kerabat dekat, rasa kehilangan juga dirasakan oleh para seniman, tokoh masyarakat, pimpinan daerah, hingga politisi di wilayah Solo Raya.
Dari kalangan seniman, ucapan belasungkawa datang dari pelawak senior Muhammad Syakirun alias Kirun. Pelawak asal Ngawi Jawa Timur tiba di rumah duka sejak pagi saat jenazah Anom Suroto tiba dari RS Dr. Oen Kandangaapi, Solo.
Kirun memang dikenal memiliki kedekatan dengan almarhum dan keluarga sejak sebelum terkenal seperti sekarang. Ia sering diajak mentas Anom Suroto di sejumlah lokasi. Ia juga tak pernah absen saat ada pagelaran wayang kulit setiap Rabu Legi di Kebon Seni Timasan, Kartasura.
Saat tiba di regol (pintu pagar utama) rumah duka wajah Kirun nampak sembab. Ia bahkan terus menangis saat menuju ke Pendopo Kebon Seni Timasan, tempat jenazah disemayamkan. Tangis yang lebih keras pecah melihat jenazah almarhum di dalam peti.
"Pak Anom itu tidak bisa dilihat dengan mata, tak bisa ditulis dengan tinta, bisanya ditulis dengan seni budaya. Beliau seperti sumur, artinya banyak orang menimba air dari sumur itu," ucap Kirun.
Duka mendalam juga disampaikan aktor dan pelawak yang sedang naik daun Erik Estrada. Ia mengaku cukup dekat dengan almarhum setahun belakangan. Ia mengucapkan terima kasih karena setahun ini sudah dianggap sebagai anak angkat.
Kata Erik, dari situlah ia bisa memahami keinginan-keinginan Anom Suroto yang mendorong seniman lokal di Solo bisa berkibrah di jenjang yang lebih tinggi.
Dikatakan Erik, ada keinginan dari Anom Suroto untuk membuat film tentang pedalangan. Saat ini, lanjut dia, tengah dalam tahap pengerjaan bersama Bayu Aji Pamungkas.
"Pak Anom ingin membikin sebuah film tentang kultur dalang. Kemarin kami sudah mencoba dengan Mas Bayu Aji sebagai sutradara dan sebagai produsernya. Semoga bisa terealisasi dan tahun depan bisa segera kita launching," katanya.
Duka mendalam juga disampaikan anggota DPR RI F-PKN asal Sukoharjo, Muhammad Toha. Sosok Anom Suroto juga meninggalkan memori kuat bagi kalangan politisi. Pribadinya yang sangat menjunjung tinggi seni budaya itu menjadi hal yang tidak mudah dilupakan oleh para koleganya.
"Beliau adalah orang yang baik, akhlaknya baik. Beliau juga sangat bijaksana, ketika wayang mau dibubarkan, dalang lain emosi, beliau hanya mengatakan bahkan kita harus bertindak secara bijak. Dia selalu memaafkan orang," ucapnya.
Politisi PDIP yang juga mantan Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo mengaku terkenang dengan Anom Suroto di Balai Kota, saat dirinya masih menjabat.
Menurut Rudy, sosok Anom Suroto dinilainya bisa menyatukan seluruh seniman pedalangan dan para pengerawit yang diperhitungkan dalam seni budaya.
"Semua tidak akan lupa dengan karya Ki Anom Suroto. Saya merasa sangat kehilangan tokoh dengan prestasi sangat luar biasa," pungkas Rudyatmo.
Jenazah ki Anom Suroto yang meninggal dunia Kamis (23/10) pukul 7.00 pagi diberangkatkan dari rumah duka Kebon Seni Timasan, Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo pukul 15.30. Jenazah almarhum dikebumikan di pemakaman keluarga Depokan, Juwiring, Klaten.