Duduk Perkara Temuan Daging Ayam Mentah di Menu MBG SD Sumbar Timur, Sekolah Tegaskan Tak Merekayasa
Kepala SD Inpres Waingapu 3, Hamuli Ngguna Manggil membantah insiden itu direkayasa. Dia pastikan sekolahnya sangat mendukung MBG.
Pembagian menu makanan bergizi gratis (MBG) di Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu (19/2) mendadak ramai diperbincangkan. Penyebabnya, seorang siswi mendapati daging di boks makanannya masih mentah.
Siswi kelas VI berinisial RNTL itu kemudian memberikan keterangan kepada media setelah diizinkan oleh Kepala SDI Waingapu 3, Hamuli Ngguna Manggil didampingi Wakil Kepala Sekolah, Getrudis RA. Puru.
Siswi RNTL menceritakan, sebelum dibagikan kotak makanan bergizi gratis, dia sempat membeli nasi bungkus di kantin sekolah dengan lauk telur dan mie. Setelah membeli, RNTL kembali ke kelasnya dan menikmati jajanan tersebut.
Saat sedang menikmati jajanan itu, wali kelasnya bernama Emirenciana Mite masuk dan membagikan makanan sehat yang sudah disiapkan oleh Tim Badan Gizi Sumba Timur, sehingga para pelajar sangat antusias mengambilnya.
Siswi RNTL sedang menikmati jajanan yang dibeli, sehingga belum menyentuh kotak makanan sehat yang telah didapatkannya. Sedangkan teman-temannya sudah memakan makanan sehat itu.
Tak lama berselang, RNTL mendengar salah satu temannya berteriak bahwa daging mentah, dan memintanya untuk memeriksa kondisi daging di dalam kotak makanan sehat miliknya.
Saat dibuka, di dalam isi kotak makanan sehat tersebut terdapat nasi, sayuran, dan sepotong daging ayam, serta buah pisang.
Kemudian RNTL mengecek daging ayam tersebut. Dari tampilan luar terlihat wajar namun setelah dicek bagian dalamnya masih merah dan ada darahnya alias mentah sehingga tidak bisa dikonsumsi.
Temannya juga mendapatkan lauk daging ayam yang sama, namun tidak peduli dan tetap menikmati sampai habis. Temuan itu membuat RNTL batal menikmati makanan sehat itu, dan memilih melaporkan ke wali kelasnya, sehingga langsung melaporkannya kepada kepala sekolah agar mengetahui kondisi tersebut.
Wali Kelas VI A, Emirenciana Mite mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, pembagian kotak makanan sehat tersebut saat istirahat pertama, dan sebagian besar pelajar sudah beli jajanan di kantin.
Saat itu, ada panggilan dari kantor untuk membagikan jatah makanan sehat, sehingga Emirenciana dibantu beberapa pelajar pergi mengambil jatah makanan sehat untuk semua pelajar di kelasnya.
Sampai di kelas, dia meminta semua pelajar duduk di tempat masing-masing lalu membagikan kotak makanan sehat satu per-satu kepada semua pelajar di dalam kelas tersebut.
Sebelum makan, Emerenciana meminta agar para pelajar memeriksa kondisi nasi dan lauk di dalam kotak makanan, dengan maksud jika ada kekurangan dapat melaporkan kepada guru dan pihak sekolah.
"Usai membagikan makanan sehat kepada para pelajar, saya langsung izin ke toilet. Tak lama berselang, dua orang murid datang memberitahukannya bahwa ada yang mendapatkan lauk daging mentah dan masih ada darahnya," ujarnya.
"Saya dapat kabar pelajar di kelasnya mendapat lauk daging mentah, sehingga saya langsung bergegas ke kelas untuk konfirmasi, dan memang benar daging ayamnya masih mentah dan berdarah, sehingga langsung meminta RNTL agar tidak memakannya dan membawanya ke depan kelas," tambah Emerenciana.
Ia sempat mengabadikan foto dan video kondisi daging tersebut, bahkan beberapa pelajar juga mengeluhkan sempat mual saat melihat daging berdarah. Alhasil makanan itu tidak habis.
Mendapati daging pada menu makanan masih mentah, Emerenciana langsung bergegas menuju ruangan Kepala Sekolah untuk melaporkan kejadian temuan tersebut, agar pihak sekolah mengambil kebijakan.
Sempat Ditegur Penyedia MBG dan Diancam Dilaporkan ke Polisi
Tak lama berselang, Emerinciana dipanggil ke ruang Kepala Sekolah karena ada orang yang ingin bertemu dan meminta foto daging mentah itu.
Bukan hanya itu, Emerenciana juga mendapat tamu beberapa orang tentara dan Tim Gizi Program MBG juga sudah menunggu.
Emerenciana duduk bersama Wakil Kepala sekolah, dan beberapa guru serta kepala sekolah yang menjelaskan kejadian daging mentah itu.
Setelah bercerita, seorang ibu dari Tim Gizi MBG langsung merespons dengan nada kesal, mempertanyakan tindakan Emerenciana yang langsung memposting lauk daging mentah di media sosial dan menjadi viral, serta mengancam akan melaporkannya ke polisi.
Emerenciana langsung merespons silakan jika ingin lapor polisi, karena dirinya dalam posisi benar dan tidak merekayasa temuan daging mentah itu.
Ibu tersebut langsung mengecilkan nada bicaranya, kemudian mengaku dirinya sebagai pengelola program makanan sehat, dan juga didampingi ahli gizi, sehingga jika ada temuan dan kekurangan maka pihak sekolah dapat melaporkan kepada Tim Program MBG.
"Jika ada masalah seperti ini, kami minta segera informasikan kepada kami, jangan langsung menyebarluaskan di media sosial, dan postingan itu sudah viral dimana-mana," kata Emerenciana mengulang perkataan pihak penyedia tersebut.
Emerensiana juga merasa kesal karena ditekan oleh penyedia program MBG. Singkat cerita, pengelola MBG akhirnya meminta maaf dan pihak sekolah juga meminta dilakukan evaluasi agar kedepannya tidak terjadi kesalahan dan kelalaian dalam menyajikan makanan sehat Program MBG itu.
Bantah Rekayasa Daging Mentah
Kepala SD Inpres Waingapu 3, Hamuli Ngguna Manggil mengatakan sangat bersyukur dan mendukung Program MBG yang digagas oleh Presiden RI, Prabowo Subianto.
Atas temuan daging mentah, dia pastikan bukan maksud sekolah ingin mencari kesalahan penyedia MBG, atau tidak mendukung program program Presiden RI. Namun pihak sekolah juga bertanggung jawab kepada orang tua murid, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan setelah konsumsi makanan bergizi tersebut.
"Kami ingin pihak pengelola MBG yang kurang puas, datang ke sekolah untuk menanyakan masalah tersebut, mulai dari rambut di dalam makanan, jumah makanan kurang, hingga daging mentah, bahkan ada kesan dari pihak pengelola MBG yang cenderung menyalahkan sekolah seolah merekayasa makanan daging mentah, sedangkan durasi waktu distribusi makanan hingga sampai ke tangan para pelajar kurang dari setengah jam," tegas Hamuli.
Sebagai kepala sekolah yang bertanggungjawab atas semua pelajar, pihaknya tidak menerima cara yang dipakai oleh pengelola MBG yang terkesan mencuci tangan dan cenderung menyalahkan pihak sekolah dengan tuduhan merekayasa atau mengada-ada masalah tersebut.
"Kami tidak pernah mengarang atau merekayasa temuan daging mentah di dalam kotak makanan sehat tersebut, karena faktanya demikian, sehingga kami ingin pihak penyedia lebih teliti dan cermat sehingga kedepannya program MBG berjalan dengan baik dan lancar," tutupnya Hamuli.