DPRD Batang: Program Makan Bergizi Gratis Berpotensi Besar Tekan Stunting
DPRD Batang menilai Program Makan Bergizi Gratis memiliki potensi besar untuk menekan angka stunting dan meningkatkan gizi warga, asalkan dilaksanakan secara profesional dan tepat sasaran.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Batang, Jawa Tengah, melihat adanya potensi signifikan dalam kebijakan Program Makan Bergizi Gratis yang digagas pemerintah. Program ini diyakini mampu menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas gizi masyarakat luas. Namun, keberhasilan tersebut sangat bergantung pada implementasi yang profesional dan tepat sasaran di lapangan.
Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Batang, Tofani Dwi Arianto, menegaskan dukungan penuh terhadap inisiatif ini. Ia berharap agar Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan sesuai harapan dan memberikan dampak positif yang maksimal bagi kesehatan warga. Fokus utama adalah memastikan setiap tahapan program dilaksanakan dengan integritas tinggi.
Kunci utama keberhasilan program ini, menurut Tofani, adalah ketepatan dalam menentukan penerima manfaat. Sasaran utama meliputi ibu hamil, ibu menyusui, balita, anak-anak dengan stunting, hingga remaja putri. Penyaluran yang tidak tepat sasaran dapat mengurangi efektivitas program dalam mencapai tujuan utamanya.
Optimalisasi Sasaran dan Kualitas Makanan Program Makan Bergizi Gratis
Ketepatan sasaran menjadi krusial dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Jangkauan terhadap remaja putri dapat dioptimalkan melalui jalur sekolah, memastikan mereka mendapatkan asupan gizi yang memadai di masa pertumbuhan. Sementara itu, untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita stunting, peran posyandu di tingkat desa atau kelurahan sangat vital dalam distribusi dan pemantauan.
Penyelenggara program juga diingatkan untuk tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata. Prioritas utama haruslah pemenuhan standar kesehatan dan kualitas makanan yang layak konsumsi bagi penerima manfaat. Tofani Dwi Arianto menekankan pentingnya aspek higienitas dan nutrisi dalam setiap hidangan yang disajikan.
DPRD Batang menyoroti beberapa insiden yang pernah terjadi dalam pelaksanaan program serupa di daerah lain, seperti kasus keracunan makanan dan temuan makanan yang tidak higienis. Kejadian di Kecamatan Pecalungan menjadi contoh konkret yang tidak diinginkan terulang. Hal ini menggarisbawahi perlunya pengawasan ketat terhadap kualitas dan proses penyediaan makanan.
Peran Ahli Gizi dan Pengawasan Berjenjang
Aspek penting lainnya adalah keterlibatan tenaga ahli gizi dalam setiap tahapan program. Penyusunan menu makanan tidak dapat dilakukan tanpa perhitungan nutrisi yang tepat dan berdasarkan kebutuhan gizi spesifik kelompok sasaran. Tofani menegaskan bahwa penggunaan tenaga yang bukan ahli gizi dapat berisiko terhadap kualitas dan manfaat gizi yang diberikan.
Pengawasan program harus didorong hingga ke tingkat rukun tetangga (RT) dan desa untuk memastikan deteksi dini kasus stunting atau gizi buruk. Langkah ini penting agar masalah gizi dapat ditangani secepatnya, mencegah dampak jangka panjang yang lebih serius. Pengawasan berjenjang ini akan memperkuat sistem deteksi dan respons terhadap masalah gizi di masyarakat.
Kasus temuan gizi buruk di Kecamatan Gringsing menjadi bukti nyata masih lemahnya pantauan tumbuh kembang anak di lingkungan sekitar. Seharusnya, dengan pengawasan yang kuat dari RT dan desa, kasus stunting atau gizi buruk dapat terdeteksi sejak awal dan segera mendapatkan penanganan yang baik. Ini menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas dan kesadaran di tingkat komunitas.
Sumber: AntaraNews