Dedi Mulyadi Nonaktifkan Kepala SMAN 9 Tambun Bekasi Buntut Dugaan Pengadaan Snack Fiktif untuk Siswa
Kuniawati dinonaktifkan dari jabatannya sebagai kepala sekolah oleh Gubernur Jawa Barat melalui Kantor Cabang Dinas (KCD) Wilayah III Jawa Barat.
Kepala SMAN 9 Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Kurniawati, dinonaktifkan setelah ratusan siswa melakukan aksi demonstrasi menyoroti dugaan praktik pungutan liar berkedok sumbangan dan pengadaan snack fiktif.
Kuniawati dinonaktifkan dari jabatannya sebagai kepala sekolah oleh Gubernur Jawa Barat melalui Kantor Cabang Dinas (KCD) Wilayah III Jawa Barat. Hal itu dibenarkan oleh Humas SMAN 9 Tambun Selatan, Syahri Ramadan.
"Betul, melalui KCD, tapi kami belum tahu mulai kapan dinonaktifkannya, nanti mungkin disampaikan ke kami dan guru-guru lainnya," kata Syahri, Kamis (5/6).
Syahri juga membenarkan bahwa Kurniawati dinonaktifkan dari jabatannya terkait dugaan pungutan liar dan pengadaan snack fiktif, seperti yang disoroti oleh ratusan siswa SMAN 9 Tambun Selatan saat mereka menggelar aksi demonstrasi pada Selasa (3/6) kemarin.
"Betul, betul terkait aksi (demo siswa) kemarin, berbagai macam dugaan-dugaan itu (pungutan liar)," ucapnya.
Audit Pungli Berkedok Sumbangan di Sekolah
Selain dinonaktifkan, lanjut Syahri, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga akan melakukan audit sebagai tindak lanjut dari adanya dugaan pungutan liar berkedok sumbangan dan pengadaan snack fiktif.
"Yang disampaikan Pak Dedi Mulyadi itu terkait pengauditan nanti yang akan dilakukan, agar pengauditan itu bisa berjalan dengan lancar," ungkapnya.
Setelah aksi demonstrasi siswa pada Selasa kemarin, Kurniawati yang baru menjabat sebagai kepala SMAN 9 Tambun Selatan selama dua tahun itu tidak masuk sekolah hingga hari ini. Namun demikian, proses belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa.
"Sudah dua hari ini beliau (Kurniawati) tidak hadir di sekolah, proses belajar mengajar berjalan dengan baik, tidak ada demo susulan, sampai hari ini juga kegiatan belajar mengajar tetap berjalan," katanya.
"Ini semua ada hikmahnya, sehingga hal-hal transparansi terhadap penggunaan anggaran bisa lebih baik, anak-anak ini perlu hak-haknya dipenuhi, dan kejadian ini menjadi pelajaran bagi siapapun yang akan menjadi pimpinan di SMAN 9 ini setidaknya merangkul siswa, guru dan seluruh warga yang ada di sekitar sekolah," tambah Syahri.
Ratusan Siswa Demo
Diberitakan sebelumnya, ratusan siswa SMAN 9 Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi menggelar aksi demonstrasi di halaman sekolah, Selasa (3/6). Mereka menuntut transparansi serta menyoroti soal praktik pungutan liar berkedok sumbangan sekolah.
Beberapa praktik dugaan pungutan liar yang disoroti siswa ialah soal sumbangan akademik dan non-akademik, serta dugaan pengadaan snack fiktif. Praktik tersebut sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu.
"Katanya (sumbangan) untuk gedung, tapi sampai sekarang masih gini-gini aja, emang tidak dibatasi untuk sumbangan, sukarela aja, orangtua saya sudah bayar setiap tahun Rp500 ribu," kata siswa kelas XI berinisial MRPD.
Praktik pungutan liar lain adalah infak untuk pengadaan AC masjid sekolah sebesar Rp20 ribu setiap hari per kelas. Namun dari sumbangan yang dipungut sejak beberapa tahun lalu itu pengadaan AC belum juga terealisasi.
Selain itu, siswa juga menyoroti soal dugaan pengadaan fiktif di sekolah. Seperti siswa dipaksa menandatangani beberapa lembar bukti penerimaan snack untuk sejumlah kegiatan yang sudah lama berlangsung.