Dari Ekspedisi ke Eksibisi, Mayameru Tawarkan Ragam Pemaknaan Gunung Berapi
Menariknya, eksibisi ini merupakan hasil dari ekspedisi atau perjalanan menyusuri gunung-gunung berapi di tanah Jawa hingga Bali.
Pameran bertajuk Mayameru, Susur Suara-Rupa Mandala, digelar di NuArt Sculpture Park, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Sabtu (13/9). Pada gelaran tersebut, karya-karya seni dalam pelbagai medium ditampilkan kepada publik.
Menariknya, eksibisi ini merupakan hasil dari ekspedisi atau perjalanan menyusuri gunung-gunung berapi di tanah Jawa hingga Bali. Mulai dari Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Nagara Padang, dan Gunung Padang di Jawa Barat; Gunung Slamet dan Gunung Merapi di Jawa Tengah; Gunung Lawu dan Bromo di Jawa Timur; serta Gunung Agung di Bali.
Orang-orang yang terlibat dalam ekspedisi ini, tidak hanya seniman yang karyanya dipamerkan pada gelaran eksibisi, tapi juga para peneliti dan orang-orang yang punya minat mengulik keragaman makna dari konstelasi sebaran gunung berapi di Nusantara dengan basik pendekan sosial, kultural, hingga spiritual.
Ekspedisi ini dilakukan selama kurang lebih 1 bulan, sejak tanggal 19 Juni–25 Juli 2025. Hasil ekspedisi tersebut salah kemudian diwujudkan lewat pameran lintas media, diskusi, pemutaran film, hingga peluncuran arsip digital, yang rangkaian acaranya berlangsung hingga 28 September 2025.
Kurator pameran Bob Edrian, menjelaskan karya-karya seni yang dipamerkan dalam eksibisi ini merupakan upaya sejumlah seniman yang terlibat, untuk menghadirkan spektrum pemaknaan lain dari keberadaan gunung berapi. Ini mengingat adanya beragam produk budaya masyarakat seperti tradisi, mitos, hingga kepercayaan di sekeliling gunung-gunung api tersebut.
"Kita ikut ritualnya, menanyakan misalkan mitos, cerita rakyat ini tentang apa dan lain-lain. Seniman kemudian menyerap cerita-cerita itu, apa yang mereka dapat, mereka membuat karya di sini," jelas Bob saat dijumpai di NuArt Sculpture Park, Sabtu (13/9).
"Di di wilayah seniman, terutama kurator kan kami fokus sama seniman. Gimana akhirnya outputnya salah satunya adalah pameran ini," imbuh dia.
Ia juga menjelaskan bahwa karya-karya seni yang ditampilkan saat ini tidak semuanya telah final atau utuh dicipta. Melainkan masih dapat terus dikembangkan oleh artist-nya, seiring projek ekspedisi dari Mayameru sendiri yang diagendakan masih akan terus berlanjut.
Hal tersebut didasarkan pada pemaknaan bahwa gunung berapi juga dinilai sebagai semacam simbol purwarupa atau prototipe untuk lanskap di sekitarnya. Saat gunung itu meletus, kata Bob, lanskap di sekitarnya sudah barang tentu akan berubah.
"Jadi, kita melihat bahwa gunung berapi sebagai simbol purwarupa atau prototipe. Lalu, yaudah kita tawarkan aja ide purwarupa ini ke seniman. Seniman nggak harus dipaksa untuk kemudian menawarkan satu karya yang tanda kutip sudah selesai, tapi karya-karya purwarupa. Jadi, karya-karya on progress. Karya-karya berbasis riset. Itulah yang muncul di pameran ini," terang dia.
6 Seniman Terlibat
Bob mengungkapkan bahwa ada enam seniman terlibat dalam perhelatan ini. Tiga seniman, yaitu Kolektif Gegerboyo, Monica Hapsari, dan Restu Taufik Akbar, turut serta dalam ekspedisi gunung api Jawa Barat sampai Bali. Sedang 3 lainnya Lintang Radittya, Marten Bayuaji, dan Rully Shabara hadir sebagai seniman undangan.
Salah satu karya yang ditampilkan adalah kolaborasi Restu Taufik Akbar dengan Lintang Radittya. Mereka memanfaatkan baja nirkarat cermin dan instalasi suara untuk menghadirkan imajinasi gunung berapi sebagai penyangga bumi Nusantara.
Seniman lain, Marten Bayuaji, mengeksplorasi tradisi jathilan Buto yang hidup di sekitar Merapi-Merbabu melalui karya Ritus Api. Ia memvisualisasikan derap kaki penari Buto sebagai proyeksi erupsi gunung berapi.
Kolektif Gegerboyo bersama Monica Hapsari menampilkan karya berjudul Kidung Pralaya, yang mengolah mitos, dongeng, dan fakta ilmiah menjadi narasi tujuh babak tentang siklus akhir zaman. Sementara itu, Rully Shabara menghadirkan bacaan naskah Kitab Hitam, bagian dari proyek artistiknya yang mengkaji ulang ajaran tradisi Wusa dan kebudayaan pasca-Khawagaka.
Semua karya itu, kata Bob, merupakan representasi dari upaya menghadirkan cara pandang lain atas keberadaan gunung api.
"Jadi gimana akhirnya gunung berapi itu, kita membayangkan dia bukan hanya sebagai ancaman, tapi dia merepresentasikan kekayaan kita. Ya kita fokus dengan Jawa, Bali, dan Sunda," ucapnya.
Sementara itu, terpisah, salah satu pengunjung Lukman Hakim (33) dari Goethe Institut Bandung, mengapresiasi adanya gelaran pameran seni berbasis riset ini. Gelaran pameran ini, bagi dia memantik refleksi, khususnya terkait kehidupan masyarakat di sekitar area gunung berapi.
"Di sini jadi titik refleksi bahwa sebenarnya mereka ada dan kita saja yang kurang sadar bahwa mereka itu ada. Ini setelah melihat pamerannya jadi lebih banyak penyadaran untuk lebih melihat sekitar dan juga melihat diri sendiri," ujar dia.
"Dan yang namanya ekosistem itu semua pasti saling terhubung dan mau bagaimanapun juga si gunung berapi ini itu jadi satu bagian dari ekosistem pulau yang dia juga pasti menghidupi, nggak cuma memberikan ancaman secara gempa ataupun lava yang nantinya jadi berpengaruh pada warga sekitar," imbuh dia.
Ia sendiri cukup terkesan dengan karya Marten Bayuaji yang mengangkat cerita rakyat soal Buto Ijo. Bahwa tafsir atas keberadaan makhluk mitos itu tak melulu soal sesuatu yang menyeramkan.
"Karya soal buto itu juga jadi nambah perspektif baru. Ternyata buto itu bukan satu hal yang menyeramkan. Ternyata ada penjelasan lain dari buto gitu dan dari cara penyampaiannya juga menarik sih bisa interaktif," kata dia.
Ia pun berharap helatan pameran berbasis riset seperti ini, dapat lebih sering diadakan. Ia menilai, acara semacam ini jadi satu metode guna menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kekayaan produk budaya di tengah masyarakat Indonesia.