China Desak Gencatan Senjata Iran Jadi Prioritas Utama di Tengah Konflik Memanas
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menegaskan bahwa **gencatan senjata Iran** adalah prioritas utama, menyerukan penghentian operasi militer dan penyelesaian konflik melalui jalur politik. Beijing menyoroti bahaya penggunaan kekuatan militer yang hanya mem
Beijing, China – Menteri Luar Negeri China Wang Yi menegaskan pentingnya gencatan senjata di Iran sebagai prioritas utama di tengah eskalasi konflik yang semakin memanas di Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan Wang Yi dalam konferensi pers mengenai “Kebijakan diplomasi dan hubungan luar negeri China” di Beijing pada Minggu.
Wang Yi menekankan bahwa posisi prinsip China terhadap masalah Iran dapat diringkas dalam satu kalimat: gencatan senjata dan penghentian perang. Ia mengutip pepatah kuno China yang menyebut senjata sebagai alat pembawa malapetaka, yang tidak boleh digunakan tanpa pertimbangan matang.
Menlu China juga menyatakan keprihatinannya terhadap situasi di Timur Tengah yang kembali dilanda perang, sebuah kondisi yang menurutnya seharusnya tidak terjadi. Konflik bersenjata tidak membawa manfaat bagi pihak mana pun dan hanya akan menumbuhkan kebencian serta krisis baru, seperti yang telah berulang kali ditunjukkan oleh sejarah kawasan tersebut.
Prioritas Gencatan Senjata dan Penghentian Perang
China kembali menyerukan agar operasi militer segera dihentikan guna mencegah eskalasi berulang dan menghindari meluasnya kobaran perang ke luar kawasan. Wang Yi menegaskan bahwa kekuatan militer bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah yang kompleks di Timur Tengah.
Menurut Wang Yi, pertempuran senjata hanya akan menambah luka dan menciptakan siklus kekerasan yang tak berkesudahan. Pendekatan ini selaras dengan pandangan Beijing bahwa solusi jangka panjang harus didasarkan pada dialog dan penghormatan terhadap kedaulatan.
Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran global terhadap stabilitas regional yang terancam oleh konflik yang terus berkecamuk. China berharap semua pihak dapat menahan diri dan mengutamakan perdamaian demi kesejahteraan rakyat di kawasan tersebut.
Lima Prinsip China untuk Stabilitas Timur Tengah
Dalam menangani masalah Iran dan isu-isu terkait Timur Tengah, Wang Yi menguraikan lima prinsip dasar yang harus dipegang teguh. Prinsip-prinsip ini mencerminkan pendekatan China yang berorientasi pada perdamaian dan stabilitas regional.
- Menghormati kedaulatan negara: Kedaulatan adalah landasan tatanan internasional yang berlaku saat ini. China berpendapat bahwa kedaulatan, keamanan, dan keutuhan wilayah Iran serta negara-negara di kawasan Teluk harus dihormati dan tidak boleh dilanggar.
- Tidak menyalahgunakan kekuatan: Wang Yi menegaskan bahwa kepalan tangan yang keras tidak berarti kebenaran juga keras, dan dunia tidak boleh kembali pada hukum rimba. Penggunaan kekuatan bukanlah bukti kekuatan diri sendiri, dan rakyat tidak boleh menjadi korban tak berdosa dari perang.
- Tidak mencampuri urusan dalam negeri: Rakyat Timur Tengah adalah pemilik sesungguhnya kawasan tersebut, dan urusan mereka seharusnya diputuskan sendiri oleh negara-negara di kawasan. Merancang revolusi dan melakukan pergantian rezim tidak akan mendapat dukungan rakyat.
- Menyelesaikan masalah melalui jalur politik: China sejak dulu berpendapat bahwa perdamaian harus dijunjung tinggi. Semua pihak harus secepat mungkin kembali ke meja perundingan, menyelesaikan perbedaan melalui dialog yang setara, dan berupaya mewujudkan keamanan bersama.
- Negara-negara besar harus memainkan peran yang konstruktif: Negara besar semestinya menjunjung keadilan, menempuh jalan yang benar, dan lebih banyak menyumbangkan energi positif bagi perdamaian dan pembangunan Timur Tengah.
Sebagai sahabat yang tulus dan mitra strategis negara-negara Timur Tengah, China menyatakan kesediaannya untuk bersama-sama mempraktikkan Inisiatif Keamanan Global. Tujuannya adalah mengembalikan ketertiban, ketenangan, dan perdamaian di kawasan tersebut.
Latar Belakang Konflik Iran dan Serangan Balasan
Konflik di Timur Tengah semakin memanas setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026. Serangan ini menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan setidaknya 926 warga sipil.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa tujuan serangan tersebut adalah untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir atau rudal balistik. Selain itu, serangan ini juga bertujuan menempatkan “seseorang yang rasional dan waras” untuk memimpin Iran.
Sebagai respons, Iran telah membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi tempat aset militer AS berada. Eskalasi ini menggarisbawahi urgensi seruan China untuk **gencatan senjata Iran** dan penyelesaian konflik secara damai.
Sumber: AntaraNews