BPNB Peringatkan 3 Provinsi Siap Siaga Fenomena Rossby-Kelvin Usai Banjir Bali
Langkah ini diambil setelah banjir besar melanda Bali akibat fenomena alam gelombang Rossby-Kelvin.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto meminta tiga provinsi yakni; Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
Langkah ini diambil setelah banjir besar melanda Bali akibat fenomena alam gelombang Rossby-Kelvin.
“Kami sudah berkoordinasi dengan BMKG. Fenomena Rossby-Kelvin di Bali sudah bergeser ke barat. Dalam 1–2 hari ini akan dilakukan operasi modifikasi cuaca di tiga provinsi tersebut, agar curah hujan tidak menimbulkan banjir,” ujar Suharyanto saat meninjau pengungsi banjir di Balai Banjar Sedana Mertha Ubung, Denpasar Utara, Kamis (11/9).
Fenomena Alam Langka
Menurut Suharyanto, hujan deras yang memicu banjir di Bali kali ini terbilang jarang terjadi.
“Mungkin 5–10 tahun sekali baru ada banjir besar seperti ini. Seharusnya September bukan musim hujan, namun karena fenomena Rossby-Kelvin, curah hujannya mencapai 385 milimeter dalam 24 jam. Itu setara curah hujan sebulan penuh,” jelasnya.
Meski kondisi cuaca di Bali sudah mulai membaik, ia menegaskan masyarakat harus tetap waspada.
“Dengan perubahan iklim, bencana bisa datang kapan saja. Kita harus selalu siap siaga,” tegasnya.
Dampak Bencana
BNPB mencatat sejumlah fasilitas umum rusak di Denpasar, Badung, Gianyar, dan Jembrana. Kerusakan meliputi jembatan, jalan, serta ratusan kios dan ruko di Pasar Badung.
“Ada 474 unit kios dan ruko rusak, juga beberapa rumah warga. Data lengkap masih terus dihimpun,” ujar Suharyanto.
BNPB juga melaporkan hingga Kamis (11/9) pukul 11.00 WIB, 14 orang meninggal dunia akibat banjir di Bali, sementara dua lainnya masih dalam pencarian.
Suharyanto memastikan pemerintah pusat tidak akan membatasi bantuan untuk Bali.
“Yang sudah disalurkan hari ini nilainya lebih dari Rp2 miliar dalam bentuk logistik makanan. Untuk infrastruktur dan rumah warga yang rusak, pemerintah pusat akan menuntaskan semuanya,” katanya.
Ia menjelaskan, penanganan bencana dilakukan lintas kementerian sesuai bidang masing-masing. BNPB bertindak sebagai koordinator selama masa tanggap darurat.
Kemensos menangani pengungsi dan bantuan sosial, Kementerian PU memperbaiki infrastruktur besar, Kementerian Pendidikan mengurus sekolah rusak, dan Kementerian Agama memperbaiki tempat ibadah.
“Semua kementerian sudah bergerak. Tinggal memastikan pelaksanaannya di lapangan agar masyarakat terdampak bisa segera pulih,” jelas dia.