BMKG Ungkap Penyebab Gempa Ternate M 5,6: Deformasi Batuan Lempeng Laut Maluku
BMKG menjelaskan Gempa Ternate magnitudo 5,6 disebabkan deformasi batuan Lempeng Laut Maluku dan tidak berpotensi tsunami, serta dirasakan di beberapa wilayah.
BMKG Ungkap Penyebab Gempa Ternate M 5,6: Deformasi Batuan Lempeng Laut Maluku
Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang wilayah Ternate, Maluku Utara, pada Minggu (21/12) malam pukul 19.21.46 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera merilis analisis terkait fenomena alam ini.
Menurut BMKG, Gempa Ternate ini merupakan jenis gempa dangkal yang bersumber dari deformasi batuan pada Lempeng Laut Maluku. Episenter gempa berlokasi di laut, tepatnya 132 kilometer arah barat laut Jailolo, Maluku Utara, dengan kedalaman 30 kilometer.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa hasil analisis menunjukkan gempa ini memiliki mekanisme pergerakan naik atau dikenal sebagai thrust fault. Meskipun demikian, BMKG memastikan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Analisis BMKG Terkait Gempa Ternate
BMKG secara cermat menganalisis karakteristik Gempa Ternate yang terjadi. Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa ini dikategorikan sebagai gempa dangkal. Fenomena ini dipicu oleh adanya deformasi batuan di Lempeng Laut Maluku yang aktif.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menegaskan bahwa mekanisme pergerakan gempa ini adalah pergerakan naik (thrust fault). Ini berarti terjadi pensesaran di mana satu blok batuan bergerak naik relatif terhadap blok lainnya. Analisis parameter update BMKG menunjukkan magnitudo gempa sebesar 5,6.
Episenter Gempa Ternate ini berada di laut, berjarak sekitar 132 kilometer di arah barat laut Jailolo, Maluku Utara. Kedalaman hiposenter yang tercatat adalah 30 kilometer, mengindikasikan sumber gempa yang relatif dekat dengan permukaan. Meskipun demikian, pemodelan BMKG mengonfirmasi bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami.
Dampak dan Gempa Susulan Gempa Ternate
Getaran akibat Gempa Ternate ini dirasakan di beberapa daerah di sekitar Maluku Utara dan Sulawesi Utara. Di Manado, Bitung, Minahasa, Minahasa Utara, dan Tomohon, gempa dirasakan dengan skala intensitas III MMI. Skala ini berarti getaran nyata dirasakan di dalam rumah, seolah-olah ada truk besar melintas.
Sementara itu, di wilayah Ternate sendiri, intensitas guncangan gempa tercatat pada skala II-III MMI. Skala ini menunjukkan bahwa getaran dirasakan oleh beberapa orang, terutama di dalam ruangan. Masyarakat di Ternate merasakan guncangan yang cukup jelas namun tidak terlalu kuat.
Hingga pukul 19.40 WIB, BMKG terus melakukan monitoring aktivitas seismik pasca Gempa Ternate. Hasil monitoring menunjukkan adanya satu kali gempa bumi susulan (aftershock). Gempa susulan tersebut memiliki kekuatan magnitudo 3,0, yang relatif lebih kecil dibandingkan gempa utama.
Sumber: AntaraNews