BMKG Samarinda Ajak Warga Waspada Banjir Kaltim Akibat Hujan Dasarian 3 November
BMKG Samarinda mengeluarkan peringatan dini bagi warga Kalimantan Timur untuk Waspada Banjir Kaltim dan potensi bencana lain akibat hujan intensitas sedang pada dasarian 3 November.
BMKG Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda meminta warga Kalimantan Timur (Kaltim) meningkatkan kewaspadaan. Imbauan ini terkait potensi banjir dan dampak cuaca ekstrem lain. Peringatan dini dikeluarkan menyusul prakiraan hujan intensitas sedang pada dasarian 3 November.
Riza Arian Noor, Kepala Stasiun Meteorologi APT Pranoto BMKG Samarinda, menegaskan urgensi peringatan ini pada Sabtu. Ia menjelaskan bahwa hujan yang diprediksi dapat memicu serangkaian bencana. Kondisi tersebut meliputi banjir, meluapnya sungai, jalan licin, hingga risiko tanah longsor yang membahayakan.
Potensi pohon tumbang juga menjadi perhatian serius, sebab hujan berpeluang disertai angin kencang dan petir. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi cuaca. Langkah-langkah pencegahan diperlukan guna meminimalisir risiko dampak buruk dari kondisi cuaca ini.
Prakiraan Curah Hujan dan Potensi Bencana di Kaltim
Berdasarkan analisis prakiraan potensi curah hujan untuk dasarian 3 (20-30 November 2025), BMKG Samarinda memproyeksikan bahwa sebagian besar wilayah Kalimantan Timur akan mengalami curah hujan dalam kategori menengah. Curah hujan ini diperkirakan berkisar antara 50 hingga 150 milimeter (mm), dengan probabilitas kejadian hujan mencapai lebih dari 70 persen. Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari masyarakat, terutama di daerah rawan banjir.
Namun, tidak semua wilayah Kaltim akan mengalami curah hujan serupa. Wilayah Kalimantan Timur bagian selatan, khususnya sebagian Kabupaten Paser dan Kabupaten Penajam Paser Utara bagian selatan, diprakirakan akan mengalami curah hujan dengan kategori rendah. Angka curah hujan di area ini diperkirakan antara 0–50 mm, dengan peluang hujan berkisar antara 50-60 persen. Meskipun lebih rendah, potensi genangan air tetap perlu diwaspadai.
Lebih lanjut, dalam prakiraan deterministik curah hujan dasarian 3 November 2025, Riza Arian Noor menjelaskan bahwa sebagian besar Kaltim diprakirakan mengalami curah hujan menengah (50–150 mm). Namun, ada beberapa area yang berpotensi menerima hujan lebih lebat. Wilayah tersebut meliputi sebagian Kabupaten Kutai Barat bagian utara, sebagian kecil Kabupaten Kutai Timur bagian barat, serta sebagian kecil Kabupaten Mahakam Ulu bagian selatan.
Di lokasi-lokasi tersebut, curah hujan diprakirakan masuk kategori tinggi, yaitu antara 150–200 mm. Tingginya intensitas hujan ini secara signifikan meningkatkan risiko terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanah longsor, sehingga masyarakat di area ini harus lebih siaga menghadapi dampak hujan dasarian 3.
Sifat Hujan dan Hari Tanpa Hujan di Berbagai Wilayah
Selain prakiraan curah hujan, BMKG Samarinda juga merilis prakiraan deterministik sifat hujan untuk dasarian 3 November. Umumnya, Provinsi Kaltim diprakirakan akan mengalami sifat hujan dengan kategori normal, yang berada pada kisaran 85-115 persen. Ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan, pola hujan tidak terlalu menyimpang dari kondisi rata-rata historis.
Meskipun demikian, terdapat pengecualian di beberapa area. Sebagian wilayah Kalimantan Timur bagian barat, serta bagian tengah dan timur Kaltim, diprakirakan akan mengalami sifat hujan dengan kategori di atas normal. Kisaran persentase untuk kategori ini adalah 116-150 persen. Kondisi ini mengindikasikan bahwa volume hujan yang turun di wilayah-wilayah tersebut akan lebih banyak dari biasanya, sehingga meningkatkan risiko terjadinya Waspada Banjir Kaltim.
BMKG Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda juga memaparkan hasil pemantauan hari tanpa hujan (HTH) pada dasarian 2 November (10-20 November 2025). Meskipun secara umum wilayah Kaltim mengalami hujan, terdapat beberapa wilayah yang dalam periode tersebut tidak mengalami hujan selama beberapa hari. Ini menunjukkan variasi pola cuaca yang perlu diperhatikan.
Riza menambahkan bahwa pada periode sebelumnya, hampir semua wilayah Kaltim mengalami HTH dengan kategori sangat pendek, yakni antara 1–5 hari. Namun, ada juga wilayah yang mengalami HTH kategori menengah, yaitu antara 11 hingga 20 hari. Data ini memberikan gambaran tentang distribusi hujan yang tidak merata, meskipun secara keseluruhan potensi Waspada Banjir Kaltim tetap tinggi.
Sumber: AntaraNews