Basarnas Berhasil Lakukan Evakuasi ABK Kapal Terdampar di Pulau Sebuku Lampung Selatan
Tim SAR Bakauheni sukses mengevakuasi empat ABK kapal nelayan yang terdampar di perairan Pulau Sebuku, Lampung Selatan. Insiden Evakuasi ABK Pulau Sebuku ini terjadi akibat mati mesin di tengah cuaca buruk.
Tim SAR Gabungan dari Basarnas Pos SAR Bakauheni berhasil mengevakuasi empat anak buah kapal (ABK) nelayan yang terdampar di perairan Pulau Sebuku, Kabupaten Lampung Selatan. Evakuasi ini dilakukan pada Minggu (16/11) setelah kapal mereka mengalami mati mesin sejak Kamis (13/11). Kejadian ini menyoroti tantangan yang dihadapi nelayan di tengah kondisi cuaca ekstrem.
Kepala Pos SAR Bakauheni, Rezie Kuswara, membenarkan operasi penyelamatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa para nelayan tersebut terdampar akibat kerusakan mesin perahu. Kondisi cuaca buruk di perairan Selat Sunda turut mempersulit upaya mereka untuk memperbaiki mesin.
Empat nelayan ini sebelumnya berangkat dari Pantai Mutun untuk mencari ikan di sekitar Pulau Sebuku. Mereka kemudian terjebak setelah kapal tidak bisa dioperasikan lagi. Proses evakuasi membutuhkan koordinasi cepat dan peralatan khusus untuk menjangkau lokasi terpencil.
Kronologi Insiden Mati Mesin di Perairan Sebuku
Insiden Evakuasi ABK Pulau Sebuku ini bermula pada Kamis, 13 November 2025, sekitar pukul 18.00 WIB. Keempat nelayan bertolak dari Pantai Mutun dengan tujuan mencari ikan di sekitar perairan Pulau Sebuku. Perjalanan mereka yang seharusnya rutin berubah menjadi pengalaman menegangkan.
Di tengah perjalanan, kapal yang mereka tumpangi tiba-tiba mengalami mati mesin. Para ABK berupaya keras untuk menghidupkan kembali mesin perahu mereka. Namun, karena cuaca buruk yang terus berlangsung, usaha tersebut tidak membuahkan hasil, membuat mereka terombang-ambing di laut.
Rezie Kuswara menjelaskan, "Pada hari Kamis tanggal 13 November 2025 sekitar pukul 18.00 WIB empat nelayan berangkat dari pantai Mutun untuk mencari ikan di sekitar perairan Pulau Sebuku dan saat itu cuaca buruk. Tiba-tiba kapal mereka mengalami mati mesin, mereka berupaya untuk menghidupkan mesin, namun karena cuaca buruk, mereka gagal untuk menghidupkan mesin." Kondisi ini membuat mereka terdampar selama beberapa hari tanpa kepastian.
Operasi Penyelamatan dan Tantangan Cuaca
Laporan mengenai nelayan terdampar ini baru diterima oleh tim SAR pada Minggu pagi, setelah salah satu ABK berhasil mendapatkan sinyal. Sekitar pukul 06.35 WIB, ABK tersebut menghubungi temannya yang bekerja di BPBD Pesawaran untuk meminta bantuan. Informasi ini kemudian diteruskan ke Kantor SAR Lampung untuk segera ditindaklanjuti, mempercepat respons Evakuasi ABK Pulau Sebuku.
Setelah menerima laporan, tim SAR Bakauheni segera mempersiapkan peralatan yang diperlukan, termasuk perahu karet dan perlengkapan penyelamatan lainnya. Mereka kemudian bergerak menuju lokasi kejadian menggunakan Kapal Negara (KN) SAR Basudewa. Kecepatan respons menjadi kunci dalam operasi penyelamatan yang berpacu dengan waktu ini.
Proses evakuasi Evakuasi ABK Pulau Sebuku ini tidak berjalan mulus karena kondisi alam yang menantang. Cuaca buruk yang melanda wilayah perairan Selat Sunda menjadi tantangan utama bagi tim penyelamat. Gelombang tinggi dan angin kencang mempersulit manuver kapal SAR dan proses penarikan korban dari perahu yang terdampar.
Meskipun menghadapi kondisi sulit dan risiko tinggi, tim Basarnas berhasil mengevakuasi keempat ABK tersebut dengan selamat. Keberhasilan operasi ini menunjukkan kesigapan dan profesionalisme Basarnas dalam menjalankan tugas kemanusiaan. Mereka sigap memberikan pertolongan di tengah kondisi ekstrem untuk memastikan keselamatan para nelayan.
Sumber: AntaraNews