Banjir Rob Rendam Enam RT di Kepulauan Seribu, BPBD DKI Lakukan Penanganan Cepat
Enam Rukun Tetangga di Kepulauan Seribu Utara dan Selatan terendam banjir rob pada Sabtu, 22 November, akibat pasang maksimum air laut. BPBD DKI Jakarta segera tangani dampak banjir rob ini.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta melaporkan terjadinya banjir rob atau banjir pesisir yang merendam enam Rukun Tetangga (RT) di Kabupaten Kepulauan Seribu. Peristiwa ini terjadi pada Sabtu, 22 November, dan berdampak pada dua kecamatan utama di wilayah tersebut. Ketinggian air bervariasi antara 10 hingga 20 sentimeter di beberapa titik.
Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD Provinsi DKI Jakarta, Mohamad Yohan, penanganan cepat telah dilakukan oleh petugas di lokasi. Banjir rob ini merupakan dampak dari fenomena pasang maksimum air laut yang terjadi bersamaan dengan fase Bulan Baru. Kondisi ini berpotensi meningkatkan ketinggian pasang air laut secara signifikan.
Peringatan dini mengenai potensi banjir pesisir ini sebelumnya telah dikeluarkan oleh BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Maritim Tanjung Priok. Peringatan tersebut berlaku untuk periode 18 hingga 26 November 2025 (asumsi tahun yang sama dengan kejadian, 2023), mengindikasikan bahwa wilayah pesisir utara Jakarta, termasuk Kepulauan Seribu, rentan terhadap fenomena ini.
Dampak Banjir Rob di Dua Kecamatan Kepulauan Seribu
Banjir rob pada Sabtu, 22 November, secara spesifik melanda empat RT di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara dan dua RT di Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kelurahan Pulau Panggang menjadi salah satu wilayah terdampak dengan dua RT terendam air setinggi 10 sentimeter. Selain itu, satu RT di Kelurahan Pulau Kelapa dan satu RT di Kelurahan Pulau Harapan juga mengalami genangan, dengan ketinggian air di Pulau Harapan mencapai 20 sentimeter.
Sementara itu, di Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, dua RT dilaporkan terendam banjir rob. Kelurahan Pulau Pari dan Kelurahan Pulau Tidung masing-masing memiliki satu RT yang terdampak, dengan ketinggian air mencapai 10 sentimeter. Mohamad Yohan menegaskan bahwa petugas BPBD masih terus melakukan penanganan dan pemantauan situasi di seluruh lokasi terdampak.
Meskipun terjadi genangan, Kasatgas BPBD Korwil Kepulauan Seribu, Mansyah, menyatakan bahwa air rob cenderung cepat surut. "Banjir rob di pulau ada, hanya langsung surut," kata Mansyah, menggambarkan kondisi yang terjadi di lapangan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun rob terjadi, dampaknya tidak berkepanjangan berkat karakteristik geografis dan mungkin juga upaya penanganan cepat.
Penyebab dan Peringatan Dini Banjir Pesisir
Fenomena banjir rob yang melanda Kepulauan Seribu ini disebabkan oleh kombinasi pasang maksimum air laut dan fase Bulan Baru. Kondisi astronomis ini secara alami meningkatkan daya tarik gravitasi, yang pada gilirannya menyebabkan ketinggian air laut naik melebihi batas normal. BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Maritim Tanjung Priok telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi banjir pesisir ini.
Peringatan dini tersebut berlaku untuk periode 18 hingga 26 November 2025 (asumsi tahun yang sama dengan kejadian, 2023), menggarisbawahi bahwa masyarakat pesisir harus waspada. Peningkatan ketinggian air laut ini tidak hanya berdampak pada Kepulauan Seribu, tetapi juga menyebabkan kenaikan Pintu Air Pasar Ikan menjadi status Bahaya/Siaga 1 pada Sabtu, 22 November, pukul 09.00 WIB. Kondisi ini juga memicu genangan di beberapa wilayah pesisir DKI Jakarta lainnya.
Informasi dari BMKG sangat penting untuk mengantisipasi dan memitigasi dampak banjir rob. Dengan adanya peringatan dini, pihak berwenang dan masyarakat dapat mempersiapkan diri lebih baik menghadapi potensi genangan. Upaya koordinasi antara BPBD dan BMKG menjadi kunci dalam penanggulangan bencana pesisir seperti banjir rob ini.
Sumber: AntaraNews