Bahaya Mikroplastik Sampah Pakaian Cemari Sungai, Ancam Ekosistem dan Kesehatan
Peneliti ECOTON mengungkap bahaya serius mikroplastik sampah pakaian yang mencemari sungai, mengancam ekosistem air, dan membawa racun berbahaya. Simak dampaknya!
Peneliti dari Ecological Observation and Wetland Conservations (ECOTON), Rafika Aprilianti, baru-baru ini mengungkap bahaya serius mikroplastik sampah pakaian yang mencemari sungai. Kontaminasi ini tidak hanya merusak ekosistem air, tetapi juga membawa ancaman kesehatan bagi organisme di dalamnya. Temuan ini menyoroti urgensi penanganan limbah tekstil yang kian masif.
Mikroplastik, partikel plastik berukuran sangat kecil, berasal dari serat pakaian sintetis seperti polyester, nylon, dan spandex. Ketika pakaian ini dicuci atau terurai, serat-serat mikroskopisnya terlepas dan berakhir di perairan, menjadi polutan yang sulit dihilangkan. Kehadirannya mengganggu keseimbangan alami ekosistem sungai secara signifikan.
Dampak buruknya tidak terbatas pada lingkungan saja, melainkan juga berpotensi memengaruhi rantai makanan. Rafika menjelaskan bahwa mikroplastik bertindak layaknya magnet, menyerap racun lain di sungai, kemudian masuk ke tubuh organisme air. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap keberlanjutan sumber daya air bersih.
Bahaya Mikroplastik Sampah Pakaian bagi Ekosistem Sungai
Mikroplastik yang berasal dari sampah pakaian membawa risiko ganda bagi lingkungan perairan. Selain bahaya inheren dari bahan dasarnya seperti ftalat dan BPA yang dikenal sebagai pengganggu hormon, partikel ini juga mampu menarik dan menyerap polutan lain. Racun seperti pestisida dan logam berat yang ada di sungai akan menempel pada mikroplastik, meningkatkan toksisitasnya.
Rafika Aprilianti menegaskan bahwa ketika organisme air menelan mikroplastik, racun-racun yang melekat ini akan masuk ke dalam tubuh mereka. "Ketika organisme air menelan mikroplastik, racun-racun ini masuk ke tubuh mereka dan dapat menyebabkan kerusakan organ, gangguan reproduksi, serta menurunkan populasi ikan endemik," kata Rafika saat dihubungi ANTARA pada Senin.
Polusi dari mikroplastik dan pewarna pakaian secara drastis mengurangi fungsi alami sungai. Sungai yang seharusnya menjadi sumber air bersih dan penopang kehidupan, kini kehilangan kemampuannya akibat dominasi zat pencemar. Hal ini berdampak langsung pada kualitas air dan keanekaragaman hayati di dalamnya.
Rafika secara spesifik menyebutkan bahan sintetis seperti polyester, nylon, dan spandex sebagai kontributor utama polusi mikroplastik dari sampah pakaian. Pakaian yang terbuat dari serat ini melepaskan partikel mikroplastik dalam jumlah besar setiap kali dicuci atau terurai, memperburuk kondisi pencemaran sungai yang sudah ada.
Ancaman Mikroplastik di Udara dan Solusi Pencegahan
Ancaman mikroplastik tidak hanya terbatas pada perairan, tetapi juga telah mencapai atmosfer. Penelitian yang dilakukan oleh Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova, sejak tahun 2022 menunjukkan adanya mikroplastik dalam setiap sampel air hujan di Jakarta. Fenomena ini mengindikasikan siklus plastik kini telah menjangkau lapisan udara.
Reza menjelaskan bahwa mikroplastik di air hujan berasal dari berbagai sumber, termasuk serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka. "Yang beracun bukan air hujannya, tetapi partikel mikroplastik di dalamnya karena mengandung bahan kimia aditif atau menyerap polutan lain," ia menjelaskan.
Penelitian BRIN menemukan rata-rata 15 partikel mikroplastik per meter persegi area per hari pada sampel air hujan di kawasan pesisir Jakarta. Partikel-partikel ini terbawa angin dan kemudian turun kembali ke bumi bersama air hujan, menambah beban polusi pada lingkungan. Ini menunjukkan bahwa masalah mikroplastik jauh lebih kompleks dari yang dibayangkan.
Untuk menekan polusi mikroplastik, Rafika mendorong masyarakat untuk menghindari penggunaan fast fashion atau pakaian yang diproduksi dengan cepat dan murah. Ia juga menyarankan agar pakaian yang sudah tidak terpakai disumbangkan atau ditukar, bukan dibuang. Memilih pakaian dengan persentase serat alami yang lebih tinggi juga direkomendasikan untuk mengurangi pelepasan mikroplastik ke lingkungan.
Senada dengan itu, Reza Cordova menekankan pentingnya meminimalkan penggunaan produk plastik secara keseluruhan. Langkah-langkah preventif ini diharapkan dapat mengurangi risiko paparan mikroplastik dan dampaknya terhadap kesehatan manusia serta kelestarian lingkungan. Kesadaran dan tindakan kolektif sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah polusi mikroplastik ini.
Sumber: AntaraNews