Sampah pakaian, khususnya yang berbahan dasar poliester, disebut sebagai salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia. Material ini berisiko tinggi memunculkan mikroplastik yang berbahaya bagi keberlangsungan alam dan kesehatan manusia. Fenomena ini telah memicu kekhawatiran serius di berbagai kalangan masyarakat.
Pendiri dan Direktur Kreatif Sejauh Mata Memandang, Chitra Subyakto, menjelaskan bahwa bahan poliester banyak digunakan karena sifatnya yang tidak mudah lecak dan awet. Namun, saat sampah pakaian ini terurai, mikroplastik akan dilepaskan dan mencemari lingkungan. Kondisi ini diperparah dengan penumpukan limbah di TPA, sungai, hingga laut.
Penelitian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dilakukan sejak tahun 2022 juga menemukan adanya mikroplastik dalam setiap sampel air hujan di Jakarta. Temuan ini mengindikasikan bahwa siklus plastik telah mencapai atmosfer. Mikroplastik ini dapat kembali ke bumi bersama air hujan, membawa dampak buruk bagi ekosistem dan manusia.
Advertisement
Advertisement
Ancaman Mikroplastik dari Sampah Pakaian
Chitra Subyakto membeberkan alasan utama mengapa sampah pakaian berisiko memunculkan mikroplastik yang berbahaya. Menurutnya, banyak pakaian saat ini menggunakan bahan poliester, seperti yang sering ditemukan pada pakaian olahraga atau piyama. Bahan ini dipilih karena sifatnya yang tidak mudah lecak dan awet untuk digunakan dalam jangka waktu lama.
Namun, ketika sampah pakaian berbahan poliester ini berserakan di berbagai titik seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sungai, hingga laut, serat mikroplastik akan terlepas. Mikroplastik yang keluar kemudian mencemari air dan biota laut yang hidup di dalamnya. Situasi ini sangat mengkhawatirkan karena para ahli telah menyatakan bahwa mikroplastik berkaitan dengan penurunan imunitas tubuh hingga kanker.
Chitra menegaskan, "Sampah pakaian itu kan salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia dan salah satunya bahannya mengandung mikroplastik." Senada, Peneliti BRIN Muhammad Reza Cordova menambahkan bahwa mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, serta sisa pembakaran sampah plastik. Ia menjelaskan, "Yang beracun bukan air hujannya, tetapi partikel mikroplastik di dalamnya karena mengandung bahan kimia aditif atau menyerap polutan lain."
Advertisement
Advertisement
Upaya Pencegahan dan Peran Masyarakat dalam Mengatasi Mikroplastik
Melihat dampak serius dari mikroplastik, Chitra Subyakto mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap bahan pakaian atau kain yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Salah satu caranya adalah dengan membaca dan mencari informasi lebih lanjut terkait dengan jenis kain yang akan dipakai. Pemahaman akan material yang digunakan menjadi langkah awal yang penting.
Selain itu, masyarakat juga diminta agar tidak terburu-buru dalam membuang pakaian. Chitra menilai akan jauh lebih baik jika barang-barang tersebut dirawat dengan baik atau diolah menjadi produk yang menarik untuk dipakai kembali, misalnya dijadikan tas ataupun sarung bantal. Pendekatan ini dapat memperpanjang masa pakai produk fesyen dan mengurangi timbulan sampah pakaian.
Industri fesyen saat ini juga tengah berfokus pada keberlanjutan lingkungan, seperti yang dilakukan oleh Sejauh Mata Memandang. Mereka telah menjalin kerja sama dengan Ecotouch di Bandung, Jawa Barat, untuk melakukan proses pengolahan limbah pakaian. Proses ini meliputi pemotongan kain, pencopotan kancing, ritsleting, hingga menjadikan sampah tersebut sebagai benang yang siap pakai.
Advertisement
Chitra mengingatkan bahwa masalah mikroplastik dapat memengaruhi kehidupan 8 miliar manusia di bumi. Oleh karena itu, setiap pihak diminta agar tidak abai dan mulai meningkatkan kepedulian pada lingkungan sekitar. Minimalisasi penggunaan produk plastik dan peningkatan kesadaran akan dampak sampah pakaian menjadi kunci untuk menekan polusi mikroplastik dan risiko paparannya.
Sumber: AntaraNews