ASEAN Finalisasi Profil Karbon dan Pendanaan Biru, Perkuat Pilar Ekonomi Biru Kawasan
ASEAN dan UNDP selesaikan profil karbon dan pendanaan biru pertama, menjadi landasan penting penguatan kebijakan Ekonomi Biru ASEAN demi keberlanjutan regional.
Jakarta, 28 November — Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) bersama Program Pembangunan PBB (UNDP) telah menggelar lokakarya regional penting di Jakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk memfinalkan penyusunan profil karbon biru dan pendanaan biru pertama yang spesifik untuk kawasan tersebut.
Lokakarya ini mempertemukan para pakar terkemuka dari berbagai negara anggota ASEAN, berkolaborasi intensif selama dua hari. Fokus utama adalah merumuskan basis data dan analisis komprehensif yang nantinya akan menjadi rujukan krusial bagi perumusan kebijakan ekonomi biru di seluruh wilayah.
Inisiatif ini menegaskan komitmen kolektif ASEAN dalam menghadapi tantangan lingkungan dan ekonomi secara terpadu. Profil yang dihasilkan diharapkan dapat memberikan gambaran jelas mengenai potensi dan kebutuhan pendanaan untuk aset karbon biru, mendukung pembangunan berkelanjutan.
Kolaborasi Regional untuk Data Ekonomi Biru
Deputi Menteri Bidang Pengembangan Makro Bappenas, Eka Chandra Buana, menegaskan bahwa penguatan karbon biru dan pendanaan biru merupakan pilar penting dalam agenda ekonomi biru ASEAN. Ia menyoroti lokakarya ini sebagai bukti nyata bagaimana negara-negara di kawasan dapat bekerja sama secara kolektif untuk memperkuat pengetahuan dan mengembangkan pendekatan pembangunan yang berkelanjutan.
Sujala Pant, Deputy Resident Representative UNDP Indonesia, menyoroti kuatnya kolaborasi ilmiah di balik proses penyusunan profil ini. UNDP mencatat bahwa lokakarya tersebut diikuti oleh 30 pakar teknis dari 11 negara anggota ASEAN, menunjukkan partisipasi yang luas dan mendalam.
Upaya profiling ini melibatkan total 98 pakar dari 35 institusi akademik dan riset di seluruh ASEAN dan Timor-Leste. Keterlibatan komunitas ilmiah signifikan ini memastikan bahwa data dan analisis yang dihasilkan memiliki dasar yang kuat dan kredibel, mendukung pengembangan kebijakan Ekonomi Biru ASEAN.
Dukungan Internasional dan Dampak Potensial
Lokakarya yang berlangsung pada 27–28 November ini dirancang sebagai sesi kerja intensif untuk mematangkan draf profil, menguji asumsi, serta mengidentifikasi keterkaitan antara analisis karbon dan pendanaan. Para peserta juga menelaah metodologi pengumpulan data dan meninjau pendekatan analitis secara cermat.
Hasilnya, sebelas profil karbon biru dan sebelas profil pendanaan biru tingkat nasional berhasil disusun, dilengkapi dengan dua profil pendukung di level regional. Seluruh profil ini dijadwalkan untuk diluncurkan pada Maret 2026, memberikan gambaran yang lebih jelas bagi pemerintah tentang aset karbon biru dan kebutuhan pendanaannya, sebagai dasar penguatan kebijakan ekonomi biru.
Pemerintah Jepang, melalui inisiatif Japan-ASEAN Blue Economy Cooperation, kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan ekonomi biru di kawasan. Deputy Chief of Mission, Mission of Japan to ASEAN, Chujo Kazuo, menyatakan bahwa Jepang memandang penting kolaborasi dengan mitra regional dan para ahli lokal.
Menurutnya, keahlian harus berakar pada pengetahuan lokal dan kebijakan dibentuk melalui kepemilikan regional. Chujo Kazuo menambahkan, “Pekerjaan ini kompleks, namun dampak potensialnya sangat besar. Melalui proyek ini, kita mengambil langkah penting untuk melindungi ekosistem vital, memperkuat ketahanan iklim, menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan, serta menjaga kemakmuran dan keamanan kawasan.”
Sumber: AntaraNews