Di tengah perdebatan panjang mengenai krisis iklim, perhatian publik seringkali terfokus pada hutan tropis, emisi industri, dan kendaraan bermotor. Namun, ada pilar penting yang jarang tersentuh, yaitu ekosistem lamun di dasar laut dangkal Indonesia. Padahal, ekosistem ini menyimpan potensi karbon yang sangat besar dan krusial bagi upaya mitigasi perubahan iklim nasional.
Lamun, atau seagrass, adalah tumbuhan berbunga yang hidup sepenuhnya di laut dangkal, berbeda dengan alga atau rumput laut biasa. Tumbuhan ini membentuk padang luas yang secara diam-diam bekerja menyerap dan menyimpan karbon dalam biomassa serta sedimen di bawahnya. Fungsi vital ini menjadikannya aset tak ternilai dalam menjaga keseimbangan iklim global.
Data dari tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa potensi simpanan karbon lamun Indonesia berkisar antara 0,26 hingga 0,55 gigaton CO₂ ekuivalen. Angka ini setara dengan sekitar seperempat hingga hampir sepertiga total emisi gas rumah kaca Indonesia pada tahun 2019 yang mencapai 1,84 gigaton CO₂ ekuivalen, berdasarkan laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Advertisement
Advertisement
Karbon Biru: Solusi Iklim yang Terabaikan
Lamun termasuk dalam kategori karbon biru, bersama dengan ekosistem mangrove dan rawa asin, yang merujuk pada karbon yang diserap serta disimpan oleh ekosistem pesisir dan laut. Sebagai negara kepulauan, Indonesia seharusnya menempatkan karbon biru sebagai pilar strategis dalam kebijakan iklimnya. Sayangnya, realitas kebijakan iklim nasional masih cenderung berat sebelah, dengan fokus utama pada sektor kehutanan dan energi.
Sektor kelautan kerap berada di pinggiran diskursus, seolah-olah solusi iklim hanya bisa ditemukan di daratan. Padahal, secara geografis, Indonesia adalah negara maritim dengan luas wilayah laut yang lebih besar daripada daratannya. Mengabaikan potensi karbon biru berarti mengabaikan identitas ekologis bangsa sendiri dan melewatkan kesempatan besar untuk mitigasi iklim.
Padang lamun menyimpan karbon tidak hanya di daun dan batangnya, melainkan terutama di sedimen yang terakumulasi selama puluhan hingga ratusan tahun. Apabila ekosistem ini terganggu, karbon yang tersimpan dapat terlepas kembali ke atmosfer, memperburuk krisis iklim. Oleh karena itu, menjaga kelestarian lamun menjadi sangat penting untuk mencegah pelepasan karbon yang telah tersimpan.
Advertisement
Advertisement
Ancaman dan Tantangan Pelestarian Lamun
Berbagai ancaman nyata kini membayangi padang lamun, termasuk reklamasi pesisir, pencemaran, dan sedimentasi akibat kerusakan hulu sungai. Aktivitas-aktivitas tersebut tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga berpotensi membalikkan fungsi lamun dari penyerap karbon menjadi sumber emisi. Kerusakan ini dapat memiliki dampak jangka panjang yang merugikan bagi lingkungan dan iklim.
Kenaikan suhu permukaan laut akibat perubahan iklim global juga memperberat tekanan terhadap ekosistem lamun. Lamun membutuhkan cahaya dan kondisi perairan yang relatif stabil untuk tumbuh subur. Ketika suhu meningkat dan kualitas air menurun, daya tahan ekosistem ini melemah, membuatnya lebih rentan terhadap kerusakan.
Ironisnya, di tengah ancaman tersebut, data mengenai luas dan kondisi lamun di Indonesia masih belum terpetakan dengan baik. Perbedaan estimasi luas padang lamun yang ada menunjukkan bahwa inventarisasi belum sepenuhnya solid. Tanpa data yang presisi, kebijakan yang diambil akan berjalan dalam ketidakpastian, menghambat upaya pelestarian yang efektif.
Advertisement
Advertisement
Manfaat Ganda Lamun bagi Ekosistem dan Masyarakat
Selain perannya sebagai penyerap karbon, lamun juga berfungsi sebagai benteng alami pantai yang vital. Ekosistem ini mampu meredam energi gelombang dan menahan sedimen, sebuah fungsi yang semakin krusial di era kenaikan muka air laut. Perlindungan alami ini membantu mengurangi risiko abrasi dan menjaga integritas garis pantai.
Ekosistem lamun juga merupakan tempat pembesaran penting bagi berbagai jenis ikan, kepiting, dan kerang. Ini berarti menjaga kelestarian lamun secara langsung berkontribusi pada ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat pesisir yang bergantung pada sumber daya laut. Kerusakan padang lamun akan berdampak pada menurunnya hasil tangkapan nelayan.
Oleh sebab itu, kerusakan padang lamun akan menimbulkan dampak berlapis. Emisi karbon meningkat, hasil tangkapan nelayan menurun, dan garis pantai menjadi lebih rentan terhadap abrasi. Kerugian ekologis ini dapat dengan cepat menjelma menjadi kerugian sosial dan ekonomi yang besar bagi masyarakat dan negara.
Advertisement
Advertisement
Masa Depan Iklim Indonesia di Tangan Lamun
Krisis iklim sejatinya bukan hanya persoalan atmosfer, melainkan juga persoalan tata kelola ruang dan pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan pesisir yang tidak terencana dapat merusak aset ekologis yang nilainya jauh lebih besar daripada keuntungan jangka pendek. Kebijakan yang terlalu berorientasi pada pertumbuhan fisik sering kali melupakan biaya lingkungan yang tak terlihat.
Menempatkan lamun dalam strategi iklim nasional berarti menggeser cara pandang kita dari sekadar eksploitasi ruang pesisir menjadi pengelolaan berbasis ekosistem. Langkah konkret untuk melestarikan lamun meliputi penetapan kawasan konservasi lamun, restorasi habitat yang rusak, dan integrasi karbon biru dalam mekanisme nilai ekonomi karbon. Semua ini membutuhkan koordinasi lintas sektor yang kuat.
Tantangannya memang tidak kecil, mengingat kepentingan ekonomi, keterbatasan anggaran, dan rendahnya kesadaran publik. Namun, justru di sinilah kejelasan dan ketegasan kebijakan diuji. Masa depan iklim Indonesia tidak hanya ditentukan oleh transisi energi, tetapi juga oleh keseriusan kita dalam menjaga ekosistem alami penyerap karbon.
Advertisement
Lamun adalah harta karun ekologis yang tersembunyi, namun nilainya sangat besar bagi stabilitas iklim dan kesejahteraan pesisir. Jika Indonesia sungguh ingin merancang masa depan iklim yang lebih aman, maka laut dangkal yang terhampar di sekeliling negeri ini tidak boleh lagi diabaikan. Di antara helaian hijau padang lamun yang sederhana itu, tersimpan bagian penting dari jawaban atas persoalan krisis iklim yang sedang kita hadapi saat ini.
Sumber: AntaraNews