Akademisi Sebut Kurikulum Cinta Kemenag Hidupkan Pendidikan Humanis
Kurikulum Cinta Kemenag dinilai akademisi sebagai pendekatan revolusioner yang menghidupkan pendidikan humanis, melampaui capaian kognitif semata dan menumbuhkan karakter seutuhnya.
Singaraja, Bali – Akademisi Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja Bali, Duwi Oktaviana, menyatakan bahwa Kurikulum Cinta yang digagas Kemenag bukan sekadar konsep tambahan. Lebih dari itu, kurikulum ini merupakan sebuah pendekatan yang menghidupkan pendidikan humanis di tengah dinamika pendidikan modern.
Oktaviana menjelaskan, di tengah fokus pendidikan yang cenderung menekankan capaian kognitif, Kurikulum Cinta hadir sebagai pengingat penting. Kurikulum ini menegaskan bahwa manusia tidak hanya dibentuk oleh pengetahuan, tetapi juga oleh sebuah rasa yang mendalam.
Pandangan ini disampaikan Oktaviana di Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, pada Sabtu (26/4). Ia menyoroti bagaimana Kurikulum Cinta Kemenag berupaya mengembalikan makna pendidikan ke akar yang paling hakiki, yaitu pembentukan karakter dan kesadaran.
Filosofi Cinta dalam Pendidikan Humanis
Dalam konteks Hindu, Cinta tidak hanya dipahami secara sempit sebagai emosi personal, melainkan sebagai energi universal yang menghubungkan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan. Nilai-nilai seperti Tat Tvam Asi, yang berarti 'Aku Adalah Engkau', menjadi fondasi penting dalam filosofi ini.
Kurikulum Cinta berusaha menerjemahkan nilai tersebut ke dalam praktik pendidikan sehari-hari, tidak hanya terbatas pada aktivitas di dalam kelas. Peserta didik diajak untuk melihat orang lain sebagai bagian dari dirinya sendiri, menumbuhkan empati dan koneksi yang mendalam.
Pendekatan ini mendorong pembelajaran yang lebih holistik, di mana pemahaman intelektual diimbangi dengan pengembangan spiritual dan emosional. Tujuannya adalah menciptakan individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan lingkungan.
Interaksi Pendidik dan Peserta Didik
Penerapan Kurikulum Cinta sangat terlihat dari cara guru berinteraksi dengan peserta didiknya. Pendidik tidak hanya hadir sebagai pengajar yang mentransfer ilmu, melainkan menjadi pembimbing yang hadir dengan ketulusan dan perhatian penuh.
Hubungan yang dibangun bukan berbasis otoritas semata, melainkan kedekatan yang penuh penghargaan dan apresiasi terhadap setiap individu. Dari sinilah akan tumbuh rasa aman dalam proses belajar, yang menjadi kunci bagi perkembangan karakter anak secara optimal.
Lingkungan belajar yang suportif dan penuh kasih sayang ini memungkinkan peserta didik untuk mengekspresikan diri, bertanya, dan belajar dari kesalahan tanpa rasa takut. Hal ini krusial dalam membentuk pribadi yang percaya diri dan berani.
Mendalami Ajaran dan Membentuk Karakter
Di ruang kelas, Kurikulum Cinta mendorong pembelajaran yang lebih mendalam dan penuh perenungan. Peserta didik tidak hanya diajak memahami ajaran secara teoritis, tetapi juga merasakannya dalam kehidupan nyata.
Sebagai contoh, ketika peserta didik mempelajari konsep dharma, mereka tidak berhenti pada definisi semata. Mereka diajak merenungkan bagaimana bersikap adil, jujur, dan penuh kasih dalam aktivitas kesehariannya, mengintegrasikan nilai-nilai tersebut dalam perilaku.
Dalam konteks pendidikan tinggi, khususnya di lembaga keagamaan Hindu, Kurikulum Cinta dapat menjadi ciri khas yang membedakan. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan sebagai individu yang cerdas secara intelektual, namun juga matang secara emosional dan spiritual.
Komitmen Bersama untuk Budaya Pendidikan
Implementasi Kurikulum Cinta tidak selalu mudah dan membutuhkan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan. Dosen, mahasiswa, institusi, maupun pemerintah harus bersinergi untuk mewujudkan visi ini.
Oktaviana menekankan bahwa Kurikulum Cinta bukan sekadar dokumen administratif, melainkan budaya yang harus dihidupi bersama. Keteladanan dari semua pihak sangat diperlukan untuk menumbuhkan nilai-nilai tersebut dalam lingkungan pendidikan.
Pada akhirnya, Kurikulum Cinta adalah upaya untuk mengembalikan makna pendidikan itu sendiri ke akar yang paling hakiki. Belajar bukan hanya tentang menjadi pintar atau mengejar prestasi akademik, tetapi tentang menjadi manusia seutuhnya, yaitu peka secara rasa, matang dalam sikap, dan bijaksana dalam bertindak.
Sumber: AntaraNews