Jejak Roda di Negeri Savana dan Kuda Liar
Perjalanan dimulai dari Tambolaka, ibu kota Kabupaten Sumba Barat Daya, dilanjutkan menuju Ratenggaro—desa adat yang masih memegang teguh tradisi leluhur.
Di tengah gempuran destinasi wisata populer, Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan sisi eksotis yang masih tersembunyi dari radar pariwisata massal. Melalui inisiatif bertajuk #JourneyWithMotul, Motul Indonesia mengajak para pecinta motor untuk menjelajahi keindahan alam Sumba—sekaligus menyalakan harapan baru dalam dunia pendidikan lokal.
Kegiatan touring ini bukan sekadar petualangan menguji adrenalin. Di balik deru mesin dan lintasan berbatu, terselip semangat untuk mengenal lebih dekat pesona alam dan budaya masyarakat Sumba yang autentik serta memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan di pelosok negeri.
Perjalanan dimulai dari Tambolaka, ibu kota Kabupaten Sumba Barat Daya, dilanjutkan menuju Ratenggaro—desa adat yang masih memegang teguh tradisi leluhur. Dari sana, rombongan menuju Laguna Waikuri, dan terus menyusuri keindahan alami Wee Kacura, Kampung Prai Ijing, hingga Bukit Bondosula yang menyuguhkan panorama epik layaknya lukisan hidup.
Petualangan tak berhenti di sana. Peserta touring bergerak ke wilayah timur pulau, menjelajahi Tanah Daru, lalu menikmati bentang savana memukau di Bukit Wairinding, Tanau, dan Plarakuku. Tidak ketinggalan, Pantai Walakiri dan Puru Kambera menjadi magnet tersendiri, dikelilingi padang rumput tempat kuda liar berlari bebas.
“Lintasan di Sumba jauh dari kata mulus. Medannya ekstrem, dari batu, lumpur, hingga tanjakan curam. Tapi justru di situlah keindahannya—menantang dan otentik,” ujar Welmart Purba, National Sales Director Motul Indonesia.
Dari Petualangan, Lahir Harapan
Untuk mengarungi medan berat ini, peserta touring mengandalkan pelumas Motul 5100 dan 7100—produk andalan berbasis ester yang dirancang untuk mesin motor berperforma tinggi. Teknologi ini memastikan mesin tetap stabil, suhu terjaga, dan transmisi tetap responsif bahkan dalam tekanan tinggi.
“Bagi kami, ini bukan sekadar soal mesin bertenaga. Ini soal keandalan saat menjelajah, dan bagaimana pelumas bisa jadi rekan perjalanan yang menjaga performa hingga garis akhir,” jelas Welmart.
Tak sekadar menaklukkan rute liar, rombongan #JourneyWithMotul juga menyempatkan singgah di SMA Katolik Hati Kudus Yesus, Wee Kombaka, Sumba Barat Daya. Di sana, Motul menyerahkan bantuan papan tulis dan laptop, sebagai bagian dari misi sosial mendukung pendidikan di daerah terpencil.
“Kami percaya bahwa pariwisata dan pendidikan bisa berjalan beriringan. Sumba bukan hanya tempat yang indah, tapi juga rumah bagi anak-anak yang punya mimpi besar,” ujar Welmart.
Melalui perjalanan ini, Motul menunjukkan bahwa eksplorasi alam bisa berjalan seiring dengan kontribusi sosial. Bahwa sebuah touring bukan hanya tentang sampai ke tujuan, tetapi juga tentang apa yang bisa ditinggalkan untuk mereka yang kita temui di sepanjang jalan.
Di tengah gegap gempita industri otomotif dan wisata petualang, Motul Indonesia menghadirkan pendekatan yang menyegarkan: touring sebagai wujud cinta terhadap tanah air, dan solidaritas bagi sesama. Sumba tak hanya menjadi destinasi, tapi juga titik balik kesadaran—bahwa keindahan akan jauh lebih lengkap jika kita turut membaginya.