Insentif Faktor Utama Populasi Kendaraan Listrik di Indonesia Meroket 151 Persen
Jumlah kendaraan listrik berbasis baterai di Indonesia meningkat pesat, didorong oleh kebijakan fiskal yang diterapkan oleh pemerintah.
Jumlah kendaraan listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat signifikan, yang dipicu oleh kebijakan fiskal dari pemerintah.
Yannes Martinus Pasaribu, seorang pengamat otomotif dari ITB, menjelaskan bahwa pertumbuhan ini jelas merupakan dampak dari stimulus fiskal yang diterapkan.
"Terutama melalui kebijakan PPN DTP yang memangkas PPN menjadi hanya satu persen untuk BEV yang memenuhi syarat TKDN sampai akhir 2025 ini," ujarnya, disitat dari Antara, Selasa (2/9).
Data dari Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa hingga Agustus 2025, total BEV yang ada di Indonesia telah mencapai 274.802 unit, yang mencerminkan peningkatan drastis sebesar 151 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kebijakan PPN DTP ini memberikan pemotongan tarif PPN menjadi hanya 1 persen untuk mobil listrik yang memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), dan kebijakan ini akan berlaku hingga akhir tahun 2025.
Yannes juga menambahkan bahwa insentif ini berkontribusi langsung dalam menurunkan harga jual kendaraan listrik di pasar, sehingga membuatnya lebih terjangkau dan meningkatkan nilai proposisi dari mobil listrik.
"Insentif ini secara langsung menurunkan harga jual kendaraan di tingkat konsumen, sehingga secara signifikan meningkatkan keterjangkauan dan proposisi nilainya," tambahnya.
Perkembangan infrastruktur untuk kendaraan listrik semakin pesat
Selain insentif fiskal, kemajuan infrastruktur untuk pengisian kendaraan listrik juga mulai terlihat dengan jelas. Hingga Juli 2025, Kementerian ESDM melaporkan bahwa jumlah Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) telah mencapai 4.186 unit yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Kehadiran SPKLU ini sangat penting untuk mengurangi kekhawatiran konsumen terkait jarak tempuh kendaraan, yang sering dikenal sebagai range anxiety.
"Perkembangan infrastruktur ini secara bertahap mengurangi kekhawatiran konsumen akan jarak tempuh," ujar Yannes.
Dengan adanya kombinasi antara kebijakan fiskal yang menarik dan pembangunan infrastruktur yang masif, Indonesia kini berada di jalur yang benar untuk mempercepat transisi menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan.