Pengamat: Percepatan Kendaraan Listrik Mendesak untuk Redam Lonjakan Harga Minyak Global
Pengamat otomotif menyoroti pentingnya percepatan kendaraan listrik sebagai solusi strategis meredam dampak lonjakan harga minyak global terhadap APBN. Simak bagaimana adopsi kendaraan listrik bisa menghemat triliunan rupiah dan memperkuat ekonomi nasiona
Jakarta, 30 Maret (ANTARA) - Percepatan adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dinilai sebagai langkah strategis yang krusial untuk mengatasi tekanan lonjakan harga minyak global terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hal ini bertujuan menekan ketergantungan Indonesia pada impor minyak yang masih sangat tinggi.
Pengamat otomotif, Martinus Pasaribu, menekankan bahwa setiap kenaikan harga minyak global secara langsung memicu pembengkakan subsidi dan kompensasi energi. Kondisi ini berisiko mengurangi ruang fiskal pemerintah untuk belanja produktif di sektor-sektor vital seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.
Sekitar 60 hingga 70 persen kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi melalui impor, sementara lifting minyak domestik terus menunjukkan penurunan signifikan, berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Situasi ini membuat APBN sangat rentan terhadap gejolak harga minyak dunia, terutama di tengah eskalasi konflik geopolitik yang terjadi, seperti di Selat Hormuz.
Dampak Harga Minyak Global pada APBN
Kenaikan harga minyak global memiliki implikasi serius terhadap stabilitas fiskal negara. Martinus Pasaribu menjelaskan bahwa dalam asumsi makro APBN, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel dapat meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi hingga sekitar Rp8 triliun sampai Rp10 triliun.
Dengan realisasi harga minyak dunia yang berpotensi menembus angka 90 hingga 100 dolar AS per barel, total belanja subsidi energi berisiko kembali membengkak. Angka ini dapat mendekati atau bahkan melampaui Rp300 triliun per tahun, sebuah kondisi yang pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Ketergantungan pada impor minyak yang tinggi dan fluktuasi harga global menciptakan ketidakpastian signifikan bagi perencanaan anggaran negara. Oleh karena itu, mencari solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan ini menjadi prioritas utama demi menjaga kesehatan fiskal.
Kendaraan Listrik sebagai Solusi Jangka Panjang
Martinus Pasaribu menegaskan bahwa kendaraan listrik merupakan solusi jangka panjang yang efektif untuk mengurangi konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) secara signifikan. Peralihan ke kendaraan listrik tidak hanya menekan impor minyak, tetapi juga membantu mengurangi kebutuhan subsidi BBM yang selama ini sebagian besar dinikmati oleh sektor transportasi.
Dari sisi efisiensi, kendaraan listrik jauh lebih hemat dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin. Biaya energi kendaraan listrik rata-rata hanya sekitar Rp300 hingga Rp500 per kilometer, sementara kendaraan bensin bisa mencapai Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilometer, tergantung jenis kendaraan dan harga BBM.
Potensi penghematan biaya operasional bagi pengguna kendaraan listrik mencapai 60 hingga 70 persen. Penghematan ini tidak hanya menguntungkan individu, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan beban ekonomi secara keseluruhan.
Efisiensi dan Penghematan Signifikan dari EV
Penggunaan kendaraan listrik dalam skala besar diperkirakan akan membawa penghematan BBM yang masif. Martinus memperkirakan bahwa penggunaan 1 juta mobil listrik dapat menghemat sekitar 1,25 juta kiloliter BBM per tahun.
Selain itu, adopsi 5 juta motor listrik berpotensi menghemat hingga 1,75 juta kiloliter BBM setiap tahunnya. Jika dikombinasikan, total penghematan BBM dari 1 juta mobil listrik dan 5 juta motor listrik mencapai sekitar 3 juta kiloliter per tahun.
Penghematan ini setara dengan pengurangan impor minyak dalam jumlah yang sangat signifikan. Dengan asumsi harga minyak global di kisaran 90 hingga 100 dolar AS per barel dan kurs rupiah saat ini, pengurangan impor tersebut dapat menghemat devisa sekitar Rp30 triliun hingga Rp40 triliun per tahun.
Manfaat Ganda Elektrifikasi Transportasi
Berkurangnya konsumsi BBM domestik juga berpotensi menekan beban subsidi dan kompensasi energi, yang selama ini menjadi salah satu komponen terbesar dalam belanja negara. Dengan demikian, ruang fiskal pemerintah dapat lebih difokuskan pada sektor-sektor produktif seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.
Elektrifikasi transportasi juga memberikan efek ganda yang positif bagi perekonomian nasional. Ini mencakup penguatan industri baterai dalam negeri, peningkatan investasi di sektor terkait, hingga penciptaan lapangan kerja baru di sektor manufaktur dan energi bersih.
Pemerintah perlu mempercepat adopsi kendaraan listrik melalui kebijakan yang terintegrasi. Kebijakan ini meliputi insentif fiskal, pembangunan infrastruktur pengisian daya (SPKLU), serta penguatan ekosistem industri kendaraan listrik nasional. Transisi ke kendaraan listrik bukan hanya langkah menuju energi bersih, tetapi juga strategi konkret untuk penghematan devisa, menjaga ketahanan fiskal, dan memperkuat kedaulatan energi nasional di tengah ketidakpastian global.
Sumber: AntaraNews