Sosok Sri Parameswari Dyah Kebi, Istri Mpu Sindok yang Kedudukannya Lebih Tinggi dari Sang Suami
Mpu Sindok adalah sosok raja yang terkenal, namun tak banyak orang tahu tentang istrinya, Sri Parameswari Dyah Kebi.
Sangat sedikit literatur sejarah yang menceritakan sosoknya
Sosok Sri Parameswari Dyah Kebi, Istri Mpu Sindok yang Kedudukannya Lebih Tinggi dari Sang Suami
Banyak orang mengakui kehebatan Mpu Sindok karena jasanya memindahkan pusat Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Di balik sosok Mpu Sindok, ada sosok sang istri yang punya peran besar.
Sang Permaisuri
Sri Parameswari Dyah Kebi, istri Mpu Sindok, memiliki peran penting bagi sang suami. Konon, Mpu Sindok naik takhta menjadi raja karena pernikahannya dengan Sri Parameswari.
Prasasti Cunggrang menyebutkan, ..... Sang siddha dewara rakryan bawa yayah raloyan binihaji ari parameswari dyah Kebi ..... (Marwati D & Nugroho S; 1984)Parameswari Dyah Kebi adalah anak dari Rakryan Wawa yang menjadi raja pada waktu itu, seperti dilansir dari jurnal Berkala Arkeologi yang berjudul Tokoh Wanita Di Jawa Sekitar Abad VII - XIV Masehi (R. Istari, 2004).
Hal ini diasumsikan bahwa Mpu Sindok naik takhta karena perkawinan. Artinya, kedudukan permaisuri lebih tinggi daripada Mpu Sindok.
Peran
Sri Paramesawari bersama Mpu Sindok menetapkan sima (hak istimewa karena berjasa bagi raja) tanah pada 857 saka (935 masehi).
Pemimpin Perempuan
Selain permaisuri Sri Parameswari, ada tiga perempuan lain yang punya jabatan tinggi di Kerajaan Mataram yakni Rakyan Binihaji, Samgat Anakbi, dan Ibu ni Paduka Sri Maharaja.
(Foto: Freepik)
Sementara Ibu ni Paduka Sri Maharaja adalah ibunda raja. Namanya disebut dalam Prasasti Waharu II (851 saka). Prasasti ini menegaskan kedudukan hukum Desa Waharu sebagai daerah perdikan yang telah menjadi hak milik rakyat sejak lama.
Samgat Anakbi diduga adalah pejabat keagamaan atau kehakiman.
Tokoh Perempuan
Sebenarnya keberadaan tokoh perempuan di tingkat wanua (desa) sudah ada jauh sebelum masa kepemimpinan Mpu Sindok, yakni sejak masa pemerintahan Rakai Kayuwangi, raja ketujuh Mataram Kuno (802 saka)