Mengenal Abdul Hamid Nobuharu Ono, Perwira Muslim Jepang yang Fasih Berbahasa Jawa
Selama Abdul Hamid Ono berada di Nusantara, ia memiliki tugas sebagai intelijen dan informan terkait berbagai aktivitas orang-orang sekaligus tokoh muslim.
Selama Abdul Hamid Ono berada di Nusantara, ia memiliki tugas sebagai intelijen dan informan terkait berbagai aktivitas orang-orang sekaligus tokoh muslim.
Mengenal Abdul Hamid Nobuharu Ono, Perwira Muslim Jepang yang Fasih Berbahasa Jawa
Selama masa penjajahan Jepang, ada banyak orang-orang muslim yang ikut berperang melawan penjajah demi mempertahankan tanah kelahiran mereka.
Perlawanan alot itu membuat Jepang memberi perhatian khusus kepada orang-orang muslim di Nusantara. Agar pendekatan dengan orang muslim bisa berjalan dengan baik, pihak Jepang banyak menyebarkan perwira muslim sebagai agen informan mereka.
Secara umum para perwira muslim Jepang ini memiliki tugas khusus untuk memantau pergerakan para tokoh ulama muslim. Mereka kerap berkamuflase dengan menghadiri berbagai rangkaian acara agama.
Terdapat seorang perwira muslim Jepang yang memiliki keahlian berbahasa Jawa yang fasih yaitu Nobuharu Ono atau Abdul Hamid Ono sebagai nama muslimnya.
Bertugas Sebagai Intel
Selama Abdul Hamid Ono berada di Nusantara, ia memiliki tugas sebagai intelijen dan informan terkait berbagai aktivitas orang-orang sekaligus tokoh muslim. Ia juga diperintahkan untuk selalu melapor kepada Badan Intelijen Jepang atau Beppan.
Di luar aktivitasnya sebagai seorang intelijen, dirinya dibuat terkesima dengan sosok Kiai Hasyim Asy'ari dan Kiai lainnya seperti Wahab Chasbullah hingga Wahid Hasyim. Secara tidak langsung, dirinya juga cukup memihak kepada tokoh-tokoh muslim di Nusantara.
Terlibat Aktif dalam Diplomasi
Melansir dari situs fiqihislam.com, Abdul Hamid Ono sering terlibat aktif dalam diplomasi yang dicanangkan oleh KH Abdul Wahid Hasyim dalam rangka pembebasan Rais Akbar, Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari dari tahanan militer Jepang.
Peran Abdul Hamid Ono begitu besar dalam membuka jalur hubungan komunikasi dan diplomasi dengan orang-orang Jepang untuk membebaskan tokoh penting Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang itu.
Akhirnya dengan komunikasi yang baik dan pendekatan yang intensif, KH. Hasyim Asy'ari berhasil bebas dari penjara tepat sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Citra orang-orang Islam berubah di mata tentara Jepang juga berkat Abdul Hamid yang pandai dalam menjalin hubungan di antara dua pihak tersebut. Dari situ, lahirlah berbagai kerja sama politik antara Jepang dan umat Islam yang tertuang dalam berbagai jenis organisasi.
Lama Tinggal di Gresik
Sikap Abdul Hamid yang sangat berbeda dengan intel-intel Jepang lainnya pun membuat Wahid Hasyim selalu percaya kepadanya khususnya dalam diplomasi.
Kemudian, ia lama tinggal di Gresik dan menikah dengan wanita lokal. Diperkirakan ini penyebab Abdul Hamid Ono bisa fasih dalam berbahasa Jawa.