Di awal abad ke-20, Habib Ali Kwitang menjadi sosok ulama yang paling berpengaruh di masa penjajahan Belanda dan Jepang. Ia merupakan keturunan dari Rasulullah di Betawi yang turut membantu kelahiran Republik Indonesia.
Insting Habib Ali Kwitang dikenal kuat, dibantu dengan iringan zikir dan doa sebagai petunjuknya. Itulah mengapa, ia kerap menjadi rujukan dan penasihat tokoh pendiri bangsa seperti Soekarno dan Mohammad Hatta.
Tak hanya menyampaikan ilmu di wilayah Jakarta, ulama dengan nama lengkap Habib Ali bin Abdur Rahman bin Abdullah bin Muhammad al-Habsyi ini juga selalu menyempatkan untuk berdakwah ke pelosok-pelosok desa terpencil di wilayah sekitar ibu kota.
Semangat ini ia bawa dari orang tuanya yang juga sebagai pendakwah, sekaligus membakar semangat perjuangan rakyat agar tak pantang menyerah. Berikut riwayat sang keturunan Nabi Muhammad SAW yang kesohor di tanah Betawi masa lampau.
Advertisement
Merujuk islamic-center.or.id, Habib Kwitang merupakan putra dari Habib Abdur Rahman al-Habsyi atau lebih dikenal sebagai Habib Cikini. Dilansir dari islami.co, menurut buya Hamka, Habib Ali Kwitang dan Habib Tanggul Jawa Timur, yang ditanyakan kepadanya, memanglah keturunan Rasulullah dari jalur Ahmad bin Isa al-Muhajir yang berpindah dari Basrah ke Hadramaut.
Sebelum ke Batavia, Habib Cikini lahir di Kampung Arab Semarang pada 20 April 1870 dari orang tuanya yang merupakan pendatang asal Hadramaut di negeri Yaman.
Habib Cikini kemudian pindah ke Batavia untuk berdagang dan menikah dengan Nyai Hajjah Salmah. Keduanya sempat tinggal di dekat rumah seniman terkenal Raden Saleh, sebelum akhirnya mendirikan musala sebagai tempat berdakwah.
Sayangnya, Habib Cikini keburu wafat saat Habib Kwitang berusia 12 tahun. Meski begitu, semangat berdakwahnya terus diwariskan agar masyarakat Betawi mengenal ajaran Islam lebih dalam.
Advertisement
Sebelum wafat, Habib Cikini mewasiatkan agar sang putra Habib Kwitang diantar menuju Hadramaut untuk memperdalam ajaran Islam. Habib Kwitang lantas dipertemukan dengan para ulama di sana untuk mempelajari kitab-kitab.
Laman qotrunnada-depok.ponpes.id, menyebut bahwa Habib Kwitang didampingi oleh sejumlah guru di Hadramaut seperti Shohibul Mawlid Habib ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi, Habib Hasan bin Ahmad al-’Aydrus, Habib Zain bin ‘Alwi Ba’Abud, Habib Ahmad bin Hasan al-’Aththas dan Syaikh Hasan bin ‘Awadh.
Kemudian, ia juga memperdalam ilmu ke Al-Haramain (Madinah) dan didampingi oleh Habib Muhammad bin Husain al-Habsyi (Mufti Makkah), Sayyidi Abu Bakar al-Bakri Syatha ad-Dimyati, (pengarang I’aanathuth Thoolibiin yang masyhur) Syaikh Muhammad Said Babsail, Syaikh ‘Umar Hamdan.
Advertisement
Dalam menyebarkan ajaran Islam, Habib Ali Kwitang selalu bersemangat menyebarkan kebaikan hingga ke berbagai pelosok negeri. Tak hanya di Jawa Barat, namun ke banyak daerah lainnya di Indonesia.
Selain itu, ia juga menyampaikan ajaran Rasulullah ke negeri seberang seperti Singapura, Malaysia, India, Pakistan, Srilangka bahkan Mesir.
Adanya pengaruh besar dari Habib Kwitang di wilayah Batavia (kini Jakarta), membuat sosoknya banyak dihormati dan menjadi guru bagi tokoh dan budayawan setempat. Apalagi, dirinya memiliki cara berdakwah yang fleksibel dan tidak memberatkan.
Advertisement
Agar semakin mudah dijangkau, ia kemudian menetap di wilayah Kwitang, Senen,Jakarta Pusat.
Di sana, ia memantapkan dakwahnya dengan membangun Masjid Al Ryadh pada 1940. Masjid ini, jadi salah satu tempat tokoh bangsa untuk berkonsultasi dan mendiskusikan kondisi negara kepada Habib Ali Kwitang.
Soekarno dan Mohammad Hatta pun tak segan meminta arahan perihal kapan waktu yang tepat untuk memproklamasikan kemerdekaan, termasuk tempatnya yang dianggap strategis.
Dari sana kemudian, Habib Ali dikenal sebagai tokoh yang turut membantu terbentuknya negara Indonesia yang berdaulat.
Advertisement
Sampai sekarang, jejak dakwah dari ulama yang wafat pada 13 Oktober 1968 itu masih ada. Di samping masjid tersebut, turut didirikannya sebuah madrasah yang diberi nama Madrasah Unwanul Falah.
Kemudian, ia juga mempelopori pendirian majelis taklim di masa penjajahan. Majelis ini jadi yang pertama di Jakarta dan selalu diserbu jemaah dari berbagai wilayah. Sebelumnya, bisa dibilang tidak ada yang berani mendirikan karena selalu dihantui penyerangan dari Belanda dan Jepang.
Pengajian selalu rutin dilaksanakan setiap hari minggu, dengan materi dakwah seputar tauhid, kemurnian iman, solidaritas sosial hingga nilai-nilai keluhuran hingga budi pekerti dan akhlak karimah.