Terbuat dari Bambu, Begini Alat Penggiling Gabah Petani Sumedang Zaman Dulu
Walaupun tradisional, Gintiran memiliki prinsip kerja yang canggih dan mampu pisahkan gabah hingga 80 persen.
Walaupun tradisional, Gintiran memiliki prinsip kerja yang canggih dan mampu pisahkan gabah hingga 80 persen.
Terbuat dari Bambu, Begini Alat Penggiling Gabah Petani Sumedang Zaman Dulu
Ada banyak alat pertanian yang digunakan orang Sunda sejak zaman dulu, salah satunya Gintiran.
Gintiran merupakan alat penggiling gabah kuno yang terbuat dari kayu dan bambu khas warga Kabupaten Sumedang.
Walaupun termasuk perkakas tradisional, Gintiran memiliki prinsip kerja yang canggih dan mampu memisahkan gabah hingga 80 persen. Berikut selengkapnya.
Terdiri dari corong dan bak
Mengutip laman Budaya Kuring, Sabtu (2/9), Gintiran sendiri terdiri dari tiga unsur utama yakni corong, gerigi dan bak.
Corong terbuat dari bahan bambu yang disusun mengerucut ke bawah, lalu ada gerigi dan di bawahnya tersimpan bak.
Fungsi corong adalah untuk memasukkan gabah hasil panen untuk dipisahkan melalui gerigi, sebelum ditampung di bak.
Memisahkan padi dengan canggih.
Gabah yang masuk kemudian digiling secara sederhana menggunakan gerigi atau gigi-gigi yang diputar searah dengan jarum jam.
Seketika, gabah akan terpisah secara otomatis hingga bisa diolah lebih lanjut dengan durasi yang lebih singkat.
Untuk mengoperasikan Gintiran, diperlukan tenaga dua sampai tiga orang mengingat alat tersebut cukup berat saat dioperasikan.
Alat ini disebut sebagai teknologi terbaru dari lesung dan alu yang lebih tradisional.
Lesung dan alu merupakan alat pembersih gabah hasil panen, dengan mekanisme kerja ditumbuk.
Gabah yang terkumpul dari sawah, kemudian dimasukkan ke dalam wadah lesung berbahan kayu, kemudian ditumbuk-tumbuk menggunakan alu atau kayu dengan bagian bawah yang tumpul.
Gunakan mesin
Namun saat ini alat tersebut sudah jarang digunakan, karena dinilai kurang efisien.
Sebagai gantinya, para petani Sunda di saat ini lebih suka menggunakan alat yang lebih sempurna bernama heleur.
Heleur memiliki prinsip kerja serupa, namun menggunakan tenaga mesin dengan hasil gabah mencapai 90 persen lebih.
Saat ini, Gintiran tersimpan di Museum Sri Baduga, Bandung, Jawa Barat, bersama ragam perkakas tradisional Sunda lainnya.