Sejarah Pohon Natal: Kenapa Pakai Cemara dan Pinus?
Lalu, bagaimana sejarah Pohon Natal identik dengan umat Kristen dimulai?
Pohon Cemara atau Pinus identik dengan pohon Natal yang kerap hadir kala perayaan Natal. Pohon ini biasanya dihiasi dengan berbagai dekorasi dan pernak-pernik. Sementara di bawahnya diletakkan hadiah atau kado yang akan dibuka pada malam Natal.
Lalu, bagaimana sejarah Pohon Natal identik dengan umat Kristen dimulai?
Pohon Natal memiliki sejarah panjang yang berakar dari tradisi kuno hingga menjadi simbol perayaan Natal yang dikenal saat ini. Melansir history.com, penggunaan tanaman dan pohon hijau sebagai ritual sudah ada jauh sebelum munculnya agama Kristen.
Banyak orang zaman dahulu menggantungkan dahan pohon cemara di atas pintu dan jendela mereka pada musim dingin. Di banyak negara, dipercaya bahwa pohon cemara akan mengusir penyihir, hantu, roh jahat, dan penyakit.
Tradisi pohon Natal modern diyakini berasal dari Jerman pada abad ke-16. Beberapa sumber menyebutkan, Martin Luther, reformator Protestan, adalah orang pertama yang menambahkan lilin menyala pada pohon cemara setelah terinspirasi oleh bintang-bintang yang berkelap-kelip di antara pepohonan saat berjalan pulang pada suatu malam.
Natal di Inggris dan Amerika
Akhirnya, banyak keluarga Kristen Jerman mulai menghias pohon cemara menjelang perayaan Natal.Dari Jerman, ini kemudian menyebar ke berbagai negara melalui pengaruh keluarga kerajaan dan migrasi.
Di Inggris, popularitas pohon Natal meningkat setelah Ratu Victoria dan Pangeran Albert digambarkan dalam Illustrated London News sedang berdiri bersama keluarga mereka di sekitar pohon Natal yang dihias pada tahun 1846.
Akhirnya, apa yang dilakukan di istana segera menjadi mode di kalangan masyarakat umum. Di Amerika Serikat, imigran Jerman membawa tradisi pohon Natal pada awal abad ke-19.
Meskipun awalnya dianggap aneh oleh sebagian masyarakat, popularitasnya meningkat seiring waktu. Pada akhir abad ke-19, tepatnya 1890-an, hiasan pohon Natal mencapai popularitasnya di seluruh AS.
Pada abad ke-19, menghias pohon Natal telah menjadi bagian penting dari perayaan Natal di berbagai negara, termasuk Jerman, Inggris, Amerika Serikat, Kanda, Austria, Swiss, Polandia, dan Belanda.Awalnya, pada awal abad ke-20, masyarakat Amerika menghiasi pohon Natal mereka dengan ornamen yang sebagian besar dibuat sendiri.
Variasi Lampu
Sementara itu, banyak orang Amerika keturunan Jerman mempertahankan tradisi mereka dengan menggunakan apel, kacang, dan kue marzipan sebagai hiasan.
Dekorasi pohon juga mulai dilengkapi dengan untaian popcorn yang diwarnai cerah dan dihiasi dengan tambahan buah beri serta kacang-kacangan.
Kemajuan teknologi membawa inovasi berupa lampu Natal berbasis listrik, memungkinkan pohon-pohon Natal bersinar terang selama berhari-hari. Kehadiran lampu ini mendorong tradisi baru, di mana pohon Natal tidak hanya menjadi pusat perhatian di rumah tetapi juga menghiasi alun-alun kota di seluruh negeri.
Kini, tradisi Pohon Natal sudah menyebar ke seluruh negara dan menjadi bagian penting dalam perayaan Natal.
Reporter Magang: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti