Kenalan dengan Cabai Hiyung: Rawit Terpedas di Dunia Asal Indonesia
Cabai rawit ini 17 kali lebih pedas dari cabai biasa.
Kenalan dengan Cabai Hiyung: Rawit Terpedas di Dunia Asal Indonesia
Ditemukan Pak Barjo pertama kali 20 tahun lalu
Cabai hiyung pertama kali ditemukan oleh seorang petani bernama M Khalilurrahman alias Pak Barjo pada 1993. Ia membawa 200 bibit cabai dari gunung di Desa Linuh, Kab. Tapin, Kalimantan Selatan untuk dibudidayakan.
Tumbuh subur di Desa Hiyung
Sejak dibudidayakan oleh Pak Barjo di Desa Hiyung, Kab. Tapin pada 1993, cabai ini tumbuh subur dan punya kualitas bagus. Banyak masyarakat setempat yang mulai ikut menanam, hingga akhirnya cabai rawit ini disebut sebagai cabai hiyung.
Uniknya, meski bibitnya pernah dicoba ditanam di daerah lain, tetapi kualitas cabainya tak sebaik cabai hiyung. Inilah yang kemudian membuat cabai hiyung terbaik hanya bisa didapatkan secara eksklusif dari Desa Hiyung, Kab. Tapin, Kalimantan Selatan.
Cara budidayanya beda dengan cabai lain
Cabai hiyung ditanam dengan menebarkan bibit pada mulsa dari rumput rawa. Cabai ini tumbuh baik pada tanah dengan tingkat keasaman (pH) 3,5. Mulsa ini dapat menekan pertumbuhan gulma, mengurangi evaporasi tanah dan melindungi tanaman dari terik matah
Cabai hiyung punya kadar capsaicin sebesar 94.500 ppm dengan tingkat kepedasan 17 kali daripada cabai rawit biasa. Uniknya, kadar capsaicin-nya menurun jika cabai ini ditanam di luar Desa Hiyung, Kab. Tapin, Kalimantan Selatan.
17 kali lebih pedas dari rawit biasa
Cabai hiyung dapat bertahan 10-16 hari di suhu ruang. Semakin dikeringkan, semakin terasa pedasnya.
Indonesia ternyata punya banyak varietas cabai terpedas di dunia, termasuk cabai hiyung salah satunya. Penasaran apa saja?
Menangis gara-gara cabai hiyung
Saking pedasnya cabai hiyung sampai bikin nangis saat dimakan dengan bakso.