Heboh di Met Gala 2025! Lisa BLACKPINK Dikecam karena Diduga Pakai Gambar Rosa Parks di Celana Dalam
Penampilan Lisa Blackpink di Met Gala 2025 dengan setelan rancangan Louis Vuitton menimbulkan kontroversi karena detail bordir yang dianggap menyinggung.
Penampilan member BLACKPINK, Lisa, dalam ajang Met Gala 2025 sukses mencuri perhatian publik. Namun kali ini, bukan karena gaya modenya yang menawan atau keberaniannya dalam bereksperimen, melainkan karena kontroversi yang menyelimuti busana yang ia kenakan. Lisa disebut-sebut memakai pakaian dalam dengan sulaman wajah yang menyerupai tokoh ikonik hak-hak sipil Amerika, Rosa Parks. Benarkah demikian?
Tampil Berani, Tapi Menuai Sorotan
Lisa, yang baru pertama kali menghadiri Met Gala, tampil dengan gaya fashion yang berani. Ia mengenakan bodysuit berkilau yang menyerupai lingerie, dipadukan dengan blazer hitam, stoking gelap, dan tas tangan penuh mutiara.
Penampilannya langsung menjadi perbincangan hangat, terutama karena tampak berbeda dari dua rekannya di BLACKPINK—Jennie dan Rosé—yang tampil lebih tertutup dengan balutan Chanel dan Saint Laurent.
Namun, satu detail kecil justru mengubah arah sorotan media dan publik. Pada pakaian dalam yang dikenakan Lisa, terdapat bordiran wajah seseorang yang disebut-sebut mirip dengan Rosa Parks—ikon gerakan hak-hak sipil di Amerika Serikat.
Rosa Parks: Simbol Perjuangan dan Pengorbanan
Rosa Parks dikenal sebagai “ibu dari gerakan hak-hak sipil” di AS. Ia dikenang karena keberaniannya menolak memberikan tempat duduk di bus kepada penumpang kulit putih di Montgomery, Alabama, tahun 1955. Aksinya memicu boikot bus yang menjadi titik awal gerakan besar melawan diskriminasi rasial di Amerika.
Maka tidak mengherankan jika publik, khususnya netizen Amerika, merasa tersinggung ketika melihat wajah yang mirip Rosa Parks berada di tempat yang dianggap tidak pantas—yaitu di celana dalam Lisa.
Klarifikasi dan Bantahan
Meski banyak media dan warganet meyakini gambar tersebut adalah wajah Rosa Parks, pihak Louis Vuitton selaku rumah mode yang mendesain busana Lisa memberikan klarifikasi.
Mereka menyebut bahwa bordiran tersebut merupakan bagian dari karya seni kolaborasi dengan seniman Henry Taylor. Dalam pernyataannya, Louis Vuitton menjelaskan bahwa sulaman dalam busana Lisa menggambarkan "potret-potret orang yang memiliki peran dalam kehidupan sang seniman."
Sumber lain seperti TMZ juga menyebut bahwa “beberapa potret karya Henry Taylor disulam ke dalam busana Lisa.” Meski tak menyebut secara spesifik nama Rosa Parks, netizen tetap merasa kesamaan visual wajah yang disulam sangat mengganggu, terutama karena latar belakang sosok Parks yang penuh perjuangan dan hormat.
Reaksi Publik dan Permintaan Maaf
Tak lama setelah kehebohan ini mencuat, Lisa menerima banyak kecaman. Di media sosial, ia bahkan disebut sebagai "worst-dressed celeb of the night" oleh beberapa media dan pengamat fashion. Warganet pun ramai-ramai menyerukan agar Lisa dan tim stylist-nya lebih sensitif dalam memilih elemen desain, apalagi yang menyangkut tokoh bersejarah.
Dalam perkembangan selanjutnya, Lisa menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada para penggemar dan publik. Ia mengaku tidak tahu bahwa bordiran tersebut akan menimbulkan kontroversi sebesar ini.
Meski tidak menyebut nama Rosa Parks secara langsung, Lisa menyatakan bahwa ia "sangat menghormati perjuangan tokoh-tokoh yang telah berjasa dalam sejarah dunia" dan "tidak pernah berniat untuk merendahkan siapa pun."
Antara Ekspresi Seni dan Batas Sensitivitas
Kontroversi ini membuka diskusi lebih luas tentang batas antara kebebasan berekspresi dalam dunia mode dan tanggung jawab sosial. Kolaborasi antara Lisa dan seniman Henry Taylor sebenarnya punya nilai artistik yang tinggi. Namun, ketika karya seni itu masuk ke ranah publik dan dikaitkan dengan ikon perjuangan seperti Rosa Parks, sensitivitas publik menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.
Dalam budaya barat, khususnya Amerika, Rosa Parks bukan hanya simbol, melainkan bagian dari harga diri komunitas kulit hitam. Wajahnya dianggap suci dan bersejarah, dan banyak yang menilai bahwa menempatkannya dalam elemen busana yang intim adalah tindakan tidak pantas—meski dilakukan tanpa niat buruk.
BLACKPINK Tetap Bersinar di Tengah Kontroversi
Di luar kontroversi Lisa, kehadiran BLACKPINK di Met Gala 2025 tetap menjadi sorotan. Jennie, yang mengenakan gaun khusus rancangan Coco Chanel, tampil memukau. Dalam wawancara bersama Vogue, ia mengungkap bahwa ia melakukan riset mendalam untuk menyesuaikan gaunnya dengan tema Met Gala tahun ini: Tailored for You.
Rosé, yang memilih tampilan maskulin dengan tuxedo hitam oversized hasil kolaborasi dengan Anthony Vaccarello, juga menuai pujian karena tampil unik namun tetap elegan. Keduanya sempat membahas rencana comeback BLACKPINK.
Jennie mengatakan dengan semangat, "It’s gonna be good, and we’re really excited to meet our fans." Sementara Rosé mengonfirmasi bahwa mereka baru saja berada di studio bersama di Korea dan menyatakan, "We’ve got new music coming out."
Penampilan Pertama yang Sulit Dilupakan
Bagi Lisa, penampilan debut di Met Gala 2025 ini jelas akan dikenang—baik oleh penggemar maupun kritikus. Sayangnya, bukan karena kecemerlangan fashion semata, tetapi karena kontroversi yang menyertainya.
Meski sudah ada klarifikasi dan permintaan maaf, kejadian ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya memahami konteks budaya, terutama ketika tampil di panggung internasional.
Kontroversi yang menimpa Lisa BLACKPINK di Met Gala 2025 menunjukkan betapa sensitifnya isu representasi, terutama ketika menyangkut tokoh historis dan simbol perjuangan. Di satu sisi, seni dan fashion bisa menjadi wadah ekspresi yang luas, tetapi di sisi lain, tetap harus ada kesadaran sosial dalam menampilkan karya tersebut ke publik.
Lisa telah meminta maaf dan pihak Louis Vuitton telah memberikan klarifikasi, tetapi peristiwa ini akan tetap menjadi pengingat bahwa dalam dunia global, setiap detail memiliki maknanya sendiri.