Sekjen PBB Ungkap Lebih dari 300 Juta Orang di Dunia Tak Punya Rumah
Sekjen PBB kemarin mengatakan lebih dari 300 juta orang tak punya rumah di seluruh dunia, sebuah angka mengejutkan yang menyoroti krisis hunian global.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, pada Senin, 6 Oktober 2025, mengungkapkan data mengejutkan. Ia menyatakan bahwa lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia saat ini tidak memiliki rumah. Pernyataan ini disampaikan dalam rangka peringatan Hari Habitat Sedunia.
Guterres juga menyoroti bahwa sekitar satu dari delapan penduduk global tinggal di kawasan kumuh atau pemukiman informal. Krisis perumahan ini menjadi perhatian serius di tengah laju urbanisasi yang pesat. Hal ini menunjukkan skala masalah hunian yang mendesak di berbagai belahan dunia.
Hari Habitat Sedunia, yang diperingati setiap Senin pertama bulan Oktober, tahun ini mengusung tema "Solusi Perkotaan untuk Krisis". Tema tersebut bertujuan untuk mencari berbagai solusi inovatif terhadap masalah pengungsian paksa dan kurangnya tempat tinggal. Ini termasuk mengatasi isu tunawisma yang terus meningkat secara global.
Krisis Tunawisma Global dan Pemicunya
Krisis tunawisma global bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari berbagai permasalahan kompleks yang melanda dunia. Sekjen PBB Guterres menjelaskan bahwa kota-kota seringkali menjadi garda terdepan dalam menanggung dampak krisis ini. Konflik, ketidakstabilan politik, serta kondisi darurat iklim telah memaksa setidaknya 123 juta orang meninggalkan tempat tinggal mereka. Mereka mencari perlindungan di kota-kota yang sudah padat.
Sebagian besar dari para pengungsi ini berupaya mencari keselamatan di pusat-pusat kota yang sudah berada di bawah tekanan besar. Akibatnya, layanan kesehatan, sistem air, dan jaringan transportasi di kota-kota tersebut menjadi kewalahan. Kondisi ini juga meningkatkan risiko terjadinya bencana baru, memperparah situasi hunian yang sudah sulit. Ketersediaan perumahan layak menjadi tantangan serius.
Lebih lanjut, krisis perumahan global diperparah dengan fakta bahwa sekitar 2,8 miliar orang, atau lebih dari sepertiga populasi dunia, tidak memiliki akses ke perumahan yang layak. Data UN-Habitat menunjukkan bahwa 1,1 miliar orang saat ini tinggal di permukiman informal atau kumuh. Mayoritas dari mereka, sekitar 90 persen, terkonsentrasi di wilayah Afrika dan Asia, menunjukkan ketimpangan yang signifikan.
Pendorong utama di balik pengungsian dan ketidakamanan perumahan ini meliputi konflik bersenjata dan ketidaksetaraan ekonomi yang mendalam. Perubahan iklim dan bencana alam juga berperan besar dalam memaksa jutaan orang hidup dalam kondisi hunian yang tidak menentu. Situasi ini menuntut perhatian serius dari komunitas internasional.
Upaya PBB dan Rekomendasi Solusi
Dalam menghadapi krisis ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah aktif menginisiasi berbagai upaya dan rekomendasi. Sejak tahun 1985, PBB menetapkan Hari Habitat Sedunia sebagai momen refleksi kondisi tempat tinggal manusia. Hari ini juga mengingatkan akan hak dasar setiap individu untuk memperoleh rumah yang layak dan aman. Ini adalah komitmen jangka panjang PBB.
António Guterres menekankan bahwa kota-kota memiliki potensi besar sebagai tempat lahirnya solusi inovatif. Jika perencanaan kota dilakukan secara inklusif, pendatang baru dapat berkontribusi positif. Mereka dapat membantu menggerakkan ekonomi lokal, memperkuat komunitas, serta memperkaya budaya masyarakat perkotaan. Pendekatan ini sangat penting untuk pembangunan berkelanjutan.
PBB menyoroti berbagai solusi konkret, mulai dari penyediaan perumahan yang lebih baik hingga pengakuan hak atas tanah yang adil. Perbaikan sistem air dan sanitasi juga menjadi prioritas utama untuk meningkatkan kualitas hidup. Organisasi ini juga menghargai peran kepemimpinan walikota dan pemerintah daerah, serta ketangguhan komunitas perkotaan, khususnya perempuan dan pemuda.
Laporan Sekretaris Jenderal PBB tahun 2023 mengenai "Kebijakan dan program inklusif untuk mengatasi tunawisma" memberikan panduan penting. Laporan tersebut menyoroti perlunya definisi tunawisma yang kuat dan inklusif untuk efektivitas kebijakan. Selain itu, laporan ini merekomendasikan kebijakan berbasis hak asasi manusia dan fokus pada pencegahan universal serta bertarget. Semua negara telah berkomitmen secara internasional untuk menghilangkan tunawisma melalui Agenda 2030, di bawah Target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 11.1.
Data dan statistik terbaru semakin memperjelas skala krisis tunawisma dan perumahan tidak layak di seluruh dunia:
- Menurut perkiraan terbaru UN-Habitat, 318 juta orang tunawisma dan 2,8 miliar orang tidak memiliki akses ke perumahan yang layak.
- UN-Habitat juga memperkirakan antara 1,6 miliar hingga 3 miliar orang secara global kekurangan perumahan yang layak.
- Setidaknya 330 juta orang mengalami tunawisma absolut, menurut Institute of Global Homelessness.
- Pada tahun 2022, lebih dari 1,12 miliar orang tinggal di permukiman informal dan kumuh, meningkat 130 juta dari tahun 2015.
- Laporan PBB tahun 2005 memperkirakan sekitar 100 juta orang tunawisma dan 1,6 miliar orang kekurangan perumahan layak.
- Forum Ekonomi Dunia melaporkan 150 juta orang tunawisma pada tahun 2021.