Lonjakan Partisipasi Warga Palestina di Pemilu Israel, Tertinggi dalam Puluhan Tahun

Partisipasi warga Palestina di Israel melonjak pada Pemilu Israel 2026. Total turnout juga tertinggi sejak 1999. Simak respons kandidat dan data resminya.

Septian Deny
Oleh Septian Deny- Reporter
Lonjakan Partisipasi Warga Palestina di Pemilu Israel, Tertinggi dalam Puluhan Tahun
Para pria Yahudi ultra-Ortodoks bekerja di markas partai United Torah Judaism (Yahadut HaTorah) selama pemilihan umum Israel di Yerusalem, Selasa, 27 Oktober 2026. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Pemilu Israel 2026 diwarnai lonjakan partisipasi pemilih dari warga Palestina di Israel. Mengutip Al Jazeera dan BBC, Rabu (28/10/2026), Channel 12 Israel pada Selasa melaporkan tingkat kehadiran kelompok ini diperkirakan sekitar 80 persen, melampaui rekor 1999.

Secara keseluruhan, Komite Pemilihan Umum Pusat Israel mencatat 77,7 persen pemilih menggunakan hak suaranya pada Selasa, menjadi tingkat partisipasi nasional tertinggi sejak 1999.

Warga Palestina di Israel mencakup sekitar 21 persen dari populasi yang berjumlah 10 juta jiwa. Secara historis, tingkat partisipasi mereka lebih rendah dibandingkan warga Yahudi Israel, namun kali ini kenaikan tajam menempatkan pemilih Palestina-Israel sebagai salah satu kelompok yang berpotensi menentukan arah pembentukan pemerintahan berikutnya.

Nour Odeh, jurnalis Al Jazeera yang melaporkan dari Ramallah, menyebut pemilu ini sebagai "momen eksistensial bagi warga Palestina-Israel".

Menurut Odeh, lonjakan partisipasi juga mencakup mereka yang biasanya memboikot pemilu karena merasa suara tidak berpengaruh, tidak mengubah kondisi hidup, atau mengatasi diskriminasi sistemik.

Ia menambahkan Knesset telah mengesahkan lebih dari 100 undang-undang yang mendiskriminasi warga Palestina di Israel, sementara akses terhadap pendanaan negara juga kerap tidak setara.

Di sisi lain, sepanjang hari pemungutan suara, Perdana Menteri petahana Benjamin Netanyahu berulang kali menyoroti tingginya partisipasi pemilih Arab melalui unggahan di media sosial. Ia menyebut situasi itu sebagai kondisi darurat dan persoalan hidup atau mati bagi kubu sayap kanan, seraya mengajak para pendukungnya datang ke TPS.

Partai Likud yang dipimpinnya meminta agar waktu pemungutan suara diperpanjang melewati pukul 22.00 waktu setempat (20.00 GMT). Kubu Gadi Eisenkot menilai langkah itu sebagai upaya menyiapkan dasar bagi tuduhan yang dapat menggugat integritas pemilu.

Sejumlah partai besar melaporkan dugaan pelanggaran di berbagai TPS pada Selasa pagi. Namun Komite Pemilihan Umum Pusat Israel menyatakan tidak ada bukti manipulasi surat suara secara sistematis.

Sistem pemilu proporsional Israel membuat pemerintahan selalu dibentuk melalui koalisi, kerap melahirkan aliansi yang tak terduga. Pada pemilu kali ini, persaingan dinilai sangat ketat dan sejumlah pihak telah menetapkan batas tegas mengenai partai mana yang bersedia diajak bekerja sama.

Persaingan Ketat di Pemilu Israel

Perebutan kursi perdana menteri berlangsung ketat antara petahana Benjamin Netanyahu dan mantan Kepala Staf Militer Israel, Gadi Eisenkot.

Jajak pendapat yang dirilis pada Jumat menunjukkan dukungan keduanya hampir berimbang. Meski demikian, tidak satu pun blok politik mereka diproyeksikan meraih 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.

Kondisi tersebut membuka peluang negosiasi koalisi berlangsung berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, setelah hasil resmi diumumkan.

Kampanye tahun ini didominasi isu demokrasi dan keamanan, dan secara luas dipandang sebagai referendum terhadap kepemimpinan Netanyahu.

Rekomendasi