Belasan orang mengatasnamakan Pejuang Merah Putih mendatangi rumah Jokowi di Jalan Kutai Utara Solo, Rabu (28/10). Mereka membawa poster bertuliskan desakan agar Gibran Rakabuming Raka mundur dari kursi Wakil Presiden RI.
Aksi dipimpin Bangun Satoto, alumnus UGM yang pernah gagal menggugat keaslian ijazah Jokowi di Pengadilan Negeri Surakarta. Bangun juga sekaligus Ketua Pejuang Merah Putih.
Sebelum masuk gang Kutai Utara, Bangun dan rombongan melakukan konvoi dengan kendaraan roda dua. Mereka juga menyampaikan aspirasi ke sekolah Gibran, SDN 16 Mangkubumen, SMPN 1 Manahan, DPRD Solo, PDIP dan Gerindra.
Dalam pernyataannya di lokasi gang masuk rumah Jokowi, Bangun menyebut kedatangan mereka adalah bentuk kepedulian terhadap konstitusi dan etika politik.
"Setelah kami amati dan pelajari, kami simpulkan bahwa ambisi untuk meneruskan rezim Bapak Jokowi terus muncul di masyarakat. Dan hal itu sangat tidak etis sekaligus tidak mendidik bagi semuanya," ujar Bangun.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384750/original/029449700_1793180876-IMG-20261028-WA0023.jpg)
Dia menegaskan, berpolitik adalah hak yang dilindungi konstitusi, namun harus tetap patuh pada aturan hukum.
"Yang harus dilakukan adalah berpolitik dengan mematuhi aturan hukum, bukan justru merekayasa politik. Berpolitik adalah hak seseorang yang dilindungi konstitusi dan UU," kata dia.
Bangun juga menyinggung posisi Gibran sebagai Wapres yang menurutnya merupakan bentuk penyalahgunaan kekuasaan.
"Mendudukkan anak sebagai bukti kejahatan hukum dan politik. Gibran Rakabuming Raka menjadi wakil presiden adalah salah satu bukti. Mereka telah menggunakan kekuasaannya untuk menduduki kursi tersebut," ujar dia.
Tak hanya itu, dia menduga ada kepentingan asing di balik upaya mempertahankan pengaruh rezim Jokowi.
"Kami menduga ada agenda tersembunyi dari negara asing yang masih menghendaki rezim Bapak untuk tampil kembali karena kebijakan-kebijakan Bapak yang banyak menguntungkan mereka saat menjabat Presiden RI," kata Bangun.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384749/original/091199200_1793180875-IMG-20261028-WA0022.jpg)
Menurutnya, desakan agar Gibran mundur kini semakin besar dari masyarakat.
"Diperparah lagi, saat ini sudah banyak rakyat yang meminta Sdr. Gibran Rakabuming Raka untuk mengundurkan diri," kata Bangun.
Oleh karena itu, mereka meminta Jokowi turun tangan langsung.
"Oleh karena itu, kami meminta kepada Bapak Jokowi untuk bersedia memaksa Sdr. Gibran Rakabuming Raka turun dari kursi Wakil Presiden RI agar tidak terjadi pemakzulan yang tentunya akan sangat memalukan dan merendahkan harga diri," tegas Bangun.
Aksi ditutup dengan pernyataan atas nama rakyat dan konstitusi.
"Atas nama seluruh rakyat Indonesia dan konstitusi, kami meminta Bapak Joko Widodo dan Sdr. Gibran Rakabuming Raka bersikap jujur dan cinta NKRI," pungkasnya.
Sebelum meninggalkan lokasi, Bangun dan rombongan menyerahkan surat untuk Jokowi. Surat tersebut diterima perwakilan Paspampres, Zainuddin.
"Sebenarnya kita persilahkan mereka bertemu pak Jokowi. Tapi tetap ikut antri seperti para tamu lainnya. Tapi mereka tidak mau, karena masih ada beberapa agenda. Kita terima suratnya, sesuai prosedur kita serahkan ke ajudan, pak Syarif (AKBP Syarif Muhammad Fitriansyah) dan baru diteruskan ke bapak," ucapnya.
Pada 10 September 2026 Bangun dan belasan warga yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Indonesia Bergerak (ARIB) mendatangi kediaman Jokowi.
Bangun mengatakan, aksi tersebut ditujukan untuk memberikan peringatan kepada Jokowi terkait pertemuannya dengan Ketua Umum Projo, Budi Arie beberapa waktu lalu yang terindikasi adanya rencana makar.
"Kami ingin menyampaikan sepucuk surat dan satu buah plakat untuk bapak Joko Widodo. Karena bapak Jokowi belum lama ini duduk di sebelah Budi Arie Setiadi yang menyampaikan indikasi adanya makar. Karena itu kami sebagai anak bangsa mewakili seluruh rakyat Indonesia tidak bisa tinggal diam. Karena itu kepada bapak Joko Widodo, kerana beliau sebagai manusia sama seperti kami. Maka kami mengingatkan sebagai bentuk kepedulian kemi kepada NKRI. Karena itu kami berikan surat dan plakat yang berisi filosofi jawa," kata dia.
Advertisement

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384751/original/050814900_1793180876-IMG-20261028-WA0024.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384835/original/092784500_1793182719-email-attachment_2026_10_28_muhamad-kadafi_judul-bmkg-bali-ungkap-penyebabnya-langit-buleleng-kelabu-sejak-3-hari_1001404359.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384758/original/050700200_1793181245-WhatsApp_Image_2026-10-28_at_16.25.04.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1700246/original/069104100_1504586129-Tembak-Senjata-Api1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384726/original/094256900_1793180309-WhatsApp_Image_2026-10-28_at_16.24.53.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4377609/original/074279000_1680170141-6b6255c4-785c-42a5-9532-f6b2957a0cbb.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384714/original/023499900_1793179748-Polisi_bunuh_ibu_kandung.jpg)