Satu Candaan Mbappé Bikin Geger China

Candaan Mbappe soal meme yang menyentuh Mao Zedong berbuntut panjang. Kontrak iklan di China diputus dan siaran LaLiga ikut terdampak. Ini rangkaian faktanya.

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida- Reporter
Satu Candaan Mbappé Bikin Geger China
Penyerang Real Madrid asal Prancis, Kylian Mbappe, memberi isyarat saat laga La Liga melawan Athletic Bilbao di San Mames, Bilbao, 3 Desember 2025. (ANDER GILLENEA / AFP)

Wajah Kylian Mbappe sudah lama akrab bagi publik China, terpampang di papan reklame hingga kemasan minuman. Namun, popularitas itu berubah menjadi sorotan setelah candaan tentang meme yang menyerempet Mao Zedong berujung kegaduhan, termasuk langkah pemutusan kerja sama oleh sejumlah perusahaan serta dampak ke penayangan sepak bola Spanyol. Informasi ini mengacu pada laporan Associated Press (AP) pada Selasa (27/10), serta pemberitaan AFP dan media China.

Mbappe, bintang Prancis yang kini membela Real Madrid, terlibat dalam berbagai kampanye iklan di China. Dalam salah satu materi promosi, ia bahkan tampil mengucapkan slogan berbahasa Mandarin.

Kontroversi bermula dari cuplikan wawancara menjelang penampilannya di acara bincang-bincang daring asal Prancis, The Bridge. Sang pemain ditanya soal meme favorit yang menampilkan dirinya—meme lazimnya berupa gambar atau video yang diedit dan disebar di internet untuk tujuan humor. Ia menjawab, "Video yang dibuat seseorang tentang seorang pria ... kalau tidak salah, dia seorang diktator China," ujar Mbappe dalam cuplikan tersebut.

Mbappe tidak menyebut nama Mao secara langsung. Namun, video itu kemudian memperlihatkan gambar hasil suntingan yang menampilkan wajahnya pada tubuh Mao dengan pakaian biru. Di kalangan penggemar, Mbappe memang kerap dijuluki “diktator” sebagai bahan candaan—AP mencatat julukan itu merujuk pada anggapan bahwa pengaruhnya besar hingga membayangi rekan setim dan klub. Mengaitkannya dengan Mao menjadi sensitif di China karena status Mao sebagai tokoh utama sejarah modern negara tersebut.

Tiga Sponsor Cabut, Siaran LaLiga di China Dihentikan

Menurut AP, perusahaan yang mengumumkan penghentian kerja sama dengan Mbappe adalah produsen minuman energi Dongpeng, perusahaan produk susu Mengniu, dan produsen keju Milkground.

Dalam pernyataan bernada serupa, ketiganya menegaskan menolak perkataan dan tindakan yang melukai sentimen nasional. Mereka tidak merinci alasan spesifik pemutusan kerja sama, namun pengumumannya muncul setelah cuplikan wawancara Mbappe beredar luas.

Sebelum kontroversi ini, Mbappe menjadi salah satu figur pemasaran ketiga merek tersebut. Dalam iklan Mengniu, misalnya, ia tampil bersama bintang Argentina, Lionel Messi.

Reaksi warganet di China juga merebak. Mengacu laporan ABC Australia, pengumuman Dongpeng menjadi topik populer di Weibo. Sejumlah pengguna mengkritik Mbappe, sementara seruan boikot turut bermunculan.

Platform sepak bola China, Dongqiudi, menyatakan tidak akan menerjemahkan komentar Mbappe karena dinilai menyinggung China dan masyarakatnya.

Sementara itu, AP melaporkan platform media sosial Xiaohongshu—dikenal internasional sebagai RedNote—berencana menghapus materi promosi terkait Mbappe dan membatasi akunnya agar tidak dapat menerima pengikut baru. RedNote menambahkan, kerja sama kontennya dengan Mbappe telah berakhir pada 31 Desember 2024.

Kontroversi turut menjalar ke ranah siaran. Media China, The Paper, menyebut televisi pemerintah menghentikan penayangan pertandingan dan program terkait kompetisi LaLiga serta Mbappe.

Permintaan Maaf Mbappe dan Upaya LaLiga Menjaga Mitra di China

Merespons polemik, Mbappe menyampaikan permintaan maaf melalui sebuah pernyataan tertulis. Ia mengakui ucapannya keliru dan menyinggung banyak pihak.

"Komentar saya tidak tepat, dan sekarang saya memahami bahwa perkataan tersebut telah menyakiti banyak orang di China maupun komunitas warga China di seluruh dunia," ujar Mbappe, seperti dikutip AP.

"Saya meminta maaf kepada semua pihak yang tersinggung oleh perkataan saya. Itu sama sekali bukan maksud saya. Saya sangat menghormati rakyat China dan sejarah mereka, dan saya dengan tulus meminta maaf," lanjutnya.

Pemerintah China turut menanggapi melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Guo Jiakun. Menurut ABC Australia, Guo menekankan bahwa perkataan maupun tindakan yang melukai perasaan masyarakat akan mendapat penolakan.

"Perkataan dan tindakan yang melukai perasaan rakyat China tentu akan mendapat penolakan bersama dari berbagai lapisan masyarakat China," kata Guo.

Penyesalan juga disampaikan penyelenggara LaLiga. Dalam pernyataannya, LaLiga menegaskan komentar Mbappe disampaikan dalam kapasitas pribadi dan tidak mewakili organisasi maupun klub anggotanya.

Presiden LaLiga, Javier Tebas, menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang timbul dan menekankan pentingnya menjaga relasi yang sudah terbangun dengan mitra dan penggemar di China.

"Hubungan yang telah dibangun selama bertahun-tahun tidak boleh rusak hanya karena satu kejadian," tulis Tebas di platform X.

LaLiga menyatakan akan menyusun protokol komunikasi serta program peningkatan pemahaman lintas budaya bersama klub dan pemain, untuk memperkuat penghormatan terhadap perbedaan serta mencegah terulangnya kasus serupa.

Posisi Mao Zedong di China dan Alasan Isu Ini Peka

Besarnya reaksi terhadap komentar Mbappe berkaitan dengan kedudukan Mao dalam sejarah modern China.

Mao merupakan tokoh revolusioner yang memimpin Partai Komunis China pada fase awal pertumbuhannya.

Di bawah kepemimpinannya, Partai Komunis memenangkan perang saudara melawan Partai Nasionalis, yang mengantarkannya pada pendirian Republik Rakyat China pada 1949.

Hingga kini, Mao masih dihormati banyak warga China. Namun, sejarah pemerintahannya juga merekam corak kekuasaan otoriter dan kebijakan yang menimbulkan penderitaan besar.

Salah satunya Lompatan Jauh ke Depan (Great Leap Forward), program industrialisasi yang berujung kelaparan besar dan diperkirakan menewaskan sekitar 30 juta orang.

Meski warisannya memunculkan penilaian beragam, kritik terhadap Mao sangat dibatasi di China. Ucapan yang dianggap merendahkan tokoh tersebut mudah memicu kontroversi.

Mengutip Sky News, seorang pembawa acara stasiun televisi pemerintah China, CCTV, pernah didesak dijatuhi "hukuman berat" pada 2015 setelah video yang memperlihatkan dirinya menghina Mao beredar di internet.

Rekomendasi