Taruhan Penangkapan Maduro, Prajurit Amerika Serikat Didakwa Usai Raup Rp7,2 Miliar

Prajurit Amerika Serikat didakwa karena diduga memakai info rahasia untuk bertaruh soal penangkapan Nicolas Maduro. Keuntungannya disebut Rp7,2 miliar.

Septian Deny
Oleh Septian Deny- Reporter
Taruhan Penangkapan Maduro, Prajurit Amerika Serikat Didakwa Usai Raup Rp7,2 Miliar
Tentara AS dari Brigade ke-2 dari Divisi Lintas Udara ke-11 menembak bersama dengan tentara India berpartisipasi dalam latihan pembunuhan target selama latihan bersama Indo-US atau Yudh Abhyas di Auli, Uttarakhand, India, 29 November 2022. Militer India dan Amerika Serikat menggelar latihan tempur dengan medan pegunungan yang disengketakan dengan China. (AP Photo/Manish Swarup)

Seorang prajurit pasukan khusus Amerika Serikat (AS) yang terlibat dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap otoritas federal. Dikutip dari ABC News, Selasa (27/10/2026), Departemen Kehakiman AS menyebut prajurit bernama Gannon Ken Van Dyke itu diduga menggunakan informasi rahasia pemerintah untuk memasang taruhan di platform pasar prediksi Polymarket, beberapa hari sebelum Presiden Donald Trump mengumumkan penangkapan Maduro.

Penyelidik federal menyebut Van Dyke menempatkan taruhan senilai lebih dari US$33.000. Serangkaian transaksi tersebut menghasilkan keuntungan lebih dari US$409.000 atau sekitar Rp 7,2 miliar, memicu kecurigaan di kalangan pelaku pasar prediksi dan penyelidikan berbulan-bulan terkait dugaan penggunaan informasi orang dalam.

Van Dyke didakwa atas sejumlah tuduhan, antara lain penggunaan informasi rahasia secara ilegal untuk keuntungan pribadi, pencurian informasi pemerintah yang tidak tersedia untuk publik, penipuan komoditas, dan penipuan melalui sarana elektronik.

Menurut dakwaan, setelah memasang taruhan, Van Dyke mengetahui adanya laporan aktivitas perdagangan tidak wajar terkait misi penangkapan Maduro. Ia kemudian diduga mencoba menghapus akun Polymarket dan mengganti alamat email yang terdaftar pada akun bursa mata uang kriptonya guna menghilangkan jejak transaksi.

"Alih-alih melindungi informasi tersebut sebagaimana kewajibannya, VAN DYKE memutuskan menggunakan informasi rahasia itu untuk melakukan perdagangan di platform pasar prediksi demi keuntungan pribadi," demikian bunyi dokumen dakwaan.

Dokumen yang sama menyebut Van Dyke berupaya menyembunyikan penggunaan informasi rahasia pemerintah AS secara ilegal dengan mengaburkan sumber keuntungan dan menyamarkan keterkaitannya dengan akun-akun yang digunakan dalam transaksi. Hingga laporan ini disusun, belum diketahui apakah Van Dyke telah memiliki pendampingan hukum.

Beberapa hari sebelum Trump mengumumkan operasi penangkapan Maduro yang diberi sandi Operation Absolute Resolve, Van Dyke memasang serangkaian taruhan di Polymarket, termasuk prediksi apakah Maduro akan lengser sebelum 31 Januari dan apakah AS akan menginvasi Venezuela. Trump menyatakan operasi itu direncanakan secara cermat dan dilaksanakan pada malam hari.

"Kita kembali menjadi negara yang dihormati, mungkin seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Trump setelah operasi tersebut.
"Para prajurit terlatih ini, yang bekerja sama dengan penegak hukum AS, menangkap mereka dalam posisi yang sangat siap," lanjutnya.

Meski dakwaan tidak merinci peran Van Dyke dalam operasi, jaksa menyebut ia pernah difoto di geladak kapal USS Iwo Jima, tempat Maduro dipindahkan setelah ditangkap. Dalam foto itu, Van Dyke terlihat mengenakan seragam militer dan memegang senapan bersama sejumlah personel lainnya.

Pihak Polymarket menyatakan seorang pengguna yang membuat akun pada Desember 2025 menempatkan US$ 33.933 dalam empat prediksi terkait invasi AS ke Venezuela dan penangkapan Maduro. Taruhan terbesarnya, senilai US$ 32.537, dipasang pada pasar yang memprediksi Maduro tidak lagi menjabat pada 31 Januari dan menghasilkan US$ 404.222, dengan tingkat keuntungan 1.242 persen.

Juru bicara Polymarket menegaskan perusahaan telah melaporkan aktivitas mencurigakan itu kepada Departemen Kehakiman AS dan bekerja sama dalam penyelidikan.

"Perdagangan berdasarkan informasi orang dalam tidak memiliki tempat di Polymarket. Penangkapan hari ini membuktikan bahwa sistem berjalan sebagaimana mestinya," demikian pernyataan perusahaan yang diunggah melalui platform X.

Trump Bandingkan Taruhan Prajurit dengan Kasus Pete Rose

Penangkapan dan dakwaan terhadap Van Dyke diyakini menjadi kasus pertama ketika Departemen Kehakiman AS menuntut seseorang atas dugaan perdagangan berdasarkan informasi orang dalam di pasar prediksi.

Polymarket, yang dikenal sebagai salah satu platform pasar prediksi terbesar, memungkinkan pengguna memasang taruhan secara anonim terhadap berbagai peristiwa di masa depan melalui kontrak berbasis pertanyaan dengan opsi ya atau tidak.

Walau pasar prediksi berada di bawah pengawasan Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC), waktu transaksi yang dinilai mencurigakan di platform seperti Polymarket dan Kalshi telah menimbulkan kekhawatiran mengenai praktik perdagangan berbasis informasi orang dalam.

Selain taruhan terkait Maduro yang menghasilkan lebih dari US$400.000, pengguna Polymarket lainnya dilaporkan meraup sekitar US$550.000 melalui serangkaian taruhan terkait serangan AS terhadap Iran dan kemungkinan lengsernya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Menanggapi pertanyaan wartawan pada Kamis tentang taruhan yang dipasang Van Dyke, Trump membandingkannya dengan kasus mantan pemain bisbol Pete Rose.

"Itu seperti Pete Rose yang bertaruh pada timnya sendiri," kata Trump di Ruang Oval Gedung Putih.
"Pete Rose dilarang masuk Hall of Fame karena bertaruh pada timnya sendiri. Kalau dia bertaruh melawan timnya, itu tidak baik. Namun, dia bertaruh pada timnya sendiri," ujar Trump.

Trump menambahkan akan mempelajari kasus tersebut dan menyinggung kekhawatiran lebih luas mengenai pegawai federal yang memasang taruhan soal konflik Iran dan isu lainnya, seraya menyebut dunia kini bak kasino.

"Lihat apa yang terjadi di seluruh dunia, di Eropa dan di mana-mana. Mereka melakukan hal-hal taruhan ini. Saya tidak pernah terlalu mendukungnya. Secara konsep, saya tidak menyukainya, tetapi begitulah kenyataannya," kata Trump.
"Ini dunia yang gila. Dunia sekarang sangat berbeda dibandingkan dahulu," ujarnya.

Jaksa Amerika Serikat Telusuri Payung Hukum Perdagangan Orang Dalam

Pada awal Maret, Jaksa AS untuk Distrik Selatan New York, Jay Clayton, mengonfirmasi kantornya aktif mengkaji kemungkinan penggunaan ketentuan hukum untuk menuntut individu yang berupaya memanipulasi pasar prediksi demi keuntungan pribadi.

"Para jaksa saya sedang sibuk mempelajari undang-undang apa yang bisa kami gunakan, yang serupa dengan undang-undang perdagangan orang dalam," kata Clayton kepada CNBC.

Meski pasar prediksi relatif baru, jaksa dinilai dapat menggunakan perangkat hukum yang telah berlaku selama puluhan tahun untuk menangani perkara serupa.

Noah Solowiejczyk, mitra di firma hukum Fenwick & West sekaligus mantan jaksa federal di Manhattan, menyebut Undang-Undang Bursa Komoditas AS (Commodities Exchange Act) dapat diterapkan dalam kasus tersebut.

"Undang-undang Bursa Komoditas menangani situasi seperti ini," kata Solowiejczyk, yang saat menjadi jaksa pernah menangani kasus perdagangan orang dalam mata uang kripto untuk pertama kalinya.

Ia menjelaskan ada ketentuan yang melarang pegawai atau agen pemerintah federal memperdagangkan aset berdasarkan informasi rahasia pemerintah yang mereka peroleh.

Namun, Solowiejczyk mengingatkan jaksa mungkin perlu menyiapkan proses edukasi bagi calon juri agar mereka memahami cara kerja pasar prediksi sebelum membawa perkara semacam ini ke persidangan.

Rekomendasi