Menuju 27 Oktober, Siapa Gadi Eisenkot yang Menantang Netanyahu di Pemilu Israel?

Gadi Eisenkot muncul sebagai penantang utama Benjamin Netanyahu di Pemilu Israel 2026. Jajak pendapat tipis unggul. Inilah profil dan sorotan pengamat.

Septian Deny
Oleh Septian Deny- Reporter
Menuju 27 Oktober, Siapa Gadi Eisenkot yang Menantang Netanyahu di Pemilu Israel?
Bayangan sejumlah orang terpantul pada poster kampanye Gadi Eisenkot, pemimpin Partai Yashar yang berhaluan tengah, menjelang pemilihan umum Israel di Ramat Gan, Minggu (11/10/2026). (Dok. AP Photo/Oded Balilty)

Pemilu Israel pada 27 Oktober 2026 mempertemukan Benjamin Netanyahu dengan Gadi Eisenkot dalam pertarungan berisiko tinggi. Sejumlah jajak pendapat menempatkan Yashar, partai berhaluan tengah yang dipimpin Eisenkot, unggul tipis atas Likud. Namun, untuk membentuk pemerintahan, kubu pemenang tetap harus meraih dukungan mayoritas minimal 61 kursi di Knesset.

Eisenkot, purnawirawan letnan jenderal berusia 66 tahun, tergolong pendatang baru di politik tetapi membawa rekam jejak panjang di militer. Ia dikenal sebagai mantan Kepala Staf Israel Defense Forces (IDF) periode 2015–2019 dan kini menempatkan diri sebagai penantang utama Netanyahu.

Dikutip dari Fox News, Eisenkot lahir di Tiberias, Israel utara, dari keluarga Yahudi-Maroko. Saat masih balita, keluarganya pindah ke Eilat, kota paling selatan Israel di tepi Laut Merah. Sebagai prajurit karier, ia memilih korps infanteri dan bergabung dengan Brigade Golani yang dikenal elit.

Jurnalis senior Israel di bidang intelijen dan pertahanan, Yossi Melman, menyebut Eisenkot sebagai prajurit sejati: berani, rendah hati, dan perwira yang santun. Ia juga menceritakan bahwa ketika pertama kali dipilih menjadi Kepala Staf IDF, Eisenkot sempat menolak karena menilai Jenderal Benny Gantz lebih berhak. Melman mempertanyakan berapa banyak orang yang bersedia melakukan hal serupa dan menilai tindakan itu menunjukkan sifatnya yang santun, jujur, dan tidak arogan.

Melman menyebut kepemimpinan Eisenkot di jajak pendapat sebagai sesuatu yang mendekati keajaiban. Menurutnya, Eisenkot adalah antitesis politisi pada umumnya. Ia bukan orator hebat jika dibandingkan Netanyahu, tetapi memancarkan kejujuran.

Jika menang, latar Mizrahi yang dimiliki Eisenkot—keturunan Yahudi Afrika Utara dan Timur Tengah—akan menjadikannya perdana menteri Israel pertama dari komunitas Maroko. Sejak 1948, kursi perdana menteri selalu diisi warga Israel keturunan Eropa Timur (Ashkenazi).

Jejak di Kabinet Perang, Duka Keluarga, dan Sorotan Menjelang Pemilu Israel

Setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk lebih dari 40 warga Amerika Serikat, Eisenkot bergabung dalam kabinet perang Netanyahu sebagai menteri tanpa portofolio. Menurut Melman, ia masuk tanpa mengajukan syarat politik apa pun dan kehadirannya di kabinet justru menyelamatkan Netanyahu. Delapan bulan kemudian, Eisenkot mengundurkan diri dan menyalahkan perdana menteri atas kegagalan menerapkan strategi yang komprehensif.

Perang melawan Hamas yang didukung Iran juga membawa duka bagi keluarga Eisenkot. Pada Desember 2023, putranya, Sersan Mayor Gal Eisenkot (25), tewas dibunuh Hamas. Dua keponakannya juga menjadi korban. Saat itu, Netanyahu dan istrinya, Sara, menyatakan sangat terpukul atas kematian Gal dan menyebut Eisenkot sebagai pahlawan sejati.

Penilaian Akademisi atas Kekuatan dan Kelemahan

Sejarawan militer dari Hebrew University of Jerusalem, Danny Orbach, menilai rekam jejak militer Eisenkot dan prospeknya sebagai pemimpin nasional memiliki kekuatan signifikan sekaligus kelemahan serius. Ia menekankan tanggung jawab Eisenkot dalam membentuk kondisi IDF pada 7 Oktober 2023.

Menurut Orbach, IDF secara paradoks mampu mengalahkan Hizbullah, menyerang Iran, dan meraih keberhasilan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya di Gaza yang penuh terowongan, namun gagal secara tragis pada 7 Oktober. Seperti kepala staf lainnya, Eisenkot juga bertanggung jawab atas kebijakan pengurangan ukuran angkatan perang serta konsep (conceptzia) mengenai Hamas.

Lembaga militer, intelijen, dan politik Israel saat itu meyakini Hamas bisa dijinakkan lewat bantuan ekonomi skala besar. Namun, Hamas tetap berpegang pada ideologi Islam radikal untuk menghancurkan Israel dan menggunakan dana untuk tujuan perangnya. Orbach menyebut dalam hal ini Eisenkot sama bersalahnya dengan Netanyahu.

Ia menambahkan, sebagian besar dukungan terhadap Eisenkot tidak lahir dari energi, antusiasme, ataupun platform politiknya. Eisenkot muncul sebagai kandidat pilihan utama bagi kelompok "non-Bibi" (anti-Netanyahu), menampung harapan dan ekspektasi kamp tersebut.

Orbach juga meragukan apakah Eisenkot akan memiliki tekad politik yang cukup untuk menentang pemerintahan Biden dalam isu-isu penting. Sebagai pembanding, Netanyahu dan Presiden Biden beberapa kali berselisih terkait upaya Washington membatasi langkah Israel dalam menghadapi perang tujuh front melawan Iran.

Meski demikian, Orbach percaya pemerintahan di bawah Eisenkot dapat mengatasi sejumlah persoalan mendesak: menyingkirkan Itamar Ben-Gvir dari kekuasaan, menghadapi peningkatan kekerasan dan terorisme ekstremis Yahudi di Tepi Barat, serta mulai memulihkan legitimasi internasional Israel yang rusak parah.

Itamar Ben-Gvir merupakan politisi sayap kanan yang menjabat Menteri Keamanan Nasional sejak 2022. Retorikanya yang keras terhadap warga Palestina kerap memicu kemarahan banyak pemimpin asing dan negara-negara Eropa Barat.

Rekomendasi