Netanyahu Cari Dukungan Rabi Jelang Pemilu Israel 2026

Jelang pemilu Israel 2026, Netanyahu disebut meminta Rabi Eli Sadan membujuk Ofer Winter mundur. Oposisi dan jajak pendapat jadi pertimbangan. Ini respons Winter.

Septian Deny
Oleh Septian Deny- Reporter
Netanyahu Cari Dukungan Rabi Jelang Pemilu Israel 2026
<p>PM Israel Benjamin Netanyahu saat memberikan pidato di hadapan Kongres Amerika Serikat (AS) pada Rabu (24/7/2024). (Dok. AP Photo/Julia Nikhinson)</p>

Menjelang pemilu Israel 2026 pada 27 Oktober, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu disebut meminta bantuan seorang rabi berpengaruh untuk membujuk Ofer Winter, pemimpin Partai Amcha Yisrael, agar menarik diri dari pencalonan parlemen. Langkah ini muncul di tengah kekhawatiran perpecahan suara di blok sayap kanan.

Dikutip dari Middle East Eye, Rabu (21/10/2026), surat kabar Israel Yedioth Ahronoth melaporkan pada Selasa bahwa Netanyahu mengunjungi akademi pra-militer Bnei David di permukiman Eli, Tepi Barat yang diduduki Israel. Di sana, ia bertemu Rabi Eli Sadan ditemani Menteri Keuangan sekaligus pemimpin Partai Religious Zionism, Bezalel Smotrich.

Menurut laporan tersebut, pertemuan digelar untuk memanfaatkan kedekatan Sadan dengan Winter agar pemimpin Amcha Yisrael itu bersedia mundur. Mengacu pada sumber-sumber di akademi, Netanyahu dan Smotrich memaparkan hasil jajak pendapat terbaru kepada Sadan serta berargumen bahwa keterlibatan sejumlah partai kecil berisiko mengurangi kursi blok kanan di parlemen. Mereka juga menilai kubu oposisi telah mengatur barisannya lebih baik setelah pemimpin Blue and White, Benny Gantz, mundur pada Senin.

Winter menanggapi melalui sebuah video yang diterbitkan Yedioth Ahronoth. Ia menuduh Netanyahu dan Smotrich berupaya menekannya agar keluar dari kontestasi.

"Rakyat Israel menginginkan politik dengan corak yang berbeda," kata Winter.

Ia menjelaskan pencalonannya dimaksudkan untuk menawarkan alternatif bagi kepemimpinan sayap kanan saat ini, yang menurutnya perlu didasari kesediaan bertanggung jawab, mengakui kesalahan, dan mempersatukan masyarakat Israel. Winter menegaskan partainya tidak akan mundur.

"Partai kami akan terus berkompetisi sampai akhir," ujarnya.

Kandidat di Barisan Winter Sudah Ada yang Mundur

Tekanan terhadap Winter bukan kali pertama terjadi. Pekan lalu, Davidi Ben Zion, kandidat nomor delapan dalam daftar caleg Amcha Yisrael, mengundurkan diri setelah mendapat desakan dari orang-orang dekat Smotrich dan sejumlah rabi di Tepi Barat, menurut Yedioth Ahronoth.

Desakan tersebut berkutat pada kekhawatiran partai Winter tidak akan melampaui ambang batas parlemen. Jika tidak lolos, suara yang masuk ke partai itu tidak menghasilkan kursi di Knesset. Ben Zion menyebut potensi terbuangnya suara para pendukung sebagai alasan pengunduran dirinya.

Pada 12 Oktober, Winter mengatakan Netanyahu akan bertanggung jawab atas runtuhnya blok sayap kanan jika Amcha Yisrael gagal melewati ambang batas. Dorongan dari dalam koalisi agar Winter mundur kian menguat setelah sejumlah survei menunjukkan partainya berada di bawah ambang elektoral 3,25 persen suara sah, dan semakin kencang usai Gantz menarik diri dari pemilu karena dinilai memperbesar peluang oposisi.

Di sisi lain, pemilu parlemen Israel dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober di tengah polarisasi politik yang tajam. Pada Minggu, Netanyahu mengakui belum yakin akan menang dan mengaku "sangat khawatir".

Jajak pendapat yang dirilis lembaga penyiaran publik KAN pada Minggu memperlihatkan blok Netanyahu kehilangan dua kursi menjadi 51 kursi. Adapun blok yang dipimpin Gadi Eisenkot, pemimpin Partai Yashar, diperkirakan meraih 52 kursi.

Dalam preferensi pemilih untuk posisi perdana menteri, Eisenkot juga unggul atas Netanyahu. Menurut survei yang sama, Eisenkot mendapat dukungan 43 persen, sementara Netanyahu 35 persen. Namun belum ada satu blok pun yang mencapai 61 kursi, jumlah minimum untuk meraih mayoritas dari total 120 kursi di Knesset.

Rekomendasi