Di tengah pekatnya asap kebakaran hutan yang melanda sejumlah daerah, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta datang dengan solusi tak biasa. Bukan Alat Pelindung Diri (APD) pabrikan mahal, tapi inovasi yang terinspirasi dari sistem pernapasan manusia dan hewan itu sendiri.
Adalah Dr. Darmawan Ismail, dosen sekaligus Ketua Prodi Pendidikan Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskuler FK UNS, yang merancangnya bersama tim.
"Untuk melindungi mata, APD dilengkapi face shield. Sementara perlindungan saluran pernapasan didukung sistem filtrasi yang dirancang menangkap partikel udara," kata Darmawan di sela pemberangkatan tim di halaman gedung dr. Prakosa UNS, Selasa (27/10).
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384110/original/092691500_1793157867-IMG-20261027-WA0077.jpg)
Inovasinya cerdik dan murah. Filter-nya menggunakan spons berstruktur anyam, bukan lurus, agar partikel asap lebih mudah terperangkap. Ditambah gel berbahan deterjen yang memanfaatkan prinsip adhesi dan kohesi untuk menangkap partikel halus.
"Agar tetap nyaman bernapas di tengah asap, kita pasang kipas komputer kecil untuk menarik udara masuk dan saluran pembuangan untuk sirkulasi," ujar Darmawan.
Teknologi yang awalnya dikembangkan untuk penanganan Covid-19 ini kini diadaptasi untuk petugas pemadam, polisi, dan relawan karhutla. Tak berhenti di APD, UNS juga membawa inovasi kedua. Yakni Alat Filtrasi Udara Portabel dari botol bekas.
"Bahan-bahannya sangat sederhana: botol plastik bekas, spons, kain kasa, filter AC, selang, dan masker," kata dia.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384109/original/090538100_1793157867-IMG-20261027-WA0078.jpg)
Dia mengatakan, alat ini memiliki 3 bagian utama: kolektor udara, saluran penghubung dan masker, dengan sistem katup satu arah agar udara kotor tak balik terhirup. Bahkan bisa ditambah es biar udara terasa lebih sejuk.
"Proses perakitannya kurang dari 30 menit kalau bahan tersedia," ujar Darmawan.
Tim UNS menargetkan merakit 100 unit per daerah di Banjarmasin, Palangka Raya, dan Palembang. Mereka tak hanya membagikan, tapi menggelar lokakarya agar warga bisa bikin sendiri.
Ini bukan sekadar bantuan, tapi transfer teknologi tepat guna agar masyarakat terdampak bisa mandiri menghadapi bencana asap.
Advertisement

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384111/original/092150800_1793157867-IMG-20261027-WA0075.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9379224/original/034226400_1792578866-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_17.33.11.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384132/original/038261400_1793158861-IMG-20261028-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9378957/original/068464500_1792569287-IMG_0364.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9377611/original/065727200_1792471085-IMG_5844.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9360396/original/082425800_1790644628-IMG_4262.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384078/original/075910800_1793155970-Atlet_Silat_Semarang_Meninggal_Dunia.jpg)