Lesunya ekonomi di China mengguncang industri barang mewah. Nilai pasar kelompok teratas di Eropa terkikis sekitar 250 miliar euro atau Rp 5.063 triliun (asumsi kurs 1 euro = Rp 20.256) sejak awal tahun, seiring konsumen China mengerem belanja dan gejolak di saham bertema AI.
Mengutip CNA, Selasa (27/10/2026), laporan kinerja terbaru Kering meleset dari ekspektasi yang sudah lebih rendah, menegaskan laju penurunan industri barang mewah dari tahun ke tahun.
Enam emiten mewah besar di Eropa, termasuk Richemont, Prada, dan Moncler, kehilangan sekitar 251 miliar euro (Rp 5.084 triliun) kapitalisasi pasar tahun ini. Dua raksasa, LVMH dan Hermes, mencatat pelemahan terdalam: kapitalisasi LVMH menyusut 131,6 miliar euro (Rp 2.665 triliun) dan Hermes 93,3 miliar euro (Rp 1.889 triliun).
Permintaan dari pembeli China selama lebih dari satu dekade menjadi pilar industri. Namun pelemahan pasar properti yang berkepanjangan dan kinerja pasar saham yang loyo menekan konsumsi domestik. Pertumbuhan penjualan ritel bulanan di ekonomi terbesar kedua dunia itu tercatat kurang dari 0,5% dalam enam bulan terakhir, lebih rendah dibanding tahun lalu.
“Pemulihan konsumen barang mewah dari China yang diharapkan industri kini tertahan… sehingga hasilnya menyebabkan kemunduran dalam hasil kinerja, tekanan penurunan pada harga saham, serta proses introspeksi yang mendalam,” ujar analis Bernstein, Luca Solca.
LVMH, Kering, dan Hermes sama-sama melaporkan penurunan yang nyata di China pada kuartal ketiga. Chief financial officer LVMH, Cecile Cabanis, menyebut penjualan lini mode utama dan barang kulit ke klien China secara global merosot belasan persen.
“Perlambatan (dalam permintaan mode dan kulit) ini jelas didorong oleh klien China,” ujar Cabanis.
“Kami harap ini akan mereda. Kami tidak tahu kapan,” ia menambahkan.
Advertisement
Pajak Baru China dan Gejolak Bursa Tekan Barang Mewah
Kondisi di Kering, pemilik Saint Laurent dan Bottega Veneta, masih menantang. Penjualan ke konsumen China turun sekitar 15–20% pada kuartal ketiga, mempercepat pelemahan dari kisaran belasan persen pada kuartal sebelumnya.
Dampak lesu dari China juga terasa di Hermes. Penjualan global divisi siap pakai dan aksesori turun 2%. Chief financial officer Eric du Halgouet menyebut kemerosotan pasar saham China, ditambah pengetatan terhadap kekayaan di luar negeri, membuat situasi makin sulit.
Pekan ini, China akan memberlakukan pajak 20% atas dividen dan bunga dari perwalian luar negeri. Di saat yang sama, indeks CSI 300—mencakup 300 emiten besar di China—turun 19% dalam empat bulan terakhir. Nilai pasar menyusut sekitar US$ 2 triliun atau Rp 36.281 triliun (asumsi kurs 1 dolar AS = Rp 18.140) akibat kekhawatiran lemahnya konsumsi domestik dan ‘bubble’ AI.
Seorang analis Berenberg menilai laporan terbaru Hermes memunculkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban.
“Kami khawatir bahwa ketergantungan yang berlebihan terhadap China, serta paparan yang lebih besar terhadap segmen konsumen yang memiliki aspirasi lebih tinggi daripada perkiraan kami sebelumnya, akan terus membebani pendapatan Hermes,” tambahnya.
Advertisement
Sinyal Pelemahan di AS, Performa Masih Campuran
Di tengah tekanan, masih ada kantong pertumbuhan. Penjualan Birkins dan tas mewah lain di Hermes naik 10,8%. Pada segmen perhiasan, Tiffany (LVMH) dan Boucheron (Kering) mencatat pertumbuhan penjualan dua digit pada kuartal yang sama.
Namun, penopang utama lain—Amerika Serikat—juga melemah dalam beberapa bulan terakhir, seiring pasar saham mendingin dan harga bahan bakar meningkat. Data kartu kredit Citi menunjukkan pengeluaran barang mewah turun sekitar 4% pada Juli, Agustus, dan September.
Dampaknya tidak merata antarmerek. Hermes menyebut pembelinya di AS masih berbelanja pada tingkat yang sama, sementara Kering yang lebih terekspos pada pembeli kelas menengah beraspirasi melihat tekanan lebih besar. Emiten yang terdaftar di Paris itu mengingatkan tekanan terhadap konsumen AS menjelang pemilu paruh waktu November.
Dengan minimnya tanda perbaikan di pasar kunci barang mewah, Solca dari Bernstein menilai sebagian besar perusahaan “tidak punya hal lain yang lebih baik untuk dilakukan” selain meningkatkan efisiensi sambil menunggu kembalinya pembeli.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2557550/original/081162600_1545966896-China.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383835/original/059818900_1793102450-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_18.52.20__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5767440/original/097277200_1778670579-Banner_Infografis_MSCI_H.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383311/original/028698500_1793081282-IMG_0243_2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383376/original/082986300_1793083961-IMG_0175.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383788/original/090737200_1793098308-Screenshot_2026-10-27_162140.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383714/original/067964700_1793095990-IMG-20261027-WA0015.jpg)