PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memproyeksikan pertumbuhan kredit mencapai 10–12 persen hingga akhir 2026, melampaui target awal sebesar 8–10 persen. Peningkatan permintaan pembiayaan dunia usaha, terutama untuk memenuhi kebutuhan modal kerja, menjadi salah satu pendorong optimisme tersebut.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong menyampaikan proyeksi tersebut dalam paparan kinerja kuartal III 2026 di Jakarta, Selasa (27/10). Optimisme itu muncul setelah penyaluran kredit perseroan mencatatkan pertumbuhan dua digit hingga September 2026.
"Perkiraan kami pertumbuhan kredit tahun ini akan melebihi target daripada RBB, yaitu di kisaran 10–12 persen untuk 2026," ujar Hendra dalam sesi tanya jawab paparan kinerja BCA.
Berdasarkan paparan perseroan, total kredit BCA mencapai Rp1.063 triliun per September 2026, tumbuh 12,6 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Advertisement
Permintaan Modal Kerja Meningkat Menjelang Akhir Tahun
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383771/original/034380200_1793097687-Screenshot_2026-10-27_162711.jpg)
Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih menjelaskan, peningkatan kebutuhan pembiayaan antara lain berkaitan dengan persiapan dunia usaha menghadapi periode Natal dan Tahun Baru, Tahun Baru Imlek, serta Lebaran.
Pelaku usaha umumnya mulai mempersiapkan pengadaan barang dan produksi beberapa bulan sebelum periode tersebut untuk mengantisipasi peningkatan permintaan. Kebutuhan itu turut mendorong permohonan kredit, terutama untuk modal kerja.
“Kami melihat adanya akselerasi demand terhadap kebutuhan, utamanya adalah modal kerja,” kata John.
Menurut dia, peningkatan permintaan kredit juga terlihat dari kenaikan penggunaan fasilitas kredit atau loan utilization, yang berada di kisaran 65–66 persen.
Advertisement
Korporasi dan UKM Jadi Penopang Pembiayaan
Dari sisi korporasi, sejumlah sektor yang menopang pertumbuhan kredit BCA meliputi perkebunan, pertanian, infrastruktur, transportasi, energi, pembangkit listrik, serta teknologi dan infrastruktur digital.
Sementara itu, pada segmen usaha kecil dan menengah (UKM), permintaan pembiayaan antara lain berasal dari perdagangan grosir, ritel, distribusi, jasa bisnis, transportasi dan logistik, serta industri makanan dan minuman.
Secara keseluruhan, kredit produktif BCA mencapai Rp831 triliun per September 2026, tumbuh 17,2 persen yoy. Nilai tersebut terdiri atas kredit korporasi Rp528,1 triliun, kredit komersial Rp154,1 triliun, dan kredit UKM Rp149,2 triliun.
Pertumbuhan kredit tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya kebutuhan pembiayaan di berbagai sektor usaha. Meski demikian, BCA menyatakan tetap mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit serta menjaga likuiditas dan kualitas aset perseroan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383714/original/067964700_1793095990-IMG-20261027-WA0015.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5767440/original/097277200_1778670579-Banner_Infografis_MSCI_H.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383311/original/028698500_1793081282-IMG_0243_2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383376/original/082986300_1793083961-IMG_0175.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383788/original/090737200_1793098308-Screenshot_2026-10-27_162140.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3626297/original/087718800_1636365636-8_november_2021-3.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383629/original/026278400_1793093225-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_15.39.18.jpeg)