Kebakaran lahan dan hutan (karhutla) yang terjadi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung berdampak pada sejumlah situs lukisan tertua di Leang-leang, Kabupaten Maros. Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengaku saat ini sedang melakukan inventarisir sejumlah situs sejarah yang terdampak karhutla.
Fadli Zon mengaku prihatin terjadinya karhutla di sejumlah daerah di Indonesia. Dia mengaku saat ini sedang melakukan pendataan sejumlah situs bersejarah di Indonesia yang mengalami kerusakan akibat karhutla.
"Tentu ini sesuatu yang sangat memprihatinkan Kita sedang mengumpulkan juga nanti data-datanya yang terkait hal ini apa yang bisa kita lakukan di dalam pemulihannya dan restorasinya," ujar Fadli Zon kepada wartawan usai pelantikan Pengurus HIIPIIS Sulsel di Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (27/10).
Politisi Partai Gerindra ini menyinggung karhutla akibat ulah manusia. Bahkan, Fadli Zon menyebut perbuatan yang membakar hutan dan lahan merupakan tindakan keji.
"Memang kebakaran ini kan tentu bisa disebabkan dua hal. Satu, karena ulah manusia yang melakukan dengan kesengajaan. Saya kira ini satu tindakan kriminal yang sangat biadab gitu ya, merusak," kata dia.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383686/original/020347500_1793095025-IMG-20261027-WA0047.jpg)
Fadli Zon juga menyebut karhutla juga bisa disebabkan oleh cuaca. Ia menyebut badai El Nino menyebabkan kekeringan berkepanjangan.
"Tapi ada juga yang karena faktor alam yang memang dipicu karena El Nino yang panjang sehingga bisa memercik atau memicu kebakaran," tutur dia.
Selain itu, Fadli Zon juga menyoroti eksploitasi tambang di dekat situs bersejarah. Dia mencontohkan keberadaan pabrik semen yang dekat dengan situs arkeologi Leang-leang, Kabupaten Maros.
"Saya melihat bahwa itu bukan hanya karena kebakaran (karhutla). Tapi juga agresivitas eksploitasi di bidang industri itu juga menjadi satu faktor yang lain yang harus kita amankan. Ini menurut saya harus dibatasi kalau menyangkut ada situs-situs cagar budaya termasuk lukisan-lukisan yang ada di dinding-dinding gua itu," kata dia.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383688/original/032088000_1793095027-IMG_20261027_115939.jpg)
Sebelumnya, Arkeolog Griffith University Australia, Basran Burhan mengatakan adanya ancaman kerusakan lukisan cadas prasejarah yang ada di kawasan Geopark Maros-Pangkep akibat karhutla. Basran memberikan peringatan keras mengenai dampak destruktif dari kebakaran tersebut.
"Kebakaran yang terjadi di kawasan situs arkeologi terutama yang mengandung gambar cadas pasti akan sangat merusak gambar itu. Paling tidak ada minimal dua efek yang bisa kita lihat," kata Basran.
Efek pertama bagi lukisan cadas prasejarah adalah panas ekstrem. Basran menekankan bahwa kerusakan tidak memerlukan kontak langsung antara api dan lukisan.
"Bahkan tanpa ada api langsung yang menyentuh lukisan pun, itu bisa merusak lukisan. Karena dia mengubah temperatur di sekitar gambar yang bisa mempercepat proses pelapukan. Apalagi kalau sampai api itu menyentuh lukisannya. Itu bahkan akan lebih parah karena bukan hanya akan mengelupas kulitnya, tapi bahkan batunya yang akan dibongkar, rusak, pecah, dan seterusnya," tutur dia
Perubahan suhu yang drastis dan tiba-tiba menyebabkan ekspansi termal pada batuan gamping. Batuan yang selama ribuan tahun stabil, tiba-tiba mengalami tekanan yang menyebabkan retakan mikro. Retakan ini kemudian merambat hingga ke lapisan pigmen lukisan, menyebabkan pengelupasan yang masif.
Efek kedua adalah jelaga dan asap. Kebakaran hutan menghasilkan asap tebal yang kaya akan partikel karbon.
"Asap dari api itu akan membentuk jelaga di permukaan gambar gua dan akan menutupi lukisan gua," kata Basran.
Dia menjelaskan lapisan jelaga ini bertindak seperti selimut hitam yang menutupi detail lukisan, membuatnya kabur dan sulit diidentifikasi.
"Lukisannya akan tertutup dengan jelaga itu. Kita akan sulit melihat bentuk gambarnya seperti apa, dan sulit melihat warna asli dari pigmen tersebut," tandasnya.
Advertisement
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383687/original/048458600_1793095025-IMG-20261027-WA0048.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383685/original/006980300_1793095025-IMG-20261027-WA0046.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9356106/original/025282300_1790153036-85d3e4f0-6ca9-48a2-bdad-4b5d189bfb54.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383309/original/086853900_1793081047-Penangkapan_Dwi_Bagus_di_Jombang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9380481/original/048155500_1792711880-000_D3Y98GK.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9382459/original/050629700_1792996625-IMG-20261026-WA0041.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4558770/original/046463200_1693476546-BPH_MIGAS_2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383640/original/021904700_1793093500-IMG-20261027-WA0027.jpg)