Setelah empat bulan dilanda kemarau, sebagian besar wilayah Sumatera Selatan akhirnya diguyur hujan pada Sabtu (24/10). Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terjadi di sejumlah wilayah, antara lain OKU, OKI, Musi Rawas, Lahat, Banyuasin, OKU Selatan, Ogan Ilir, Pagaralam, dan Palembang.
Di Palembang, hujan ringan selama sekitar 15 menit disambut gembira warga setelah empat bulan tanpa hujan dan udara diselimuti asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Bukan hanya di Sumatera Selatan, hujan juga mengguyur sejumlah wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) pada Minggu (25/10) hingga Senin (26/10).
Hujan turun di tengah upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan TNI Angkatan Udara bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
merdeka.com merangkum proses rekayasa cuaca untuk meredam amukan api membakar hutan di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Advertisement
Apa itu operasi modifikasi cuaca?
Istilah hujan buatan cukup populer digunakan masyarakat. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa modifikasi cuaca pada dasarnya tidak menciptakan hujan dari nol atau dari langit yang kering kerontang.
Advertisement
Kapan terjadi kebakaran hutan lahan di Sumatera dan Kalimantan?
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera dan Kalimantan meningkat signifikan sejak pertengahan hingga akhir Juni 2026.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 25–26 Oktober 2026, total luas lahan yang masih dalam penanganan dan pemadaman mencapai sekitar 4.000 hektare yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan.
Advertisement
Wilayah Sumatera dan Kalimantan terdampak kebakaran hutan dan lahan?
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memaparkan 12 wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masuk kategori berbahaya berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) hingga Selasa (13/10).
Berdasarkan data ISPU, enam wilayah tercatat menjadi wilayah berkategori kualitas udara berbahaya tertinggi se-Indonesia. Enam wilayah itu di antaranya Palangka Raya dengan nilai ISPU sekitar 4.055.
Selain Palangka Raya, Kabupaten Katingan menempati urutan kedua dengan nilai ISPU mencapai 868. Disusul Kabupaten Gunung Mas dengan nilai 766, Kabupaten Barito Selatan dengan nilai 652, serta Palembang dan Kabupaten Kotawaringin Timur berada di angka 462.
Sedangkan wilayah lainnya yang juga masuk dalam kategori berbahaya di antaranya ada Kabupaten Pali (Kalimantan Selatan), Kabupaten Muaro Jambi dan Kota Jambi (Jambi), Kabupaten Musi Rawas dan Kota Prabumulih (Sumatera Selatan), serta Kabupaten Siak Bungaraya (Riau).
Advertisement
Apa penyebab kebakaran hutan dan lahan?
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mencatat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera dipicu beberapa sebab. Penyebab kebakaran itu salah satunya adalah pembukaan lahan dengan cara membakar.
Kebakaran hutan dan lahan hingga menyebabkan sejumlah wilayah dikepung asap juga dipengaruhi kondisi iklim seperti cuaca kering, angin, hingga karakteristik lahan gambut yang membuat api dapat bertahan di bawah permukaan tanah. Akibatnya, api yang terlihat sudah padam belum tentu benar-benar mati.
Advertisement
Siapa saja pihak terlibat kebakaran hutan dan lahan?
Penanganan kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan dan Sumatera aparat penegak hukum telah menetapkan ratusan tersangka perorangan serta belasan korporasi.
Berdasarkan data terbaru Polri telah menetapkan sebanyak 243 orang tersangka dari ratusan laporan polisi yang tersebar di berbagai wilayah polda terdampak. Sementara 11 korporasi telah ditetapkan sebagai tersangka.
Sebagian besar perusahaan tersangkut kasus Karhutla berada di wilayah Kalimantan, yang meliputi 8 korporasi di Kalimantan Barat, 2 korporasi di Kalimantan Tengah, dan 1 korporasi di Kalimantan Selatan.
Dari 11 korporasi tersangka tersebut, 3 di antaranya merupakan perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) yang saat ini masih dalam proses penyidikan lebih lanjut.
Advertisement
Berapa kerugian ditimbulkan akibat kebakaran hutan dan lahan?
Sampai berita ini diturunkan, belum ada angka resmi dari pemerintah, akibat kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan. Namun sejumlah pihak menyebut kerugiannya sangat besar dan meluas.
Dalam kajian Center of Economic and Law Studies (Celios), kerugian ekonomi akibat hilangnya aset fisik serta terganggunya aktivitas ekonomi mencapai Rp 29,54 triliun. Gangguan tersebut mencakup perdagangan, pertanian, akomodasi, serta sektor makanan dan minuman yang terdampak asap dan terhentinya aktivitas produksi.
Celios juga memperkirakan karhutla berpotensi mengurangi penerimaan negara dari pajak bersih daerah sekitar Rp 269,86 miliar pada 2026. Dampak tersebut dapat merambat ke daerah lain melalui keterkaitan antarsektor, termasuk industri pengolahan kayu, pulp and paper, hingga furnitur.
Advertisement
Bagaimana proses modifikasi cuaca menjinakkan kebakaran hutan dan lahan?
Secara teknis, operasi modifikasi cuaca ini dilakukan dengan memanfaatkan keberadaan awan dan proses alami atmosfer. Metode ini dilakukan dengan menyemai awan konvektif (awan Cumulus) yang sudah kaya akan uap air menggunakan bahan semai higroskopis atau penyerap air. Bahan semai tersebut umumnya berupa garam dapur olahan khusus (NaCl mikro).
Proses penjemputan hujan ini diawali dengan tahap pemantauan radar. BMKG akan memantau radar cuaca dan kondisi atmosfer untuk melacak keberadaan awan potensial yang memiliki kadar uap air cukup tinggi di atas wilayah target.
Setelah awan terdeteksi, tim TNI AU bergerak sebagai eksekutor penerbangan. Pesawat akan lepas landas menuju ke dalam atau bagian atas awan potensial pada ketinggian 4.000 hingga 10.000 kaki untuk menaburkan garam NaCl secara merata.
Tahap selanjutnya adalah proses kondensasi. Partikel garam yang ditaburkan berfungsi sebagai Inti Kondensasi Awan (Cloud Condensation Nuclei). Partikel ini memaksa uap air di dalam awan untuk saling menempel dan menggumpal menjadi butiran air (droplets) yang lebih besar serta berat.
Dengan butiran air yang bertambah berat secara cepat, gaya gravitasi akhirnya menarik butiran tersebut jatuh ke bumi menjadi hujan deras mendadak di area target kebakaran.
Advertisement
Berapa proses modifikasi cuaca meredam kebakaran hutan dan lahan?
Waktu proses modifikasi cuaca berkisar antara 10 menit hingga 2 jam agar bahan semai (seperti garam dapur atau NaCl) yang ditaburkan di langit dapat bereaksi merangsang pembentukan awan dan mengubahnya menjadi hujan.Durasi reaksi proses penaburan ini bisa berlangsung cepat atau lambat karena sangat bergantung pada kondisi ketebalan dan karakteristik awan yang ditabur di atmosfer.
Advertisement
Seberapa ampuh hujan buatan menurunkan titik panas?
Dampak guyuran hujan hasil penyemaian awan ini terlihat dari penurunan tajam jumlah titik panas di wilayah sasaran. Di Sumatera Selatan, hujan hasil OMC dan doa masyarakat membuat hotspot menyusut hingga tersisa dua titik saja
Kondisi serupa terjadi di Kalimantan. Setelah hujan deras membasahi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah selama dua hari berturut-turut, BMKG mendeteksi titik panas tersisa 11 titik di Kalteng dan 5 titik di Kalsel. Angka ini tergolong rendah dengan tingkat kepercayaan sedang. Data ini membuktikan bahwa intervensi OMC sangat efektif menekan potensi kebakaran secara cepat saat awan potensial berhasil dijemput dan diubah menjadi hujan intensitas lebat.
Advertisement
Kenapa titik api belum padam total?
Guyuran hujan buatan terbukti memangkas jumlah titik panas secara draastis, Namun belum menjadi jaminan bahwa karhutla telah padam sepenuhnya.
Tantangan terbesar berada pada karakteristik lahan gambut di Sumatera dan Kalimantan. Hujan hasil OMC umumnya baru memadamkan api di permukaan (surface fire). Pasalnya, lahan gambut yang tebal membutuhkan pembasahan intensif serta guyuran hujan berkelanjutan agar titik api di bawah tanah (ground fire) tidak kembali membara saat suhu udara kembali memanas.
Selain kendala di bawah tanah, penurunan titik panas juga tidak serta-merta membuat kualitas udara membaik secara instan.
Meski titik panas di Sumatera Selatan tersisa dua titik pasca-hujan, indeks kualitas udara (AQI) di Kota Palembang masih sempat menyentuh angka 231 dengan kategori sangat tidak sehat. Hal ini terjadi karena partikel halus berbahaya (PM2.5) dari sisa kabut asap karhutla masih tertahan di atmosfer dan membutuhkan waktu serta tiupan angin yang cukup sebelum udara benar-benar bersih kembali.
OMC terbukti menjadi penanganan darurat yang efektif dari udara untuk menekan titik panas saat awan potensial tersedia. Namun, hujan buatan bukan solusi tunggal penuntas Karhutla. Keberhasilan mencegah Karhutla tetap bertumpu pada sinergi pemadaman tim darat, menjaga kelembapan lahan gambut, serta kedisiplinan bersama untuk tidak membakar lahan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9380481/original/048155500_1792711880-000_D3Y98GK.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3188079/original/061603500_1595483842-20200723-Operasi-Patuh-Jaya-2020-di-Jalan-Letjen-Suprapto-Jakpus-FANANI-7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9356106/original/025282300_1790153036-85d3e4f0-6ca9-48a2-bdad-4b5d189bfb54.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383309/original/086853900_1793081047-Penangkapan_Dwi_Bagus_di_Jombang.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383685/original/006980300_1793095025-IMG-20261027-WA0046.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9382459/original/050629700_1792996625-IMG-20261026-WA0041.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4558770/original/046463200_1693476546-BPH_MIGAS_2.jpeg)