4 Fakta Alvin Tedjo, Keturunan Indonesia yang Menang Pilwalkot Kanada

Alvin Tedjo, politikus keturunan Tionghoa-Indonesia, terpilih sebagai Wali Kota Mississauga pada 26/10/2026. Ini empat fakta perjalanan politiknya.

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida- Reporter
4 Fakta Alvin Tedjo, Keturunan Indonesia yang Menang Pilwalkot Kanada
Alvin Tedjo, politikus keturunan Indonesia yang terpilih jadi wali kota di Kanada. (Dok. www.alvintedjo.ca)

Alvin Tedjo, politikus keturunan Tionghoa-Indonesia, terpilih sebagai Wali Kota Mississauga, Ontario, Kanada, pada Senin (26/10). Ia mengungguli dua nama berpengaruh di panggung politik setempat, yakni mantan wali kota Bonnie Crombie dan wali kota petahana Carolyn Parrish.

Figur yang besar di jantung Mississauga ini mulai aktif berorganisasi sejak masa SMA, lalu menapaki panggung politik provinsi sebelum masuk ke pemerintahan kota.

Berikut empat fakta tentang latar belakang dan perjalanan politik Alvin Tedjo hingga terpilih memimpin Mississauga.

Tumbuh Dekat Balai Kota Mississauga

Orang tua Alvin yang berdarah Tionghoa-Indonesia menetap di Mississauga ketika ia berusia empat tahun. Sejak kecil, ia tinggal di kawasan pusat kota, tidak jauh dari balai kota, dengan gedung pemerintahan itu terlihat dari luar rumahnya.

Dalam sebuah siniar pada 2025, Alvin bercerita tentang lingkungan tempat ia dibesarkan. "Saya melihat banyak tantangan dan kesulitan yang dihadapi para imigran," ujar Alvin dalam sebuah siniar pada 2025.

Ia menyebut didikan orang tua membentuk sikapnya dalam memandang masalah dan bertindak. "Jika melihat sesuatu yang salah, lakukan sesuatu untuk memperbaikinya," kata Alvin.

Semasa SMA, Alvin pernah menjadi ketua organisasi siswa dan duduk di komite penasihat pemuda yang memberikan masukan kepada wali kota.

Pada pertengahan 1990-an, ia bertemu Hazel McCallion saat menerima penghargaan Young Citizen of the Year (Warga Muda Berprestasi Tahun Ini). Menurut Alvin, McCallion sempat memberinya pesan, "Terjunlah ke dunia politik, anak muda."

Jejak di Partai Liberal Ontario

Sebelum menduduki jabatan publik, Alvin maju sebagai calon anggota parlemen Provinsi Ontario dari daerah pemilihan Oakville North—Burlington pada 2018 dan finis di posisi ketiga.

Pada 2019, ia mengikuti pemilihan pemimpin Partai Liberal Ontario dan meraih 2,7 persen suara. Saat itu, ia menegaskan motivasinya terkait masa depan keluarga dan masyarakat provinsi.

"Saya berkampanye untuk anak-anak saya dan semua orang di provinsi ini yang mengkhawatirkan masa depan," katanya.

Dalam wawancara dengan The Toronto Star ketika itu, Alvin menyoroti laju perubahan yang akan dihadapi publik. "Kita akan menghadapi perubahan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, baik terkait iklim, ekonomi, maupun sistem pendidikan," ujarnya.

Ia menambahkan soal kecepatan dampak yang terasa di lapangan. "Setiap pekan, kita melihat dampak nyata dari berbagai perubahan itu, sementara pemerintah sama sekali tidak siap menghadapinya."

Pada 2024, Alvin sempat mencalonkan diri sebagai wali kota Mississauga dan menempati posisi kedua di bawah Carolyn Parrish.

Satu Periode di Dewan Kota

Sebelum duduk di legislatif kota, Alvin berkarier sebagai penasihat dan staf politik di Kementerian Perguruan Tinggi dan Universitas Provinsi Ontario.

Ia kemudian bekerja selama empat tahun di Sheridan College menangani hubungan dengan pemerintah, sebelum bergabung ke Toronto Metropolitan University sebagai pemimpin bidang strategi dan komunikasi.

Pada 2022, Alvin terpilih sebagai anggota Dewan Kota Mississauga. Itulah jabatan publik pertamanya yang diraih melalui pemilihan umum.

Saat maju sebagai wali kota, pengalamannya yang baru satu periode menjadi sorotan dua pesaingnya, Carolyn Parrish dan Bonnie Crombie. Keduanya menilai Alvin adalah anggota dewan yang sangat baik, tetapi belum cukup berpengalaman untuk memimpin kota.

Menjawab keraguan itu, Alvin meminta publik menilai kinerjanya. "Lihat saja apa yang bisa kami lakukan," ujarnya kepada jurnalis The Toronto Star, Alyshah Hasham, selama masa kampanye.

Ia meyakini banyak teladan yang dapat dirujuk. "Banyak pemimpin hebat yang berhasil menjalankan jabatan seperti ini."

Alvin juga menyinggung faktor usia untuk menjawab kritik soal pengalaman. Ia mengatakan pada usia 43 tahun, dirinya hampir sepuluh tahun lebih tua dibandingkan Zohran Mamdani ketika terpilih menjadi wali kota New York.

Dinamika Kampanye: Dari Tertinggal di Survei ke Momentum

Keputusan Alvin untuk maju sebagai wali kota berisiko tinggi karena ia mesti meninggalkan kursinya sebagai anggota dewan, padahal peluang untuk terpilih kembali cukup besar. Ia mengakui keputusan tersebut membuatnya sangat gugup.

Pada awal kampanye, dukungan publik terhadapnya masih tertinggal. Survei lembaga Liaison yang rampung pada pertengahan Agustus menunjukkan hanya sembilan persen responden mendukung Alvin; angkanya menjadi 12 persen jika menghitung pemilih yang sudah menentukan pilihan atau condong pada kandidat tertentu.

Dengan hasil itu, Alvin berada di posisi keempat dan tertinggal jauh dari dua pesaing utamanya, Parrish dan Crombie.

Situasi mulai berubah pada akhir September hingga awal Oktober. Dukungan meningkat seiring intensitas kampanye dan kehadiran dukungan eksternal.

Salah satu dorongan penting datang dari serikat pekerja kepolisian Peel. Dukungan resmi tersebut disebut sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam debat calon wali kota pada 1 Oktober, Alvin memilih tidak ikut dalam adu argumen sengit antara Parrish dan Crombie.

Memasuki pekan pertama Oktober, jajak pendapat menunjukkan Alvin mulai mendekat. Di antara pemilih yang sudah menentukan pilihan atau cenderung mendukung kandidat tertentu, selisih dukungan tinggal beberapa poin persentase.

Rekomendasi