BRI menyiapkan buyback saham tahap II bernilai maksimal Rp1 triliun. Berdasarkan keterbukaan informasi 22 Oktober 2026, pelaksanaannya dijadwalkan mulai 22 Oktober 2026 hingga 21 Januari 2027.
Sebelumnya, di tengah volatilitas pasar, perseroan telah menjalankan buyback tahap I dengan alokasi dana maksimal Rp500 miliar. Periode pelaksanaannya berlangsung pada 12 Juni hingga 11 September 2026 sesuai keterbukaan informasi 12 Juni 2026.
Aksi pembelian kembali saham ini merujuk keputusan RUPST pada 24 Maret 2025 yang menyetujui buyback hingga Rp3 triliun. Pelaksanaannya dapat dilakukan di dalam maupun di luar bursa efek, secara bertahap atau sekaligus, dengan tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku.
Advertisement
Strategi Buyback Bertahap BRI dan Optimisme Jangka Panjang
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384261/original/061441700_1793164361-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_08.31.41.jpeg)
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menjelaskan buyback yang dilakukan bertahap merupakan strategi untuk mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham, dengan tetap memperhatikan kondisi keuangan dan kepatuhan terhadap regulasi.
“Langkah buybacksaham ini mencerminkan keyakinan BRI terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Perseroan tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Dhanny.
Ia menambahkan, keputusan buyback turut mempertimbangkan dinamika pasar global, seperti ketidakpastian ekonomi, tensi geopolitik, pergerakan harga komoditas, serta arus modal yang memengaruhi volatilitas pasar keuangan Indonesia.
Advertisement
Kinerja Kuartal II 2026 dan Likuiditas Menopang Aksi
Hingga akhir triwulan II 2026, BRI membukukan laba bersih Rp31,2 triliun. Total aset tumbuh 11,7% secara tahunan menjadi Rp2.352 triliun, dana pihak ketiga meningkat 6,7% menjadi Rp1.581 triliun, sementara penyaluran kredit dan pembiayaan naik 16,2% menjadi Rp1.646 triliun.
Dari sisi permodalan dan likuiditas, Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat 21,5%, sedangkan Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 90,8%. Posisi tersebut memberi ruang memadai bagi perseroan untuk menjalankan fungsi intermediasi dan menjaga pertumbuhan bisnis secara sehat.
“Ke depan, BRI akan tetap berfokus pada penguatan kinerja bisnis dan mendorong pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Dengan fundamental dan permodalan yang kuat, kami optimistis BRI memiliki ruang untuk terus bertumbuh serta memberikan hasil yang optimal bagi pemegang saham dalam jangka panjang,” pungkas Dhanny.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384262/original/072006600_1793164361-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_08.31.40.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384197/original/045183100_1793160188-IMG_6234.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384271/original/045550300_1793164763-WhatsApp_Image_2026-10-28_at_08.18.36.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9384252/original/002869200_1793163978-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48__2_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9382071/original/080647500_1792937611-9dba222b-6d6c-4461-833d-60595fb44a0f.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2557550/original/081162600_1545966896-China.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383835/original/059818900_1793102450-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_18.52.20__1_.jpeg)