The Daily Beast mempublikasikan secara penuh dua surat pribadi Natalie Harp kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk pertama kalinya. Dokumen itu berisi curahan hati Harp kepada Trump dan muncul di tengah sorotan atas perannya di lingkar terdalam presiden AS tersebut.
Harp (35) adalah asisten khusus sekaligus asisten eksekutif Trump yang dikenal sebagai "gatekeeper", salah satu penyaring akses langsung ke presiden berusia 80 tahun itu. Sorotan terhadap posisinya turut memantik pertanyaan tentang keamanan nasional.
Kedekatan Harp dengan Trump antara lain tampak saat presiden meninggalkan Air Force One secara diam-diam menggunakan truk katering di Turki. Harp termasuk segelintir orang yang ikut bersamanya, sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, para staf, dan wartawan tetap di dalam pesawat yang kemudian diterbangkan sebagai pengalih perhatian. Trump saat itu menggunakan pesawat lain yang dirahasiakan untuk mengantisipasi dugaan rencana Iran menargetkan Air Force One.
Advertisement
Publikasi The Daily Beast dan Klaim Michael Wolff
Surat-surat Harp ditulis pada 2023, saat atau setelah ia mendampingi Trump dalam perjalanan ke Skotlandia dan Irlandia. Ketika itu, Harp berusia 31 tahun dan Trump 76 tahun, di tengah persiapan kampanye Pilpres AS 2024.
Keberadaan surat ini bukan kali pertama terdengar. Penggalan isi pernah dimuat dalam buku All or Nothing karya Michael Wolff yang menulis tentang kampanye Trump 2024. The New York Times kemudian menerbitkan kutipan yang lebih pendek dari surat yang sama.
Wolff menyebut memperoleh salinan surat dari sumber di dalam tim kampanye Trump yang khawatir melihat kedekatan Harp dengan Trump. Menurutnya, anggota staf menemukan surat itu di antara tumpukan dokumen yang biasa dicetak Harp untuk diberikan kepada Trump, lalu memfotonya sehingga gambarnya beredar di lingkungan kampanye. The Daily Beast menambahkan, kedua surat tersebut bukan tulisan tangan, melainkan lembaran yang dicetak dan dilipat, dengan tanda tangan yang disebut sebagai tanda tangan Harp.
"Saya tahu siapa yang memberikannya kepada saya. Surat itu berasal dari sumber yang sangat bisa dipercaya, dan saya tahu siapa saja di lingkungan kampanye yang melihat surat tersebut. Tidak ada keraguan bahwa surat-surat ini memang seperti yang terlihat," ujar Wolff.
Advertisement
Isi Surat Natalie Harp: Maaf, Rindu Telepon, dan 'Human Printer'
Curahan hati Harp terlihat dari sejumlah pernyataannya yang ditujukan langsung kepada Trump.
"Anda adalah segalanya bagi saya,"
"Saya tidak pernah ingin mengecewakan Anda."
Ia juga menulis kerinduan atas masa ketika mereka lebih sering berbicara di luar urusan kerja, serta menyebut julukan yang menurut laporan diberikan staf kepadanya, "Human Printer", karena kebiasaannya mencetak berita dan laporan positif untuk Trump.
"Saya merindukan masa ketika Anda menelepon dan kita berbicara tentang segala hal dan sekaligus tidak tentang apa-apa."
"Kita seharusnya tidak harus selalu berbicara soal pekerjaan!!"
Salah satu surat berisi permintaan maaf atas sejumlah kejadian selama perjalanan ke Skotlandia dan Irlandia pada Mei 2023, termasuk insiden yang juga dialami Margot Martin—kini penasihat komunikasi Gedung Putih—yang disebut ikut dalam rombongan.
"Maaf. Saya pikir hanya saya yang tertinggal tadi malam dan sama sekali tidak tahu bahwa mobil Margot pun dihentikan dan diminta kembali ke bandara."
"Karena saya sendirian di dalam van di luar Bea Cukai, tanpa paspor, saya panik dan seharusnya langsung menelepon Secret Service, bukan Anda."
Dalam surat yang sama, Harp meminta maaf karena berjalan kaki di lapangan golf alih-alih menggunakan mobil golf.
"Jika ada hal lain yang saya lakukan hingga membuat Anda kesulitan, mohon maafkan saya."
Harp juga mengungkap keinginannya agar hubungan keduanya selalu baik, sembari menceritakan sulitnya berkonsentrasi selama pekan perjalanan tersebut.
"Saya ingin segala sesuatu di antara kita selalu baik-baik saja. Saya tahu sepanjang minggu ini pikiran saya tidak fokus—lupa makan sepanjang hari, bahkan lupa tidur, dan hanya tidur beberapa jam setiap kali."
"Bukan karena saya peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain, tetapi karena saya merasa nilai saya turun di mata Anda dan penilaian baik Anda terhadap saya memudar. Itulah ketakutan yang Anda lihat, karena saya tidak pernah ingin membawa apa pun kepada Anda selain kebahagiaan."
Ia berterima kasih kepada Trump, menyebutnya sebagai "Penjaga dan Pelindung" dalam hidupnya. Pada surat kedua, Harp menulis lebih intim tentang momen bersama di lapangan golf yang membuatnya lepas sejenak dari rutinitas peran sebagai "Human Printer".
"Kita bisa berada di lapangan, tanpa perangkat apa pun, bahkan lupa pukul berapa saat itu! Saya tidak harus menjadi 'Human Printer'. Saya bisa meluangkan waktu untuk menikmati percakapan yang menyenangkan dan tetap menyelesaikan semua pekerjaan saya pada akhir hari. Bahkan, saya punya waktu untuk berjalan-jalan lama pada pagi dan sore hari sambil menikmati setiap matahari terbit dan terbenam, meskipun saya memang lupa makan dan tidur!"
Harp menyinggung suasana hati yang "sedikit negatif" dan mengaku tidak menyadari dirinya mendekati titik kelelahan berat.
"Saya sama sekali tidak menyadari betapa cepatnya saya mendekati titik burnout dan mulai iri kepada mereka yang satu-satunya 'pekerjaan' tampaknya hanya berbicara dengan Anda dan tampil cantik. Saya ingin pekerjaan itu!!"
"Sering kali, saya hanya berusaha tetap bertahan menghadapi begitu banyak hal yang masuk untuk Anda sampai saya terlihat bungkuk dan tidak sempat merapikan diri. Setidaknya Anda tahu seperti apa seharusnya penampilan saya!"
Harp, yang pernah menjadi presenter One America News Network (OAN), mengenang masa sebelum menjadi staf ketika Trump kerap meneleponnya. Ia menempatkan dirinya di antara posisi staf dan orang yang biasa diajak Trump berbincang santai.
"Saya selalu merasa berada di tengah-tengah, antara menjadi staf dan menjadi orang yang Anda senang ajak berbicara di pesawat atau saat makan malam. Dahulu, ketika saya masih menjadi 'pembawa acara', memang seperti itulah posisi saya bagi Anda, meskipun saya sebenarnya membenci pekerjaan itu."
"Saya berharap bisa mendengar setiap percakapan, karena saat itulah Anda bersenang-senang, menjauh sejenak dari semuanya, setidaknya selama beberapa saat."
Ia menyebut suratnya sebagai "analisis diri" dan menulis bahwa tujuannya adalah membuat Trump bangga.
"Dan tolong, ketika saya gagal, maukah Anda memberi tahu saya?"
"Anda sepenuhnya berhak memaki saya jika memang perlu, ketika saya pantas mendapatkannya, karena tidak ada seorang pun yang lebih mengenal atau lebih peduli kepada saya daripada Anda."
Menjelang akhir, Harp memodifikasi sebuah kutipan klasik untuk menggambarkan perasaannya, dan menutup surat dengan salam yang personal.
"Saya tidak mungkin berpisah dengan Anda demi siapa pun yang kurang layak."
"Dan saya akan menambahkan, justru sayalah yang tidak layak."
"Dengan sepenuh hati saya, Natalie."
"Always, Natalie."
Advertisement
Sorotan Keamanan dan Respons Gedung Putih
Isu keamanan nasional mengemuka seiring posisi Harp di Gedung Putih. David Axelrod, mantan penasihat senior Barack Obama, pada Kamis (20/8/2026) menyebut persoalan ini sangat serius.
Sorotan kian besar setelah pada Rabu (19/8) terungkap Harp selama setahun menolak menjalani pemeriksaan latar belakang keamanan. Ia disebut menjadi penghubung bagi para pemimpin asing yang ingin berkomunikasi dengan Trump, yang saat ini memimpin AS di tengah perang. Harp juga disebut memiliki akses ke akun Trump di platform Truth Social, sementara The Daily Beast menyoroti kemiripan gaya penulisan dalam surat-surat Harp dengan unggahan Trump—antara lain penggunaan huruf kapital acak dan tata bahasa tidak beraturan.
Gedung Putih membela Harp ketika dimintai tanggapan mengenai publikasi surat tersebut.
"Natalie Harp adalah salah satu ajudan paling loyal dan pekerja paling keras dalam tim Presiden Trump," tegas juru bicara Gedung Putih Davis Ingle.
"Serangan terus-menerus media palsu terhadap Presiden Trump dan pemerintahannya menunjukkan dengan tepat mengapa kepercayaan terhadap media berada pada titik terendah sepanjang sejarah. Media seharusnya kembali memberitakan berita yang sebenarnya dan berhenti mengulang-ulang narasi liberal yang terobsesi pada Trump."
Ingle juga menanggapi sindiran Senator Partai Demokrat Jon Ossoff pada Minggu (16/8) yang menyebut Trump hanya memikirkan "bepergian bersama Natalie".
"Jon Ossoff adalah anak teater yang feminin yang memilih untuk menaikkan pajak secara besar-besaran, memberikan layanan kesehatan gratis yang dibiayai pembayar pajak kepada imigran ilegal, serta memangkas pendanaan penegakan hukum imigrasi federal dan Patroli Perbatasan," sebut Ingle.
"Retorika Jon yang tak berbobot itu memalukan, tetapi rekam jejaknya dalam pemungutan suara yang ekstrem berbahaya."
Di lingkungan kerja, kekhawatiran terhadap pengaruh Harp terhadap Trump juga disampaikan Michael Wolff dalam episode terbaru podcast Inside Trump’s Head.
"Hubungan seperti ini bukanlah hubungan yang seharusnya ada dalam lingkungan profesional," ujar Wolff.
"Para ajudan di sekitar Donald Trump tahu bahwa ia menghabiskan terlalu banyak waktu bersama Natalie Harp, bahwa pengaruh Harp semakin besar dan pengaruh itu tidak didasarkan pada apa pun. Dia tidak punya pengalaman," tutur Wolff.
Selain akses dan pengaruh, Harp diketahui menerima gaji US$ 150.000 per tahun atau sekitar Rp 2,6 miliar dan berkantor tepat di luar Ruang Oval.
Advertisement
Karier, Latar Keluarga, dan Catatan Tambahan
Harp dibesarkan di California dan pertama kali menarik perhatian Trump usai tampil di Fox News pada 2019. Dalam penampilan itu, ia menyebut undang-undang yang ditandatangani Trump setahun sebelumnya membantu pemulihannya dari kanker tulang. Sejumlah pakar kemudian mempertanyakan apakah undang-undang itu benar-benar dapat membantunya, mengingat pernyataan Harp di depan publik tentang rentang waktu penyakitnya.
Harp tampil di Konvensi Nasional Partai Republik 2020, bekerja di OAN hingga 2022, lalu bergabung sebagai asisten di tim Trump. Dalam catatan tambahan salah satu surat, ia menyinggung kondisi tangannya selama di Skotlandia dan Irlandia—foto-foto memperlihatkan bekas luka di tangan kanan dan perubahan warna pada jari-jarinya.
Harp menulis perjalanan tersebut terasa seperti "pulang ke akar", kendati The Daily Beast belum dapat memastikan apakah ia memiliki leluhur asal Skotlandia atau Irlandia. Saudara laki-lakinya, Preston, pernah mengatakan kepada CNN bahwa adiknya memiliki "obsesi yang tidak sehat" terhadap Trump. Ayahnya, Robert, seorang broker properti, meninggal karena bunuh diri pada 2020. Keluarga Harp dikenal sangat religius—ayahnya pernah belajar di Dallas Theology Seminary di Texas, ibunya, Jill, mempelajari pendidikan Kristen dan Alkitab di Wheaton College. Harp adalah lulusan Point Loma Nazarene University di San Diego, California, serta Liberty University di Lynchburg, Virginia.
Kematian sang ayah muncul kembali dalam salah satu surat Harp kepada Trump.
"Terima kasih karena selalu ada untuk saya. Saya tidak akan pernah melupakan ketika Anda membuat janji itu kepada saya setelah saya kehilangan Ayah."
"Saya tahu betapa bahagianya dia sekarang karena saya akhirnya bisa pergi ke Skotlandia dan Irlandia, seperti yang selalu ia inginkan untuk saya."
Tanda tangan pada surat tersebut dibubuhkan menggunakan spidol Sharpie.