Trump Kritik The Fed soal Suku Bunga, Sampai Bandingkan dengan Swiss

Trump mengkritik The Fed usai menahan suku bunga. Ia menyebut adanya dewan politik dan membandingkan Swiss dengan AS.

Thurfah Mahira Ahnaf
Oleh Thurfah Mahira Ahnaf - Reporter
Trump Kritik The Fed soal Suku Bunga, Sampai Bandingkan dengan Swiss
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 3 Maret 2026.(Dok. AP/Mark Schiefelbein)

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengkritik Federal Reserve (The Fed) usai bank sentral itu kembali tidak memangkas suku bunga pada Rabu (19/8/2026). Ia menilai suku bunga tinggi merugikan AS dan meminta kebijakan yang lebih longgar meski data ekonomi dinilai solid.

Pada Jumat (21/8/2026), Trump menyebut ada nuansa politik dalam pengambilan keputusan The Fed. Dilansir dari CNBC, ia menilai keputusan suku bunga tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan teknis.

"Masalahnya adalah dia memiliki dewan, dan itu adalah dewan politik," kata Trump kepada wartawan, dikutip dari CNBC, Jumat (21/8/2026).

Sebelumnya, ia pernah menuding sebagian pejabat The Fed memiliki motif politik.

Trump Soroti 'Dewan Politik' di The Fed

Trump mengeklaim komposisi dewan—hasil penunjukan lintas pemerintahan—mempengaruhi arah kebijakan suku bunga. Ia menyinggung penunjukan era Barack Obama, Joe Biden, dan dirinya sendiri.

"Orang-orang yang ditunjuk oleh Obama, Biden, dan saya, serta beberapa anggota lain, seperti yang Anda pahami, sehingga mereka bersuara untuk menaikkan suku bunga. Saya tidak tahu apakah mereka melakukannya karena mereka pikir itu adalah hal baik atau karena mereka menyukai aspek politiknya."

Di sisi lain, Trump memuji Ketua The Fed Kevin Warsh yang ia nominasikan pada awal tahun ini. Warsh mulai menjabat sejak Mei, menggantikan Jerome Powell—yang kerap dikritik Trump karena dianggap lambat menurunkan suku bunga. Powell kini tetap berada di dewan sebagai gubernur. Trump menyebut Warsh melakukan "pekerjaan hebat".

Pemangkasan Bunga Dinilai Belum Cukup

The Fed belum pernah menaikkan suku bunga acuan lebih dari tiga tahun terakhir. Pada 2025, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memangkas suku bunga sebanyak tiga kali pada akhir tahun, setelah tiga kali penurunan pada tahun sebelumnya.

Kendati demikian, laju pemangkasan itu dinilai Trump belum memenuhi kebutuhan perekonomian. Ia berpendapat pemotongan suku bunga diperlukan untuk menjaga pertumbuhan dan menekan beban pembiayaan utang pemerintah yang mendekati US$ 40 triliun atau sekitar Rp 710.000 triliun (asumsi kurs Rp 17.750 per dolar AS).

"Intinya, 25 tahun lalu, ketika negara mengumumkan data ekonomi yang bagus, suku bunga turun karena kita punya negara yang lebih kuat," kata Trump.

"Sekarang, ketika kita mengumumkan data yang bagus, makin bagus datanya, makin buruk dampaknya bagi suku bunga."

Bandingkan AS dengan Swiss, Sentil Tingkat Bunga

Pada kuartal kedua, ekonomi AS tumbuh 1,5% secara tahunan (year-on-year), di bawah ekspektasi dan melambat dibanding 2,1% pada tiga bulan pertama tahun ini.

Trump juga menyoroti perbandingan dengan negara lain. Ia menyebut Swiss memiliki suku bunga acuan di sekitar nol karena menghadapi inflasi sangat rendah serta penguatan mata uang safe-haven.

"Saya melihat negara-negara seperti Swiss yang memiliki suku bunga terendah, hanya setengah persen, sementara kita membayar tiga setengah persen," katanya.

"Saya memiliki hak mutlak untuk menghentikan semua bisnis dengan negara seperti Swiss."

Meski demikian, Trump mengatakan tidak melihat masalah pada pasar obligasi AS, walau ia menilai suku bunga saat ini tidak adil karena terlalu tinggi.

Risalah FOMC dan Kebijakan Obligasi

Komentar Trump disampaikan pada hari yang sama FOMC merilis risalah pertemuan Juli. Dilansir dari CNBC, ringkasan itu menunjukkan banyak pejabat memperkirakan kenaikan suku bunga akan diperlukan kecuali inflasi menunjukkan kemajuan yang lebih besar.

Sejak pertemuan tersebut, data inflasi cenderung positif, meski laju tahunan masih jauh di atas target 2% The Fed.

Adapun pada Rabu, Departemen Keuangan AS mengumumkan akan meningkatkan program pembelian kembali obligasi (buyback). Langkah ini diambil setelah lonjakan penerbitan utang berjangka panjang, dengan buyback secara khusus menargetkan tenor minimal 10 tahun.

Rekomendasi