Separuh dari 2.500 kematian akibat wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) terjadi dalam 20 hari terakhir.
Kondisi tersebut menunjukkan penyebaran wabah yang semakin cepat di negara dengan wilayah hampir seluas Prancis itu.
Koordinator Senior PBB untuk Ebola di RD Kongo, Julien Harneis, mengatakan tambahan sumber daya sangat dibutuhkan untuk mengendalikan penyebaran penyakit tersebut.
Hal itu disampaikan Harneis dalam konferensi pers di Jenewa, seperti dikutip RIA Novosti dalam laporannya dari Moskow, Jumat.
Menurut Harneis, wabah terjadi di wilayah yang telah dilanda konflik bersenjata selama tiga dekade. Kondisi tersebut turut meningkatkan kebutuhan terhadap bantuan kemanusiaan.
Institut Kesehatan Masyarakat Nasional RD Kongo melaporkan jumlah kasus Ebola terkonfirmasi mencapai 5.208 kasus hingga Kamis (20/8). Dari jumlah tersebut, 2.476 orang meninggal dunia.
Wabah yang diumumkan pada 15 Mei itu disebut berbeda dari sebagian besar wabah Ebola sebelumnya.
Hal tersebut karena wabah kali ini disebabkan patogen baru bernama Bundibugyo, yang belum memiliki vaksin maupun pengobatan yang disetujui.