Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah lanskap kerja di Asia Timur dan Pasifik, menurut laporan Pembaruan Ekonomi Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik (EAP). Namun, perubahan itu belum tampak sebagai penghapusan pekerjaan secara besar-besaran.
Laporan tersebut menyebut AI sejauh ini belum memberikan dampak signifikan terhadap pekerjaan yang dapat diotomatisasi. Di sisi lain, perusahaan semakin mencari talenta dengan kemampuan terkait AI, keterampilan analitis, serta kecakapan sosial.
Seiring meluasnya adopsi AI di kawasan, Bank Dunia memproyeksikan perekonomian Asia Timur dan Pasifik tumbuh 4,5% pada 2026.
Di tengah tren itu, kapasitas pekerja untuk menjalankan tugas yang menuntut penalaran dan penilaian kompleks masih terbatas. Hanya 13% pekerjaan di kawasan yang termasuk kategori tersebut, jauh di bawah negara-negara maju yang mencapai 39%. Tantangan yang muncul bukan semata apakah teknologi menggantikan manusia, melainkan bagaimana pekerja beradaptasi dengan kebutuhan baru perusahaan.
Advertisement
Bank Dunia: Pekerja Harus Beradaptasi di Era AI
Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Carlos Felipe Jaramillo, menilai kawasan memiliki modal penting untuk memetik manfaat dari perkembangan AI.
"Integrasi mendalam kawasan Asia Timur dan Pasifik pada rantai nilai global serta dinamika ekonominya telah menempatkan kawasan ini pada posisi yang tepat untuk memperoleh manfaat dari lonjakan aktivitas global terkait AI," kata Carlos Felipe Jaramillo, Selasa (6/10/2026).
Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan keunggulan kawasan dalam memproduksi barang terkait AI juga diikuti penggunaan teknologi tersebut secara luas.
"Tantangannya saat ini adalah mengubah keunggulan kawasan ini dalam memproduksi barang-barang terkait AI menjadi adopsi AI yang luas, yang dapat meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dan lebih baik bagi jutaan orang. Jika negara-negara EAP bertindak berani sekarang, AI dapat menjadi mesin yang kuat untuk membuka peluang, meningkatkan pendapatan, dan mewujudkan masa depan yang lebih sejahtera bagi semua."
Bank Dunia menilai negara-negara di kawasan tidak harus langsung menciptakan teknologi AI sendiri. Dalam jangka pendek, manfaat terbesar justru dapat diperoleh melalui "AI Kecil", yakni mengadopsi dan menyesuaikan teknologi yang sudah tersedia.
Penggunaan AI yang lebih terjangkau dan berbasis bahasa lokal dapat dikembangkan di sektor seperti pariwisata dan agribisnis yang menyerap banyak tenaga kerja.